INILAH.COM, Jakarta - Wapres Jusuf Kalla menegaskan bahwa dalam hal memutuskan harga BBM, pemerintah memerlukan perhitungan cermat dan mengacu pada banyak faktor, sehingga tidak hanya berpatokan pada harga minyak dunia.
"Selalu saya katakan, mengenai kebijakan pemerintah yang menaikkan dan menurunkan harga BBM itu tergantung pada harga minyak dunia, kurs rupiah, dan besaran subsidi," kata Wapres Kalla dalam konferensi pers usai salat Jumat di Istana Wakil Presiden Jakarta.
Dengan perhitungan seperti itu, ujar Kalla, keputusan untuk menaikkan atau menurunkan harga BBM itu membutuhkan waktu.
Pemerintah tidak bisa memastikan langsung begitu saja menaikkan atau menurunkan harga BBM, tegasnya.
"Kita punya besaran subsidi, kita menurunkan harga BBM jangan seperti jual sayur. Prosesnya bisa tiga hari. Sayur itu kan dipetik dan dijual ke pasar dengan mudah saja, sementara BBM itu kan harus dirata-ratakan harganya," tutur Wapres.
Wapres juga menyebutkan bahwa dampak pergerakan harga itu tahunan, bukan harian. Jadi tidak ada yang menjamin sekarang turun dan besok naik. "Jadi intinya, pemerintah melihat harga asumsi tahunan," tandasnya.
Belakangan muncul wacana bahwa harga BBM bisa diturunkan lagi setelah harga minyak mentah dunia terus merosot dan berada di bawah level US$ 40 per barel. Namun, pada perdagangan semalam di New York, harga emas hitam ini kembali melambung di kisaran US$ 45 per barel.
Saat ini harga BBM jenis premium ditetapkan sebesar Rp 4.500 per liter, demikian juga dengan solar. [tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !