INILAH.COM, Jakarta - Lambang PKS yang dimodifikasi menjadi lambang komunis oleh seorang pengguna situs pertemanan Facebook hanyalah tindakan orang iseng. Namun, kreativitas seperti itu bukan berarti bisa dilakukan secara bebas tanpa batas.
"Kreativitas yang merusak harus dibatasi," kata pakar komunikasi politik Universitas Indonesia Dedy Nur Hidayat, saat berbincang dengan INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (26/2).
Lambang PKS yang dibuat oleh seseorang berinisial MA itu mengubah sejumlah bagian di logo PKS. Gambar sepasang bulan sabit yang mengapit padi diubah menjadi sepasang palu arit. Lalu pada kotak hitam bagian atas, tulisan 'Partai Keadilan' diubah menjadi 'Partai Komunis'. Sedangkan tulisan 'Sejahtera' di bagian bawah tetap dipertahankan.
Dedy menilai, pembuat lambang tersebut mungkin memiliki sesuatu hal yang tidak disukai dari PKS. "Hal ini terjadi juga terhadap Obama yang ketika kemarin itu dipelesetkan menjadi Osama," katanya.
Dedy tidak melihat tersebarnya lambang 'palu arit' PKS tersebut sebagai cara untuk menjatuhkan pamor PKS menjelang Pemilu. Sebab, kampanye hitam itu, lanjutnya, merupakan usaha sistematis dari lawan-lawan politik dengan cara yang tidak adil."Ini wajar terjadi menjelang pemilu. Meski ini tidak benar. Bisa dituntut," pungkasnya. [bar]