INILAH.COM, Jakarta Sejumlah blok muncul berkaitan dengan Pilpres 2009. Yakni Blok M (Megawati), Blok S (SBY), dan Blok A (alternatif). PKS sendiri mengaku hingga kini masih tidak memihak blok-blok yang ada. Apa benar?
"Perpolitikan saat ini makin panas. Yang tadinya hanya Blok S dan Blok M, sekarang ada Blok J (Jusuf Kalla). PKS Non Blok. Kini hadir capres Hidayat Nur Wahid, karena itu yang diusung PKS. Tapi bisa kompromi," ujar Presiden PKS Tifatul Sembiring, yang mengundang tawa riuh pengunjung diskusi 'Ke Arah Mana Koalisi Pasca Pemilu Legislatif 2009', di DPP PKS, Jakarta, Kamis (26/2).
Tifatul melanjutkan, Kalla dinilainya memiliki pemikiran ekonomi yang bisa mengatasi krisis yang tengah terjadi." Karena harus diserahkan kepada ahlinya. Kita perlu berdiskusi mengenai koalisi. Tak kenal maka tak sayang," ucapnya.
Sementara Kalla mengatakan, sejarah Indonesia selalu berulang. Awalnya, Indonesia hanya dideklarasikan atas nama dua orang. Kemudian timbul partai-partai, yang dilanjutkan demokrasi liberal, sehingga mengakibatkan banyak kabinet jatuh.
"Kemudian, Orde Baru yang awalnya multipartai, kemudian otoriter. Sekarang banyak lagi. Jadi berulang-ulang," paparnya.
Menyadari banyaknya jumlah partai yang ada saat ini, lanjut Kalla, maka harus ada koalisi. Sebab, dengan jumlah partai yang 38, akan sangat sulit mencapai 50%.
"Kalau dulu hanya tiga partai, itu sangat mudah. Koalisi harus mempunyai kesepakatan lebih dulu. Yakni kesejahteraan rakyat. Itu yang ingin dicapai semua rakyat," tegasnya. [nuz]