INILAH.COM, Jakarta Pasca kesediaan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi presiden, dinilai dapat mengganggu jalannya pemerintahan. Bahkan, beberapa menteri yang tergabung dalam kabinet Indonesia bersatu tersebut akan mundur satu-persatu.
Menurut Ketua Majelis Syuro PBB, Yusril Ihza Mahendra, Kabinet SBY diprediksi akan mengulangi nasib yang sama seperti pada 2004 dimana presidennya Megawati Soekarnoputri. Ketika itu para menteri sibuk mengusung presidennya masing-masing.
"Saya kira kabinet dan SBY tahu sama tahu lah," ujar mantan Ketua umum PBB ini usai diskusi "Parpol bicara Perppu Pemilu", di DPR, Jakarta, Jumat (27/2).
Dituturkan mantan menteri Kehakiman dan HAM ini, kejadian pada 2004 bisa saja terulang kembali. Apalagi ketika itu, Megawati mengizinkan, menteri-menterinya untuk mendukung capres yang diusung.
"Saya yang meneken pencalonan SBY, tapi saya tetap di kabinet. Pada waktu itu saya bilang ke Ibu Mega dan Ibu Mega bilang tidak apa-apa, tetapi kerja di kabinet harus tetap utuh. Jadi soal keutuhan kabinet tergantung kebijaksanaan presiden yang memerintah sebagai incumbent dalam pilpres," bebernya.
Ia juga mengatakan, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari kabinet multi partai. Sebab mau tidak mau harus diberikan izin untuk melakukan kampanye bagi partai masing-masing.
"Seperti kita lihat di pengalaman lalu, zaman Ibu Mega dan pak Hamza Haz juga beberapa menteri berkampanye," imbuh mantan Mensekneg ini.
Namun saat ini, Yusril menambahkan, bagaimana kebijakan SBY bila menteri-menterinya tidak mendukung dirinya sebagai capres. Karena, sampai saat ini para menteri belum menunjukan keberpihakannya pada capres tertentu. "Saya belum melihat sikap untuk ini," cetusnya. [win/jib]