INILAH.COM, Jakarta - Kondisi perekonomian global yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan direspons aktif oleh sektor perbankan nasional. Di antaranya mulai gencarnya sektor perbankan berlomba-lomba menyalurkan kredit pada sektor properti.
Langkah aktif juga dilakukan bank sentral. Di antaranya dengan melakukan sekuritisasi atau dengan menggagas efek beragun aset kredit yang dinilai masih kurang optimal. Dari data yang dimiliki oleh Bank Indonesia, kredit konstruksi per Desember 2008 mencapai Rp 48 triliun. Lalu, kredit real estate Rp 28 triliun, dan KPR Rp 122 triliun.
Namun demikian, krisis finansial juga berdampak pada proses prosedur pencarian. Di antaranya menyangkut tingginya uang muka (UM) yang harus dibayar ke Bank penyalur KPR (kredit kepemilikan rumah). Sebelum krisis, porsi uang muka yang disyaratkan hanya 10%, setelah krisis finansial, demi kehati-hatian bank mensyaratkan uang muka 30%.
Akibatnya, berbagai faktor yang menghimpit tersebut membuat masyarakat semakin kesulitan untuk membeli properti yang mereka inginkan. Di lain sisi masih ada peluang karena tren penurunan suku bunga diharapkan turut berdampak pada positioning bunga KPR perbankan.
Pengamat properti Panangian Simanungkalit mengemukakan bahwa saat ini memang ada harapan yang muncul dari pembiayaan lebih murah dari sektor properti karena BI rate telah dikoreksi hingga 100 basis poin sejak akhir tahun lalu.
"Kalangan properti sendiri memperkirakan bahwa posisi BI rate pertengahan tahun nanti bisa 7,5% dan berdampak positif pada pembiayaan sektor properti," jelasnya di Jakarta, kemarin.
Pencapaian sektor properti tahun ini diperkirakan bisa tumbuh 30% dari realisasi tahun lalu. Ini berarti meningkat dari posisi tahun sebelumnya yang hanya 25%. Kalau dihitung, porsi kredit properti tahun lalu itu yang mencapai Rp 202 triliun, terdapat pertumbuhan kredit Rp 40 triliun.
Panangian menjelaskan bahwa idealnya posisi suku bunga KPR bisa berada di level 11%. "Saat ini suku bunga KPR masih berada di level 13-14%. Sebenarnya awal bulan suku bunga kredit properti sudah dikoreksi setengah persen. Namun dengan tren penurunan suku bunga BI rate maka posisi bunga kredit properti akan kembali menyesuaikan," lanjutnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kini pengembang lebih fokus melakukan konsolidasi daripada melakukan ekspansi proyek properti besar-besaran. "Mereka menunggu pulihnya kondisi daya beli masyarakat dan turunnya suku bunga perbankan," imbuhnya.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Fuad Zakaria menilai bahwa krisis global mengguncang industri properti nasional.
Setidaknya penjualan rumah segmen menengah ke bawah turun 50%. Solusinya, pengembang fokus membangun rumah sederhana sehat (RSh) bersubsidi. "Secara umum pemasaran perumahan yang kita bangun turun 50%, terutama untuk yang KPR," ungkapnya.
Menurut Fuad, pasar properti di Tanah Air masih sangat besar. Jika dihitung-hiutng setidaknya terjadi back log (kesenjangan permintaan dan penyediaan rumah) 5 juta unit.
Jadi kalaupun pengembang terus membangun maka akan terserap oleh pasar. "Masalahnya sekarang ini bank enggan menyalurkan kreditnya karena sedang kesulitan likuiditas," terangnya.
Oleh karena itu, di tengah tantangan dan peluang tersebut, pemerintah dan bank sentral harus berkolaborasi untuk menciptakan daya beli dan mendorong penyaluran kredit properti. Pengembang tersenyum bisnisnya bertahan disaat krisis dan masyarakat juga gembira karena punya rumah tak lagi hanya mimpi. [E1]