INILAH.COM, Jakarta - Bangsa Yahudi menanamkan akar di semua bidang kehidupan di seluruh dunia. Bangsa yang tadinya diremehkan ini, tanpa disadari mulai menguasai dunia. Perlahan tapi pasti, industri perfilman AS di Hollywood pun berada dalam genggaman mereka.
Pengaruh Yahudi di Hollywood tidak sembarangan masuk, semua berawal ketika 1947. Saat itu, ada sebuah komite anti-Amerika yang berusaha menyuntikkan pengaruh Marxisme ke dalam industri tersebut. Di antara anggota komite itu adalah Yahudi.
Kendati beberapa pelaku industri berusaha menyelamatkan keaslian budaya AS itu, beberapa lainnya tetap berusaha memasukkan budaya mereka ke dalam Hollywood. Akhirnya beberapa kalangan malah percaya, Yahudi-lah yang menciptakan Hollywood. Apalagi, banyak pengusaha mereka yang mulai menanamkan benih di tanah impian itu.
Misalnya Yahudi Rusia, Marcus Loew yang mendirikan Loews Pictures serta Louis B Mayer dan Samuel Goldwyn yang mendirikan cikal bakal studio besar Metro-Goldwyn Mayer (MGM). Tak mau kalah, orang Yahudi lainnya, Barney Balaban meluncurkan Paramount dan Harry Cohen mendirikan Columbia Pictures.
Lagi-lagi Yahudi, William Fox memulai perusahaan yang ia sebut Twentieth Century Fox. Sementara empat bersaudara yang Yahudi imigran Polandia, Jack, Samuel, Albert, dan Harry Warner sudah berada di Hollywood sebagai pemilik studio Warner Brothers.
Kini, bibit yang mereka tanamkan itu telah tumbuh kuat. Bangsa Yahudi duduk di posisi kunci yang memperkuat dominasi mereka di industri yang menyumbangkan hampir 75% permasukan negara bagian California itu.
Misalnya, Larry Tisch yang Yahudi memiliki 25% saham salah satu stasiun televisi terbesar AS, CBS, senilai US$ 4,66 miliar. Padahal, cukup dengan 10-20% saja ia sudah memiliki kendali penuh terhadap perusahaan itu. Tisch pun memberikan 'warna' Yahudi ke dalam tayangan CBS.
Hal yang sama terjadi pada stasiun televisi besar lainnya, ABC dan NBC. Program entertainment ABC kini dipegang dua orang Yahudi, Leonard Goldenson dan Stu Bloomberg. Sementara Presiden NBC, Leonard Grossman memilih Yahudi lainnnya Irvin Segelstein sebagai wakilnya serta Brandon Tartikoff, sebagai president of entertainment.
Berdasarkan data terakhir yang diperoleh pada 2008, sekitar 70% anggota serikat penulis Hollywood (WGA) adalah Yahudi. Lalu apa yang terjadi jika ada non-Yahudi ingin menulis naskah atau membuat film? Tak ada pilihan lain, mereka harus mau sedikit 'disetir' para dominator itu.
Bahkan ketika Sony Corp Jepang membeli studio Columbia Pictures dan Tri-Star pada 1989, mereka harus rela merogoh kocek hingga setengah miliar dolar untuk membiayai dua Yahudi muda, Jon Peters dan Peter Guber. Keduanya bertugas menjalankan perusahaan itu sebagai syarat penjualan perusahaan.
Dengan hanya menandatangani kontrak itu, Peters dan Guber menerima US$ 50 juta dan bonus masing-masing US$ 2,75 selama 5 tahun. Selain itu, Universal Pictures 100% dikuasai Yahudi, dengan Lew Wasserman sebagai Direktur MCA, perusahaan induknya. Direktur Universal masih juga Yahudi, Sidney Sheinberg.
MGM juga masih dijalankan keturunan Yahudi, Alan Ladd, Jr. Pemilik Fox TV, seorang Yahudi bernama Barry Diller. Bintang film Hollywood yang Yahudi pun tak kalah banyaknya. Mulai dari Zsa Zsa Gabor, Kevin Costner, Harrison Ford, Paula Abdul, Barbara Walters, Joan Collins, hingga Richard Gere sebelum menganut agama Budha Tibet.
Namun kini, 'pemberontakan' ala Hollywood untuk dominasi Yahudi sudah mulai terlihat. Film bertema Yahudi sudah mulai banyak dan rata-rata memposisikan Yahudi sebagai korban. Seperti Defiance, yang baru-baru ini main di bioskop tanah air. Dikisahkan dalam film itu, perjuangan Yahudi menyelamatkan diri dari Holocaust.
Bahkan aktris terbaik Academy Awards (Piala Oscar) Kate Winslet pun cukup 'muak' dengan Yahudi yang selalu menggunakan genosida 6 juta kaum Yahudi Eropa ketika Perang Dunia II itu sebagai alasan dominasi di Hollywood.
"Kita tak perlu membuat film mengenai holocaust lagi kan? Oke, kami mengerti dengan pesan itu, mari lanjutkan kehidupan. Sepertinya jika membintangi film mengenai masalah itu pasti mendapatkan Oscar. Saya ingin membuktikan hal itu salah, dengan Oscar ini," ujarnya yang memenangkan Oscar lewat drama Revolutionary Road.
Beberapa pengamat film Hollywood memang telah menyarankan untuk melanjutkan kehidupan dan memperlakukan holocaust sebagai sebuah kepingan sejarah. Namun hal itu tak akan mengurangi dominasi Yahudi di Hollywood. Jadi, jangan heran jika Anda masih saja melihat 'kepingan-kepingan' Yahudi di film Hollywood. [E1]