INILAH.COM, Teheran - Menyampaikan pesan politik melalui sebuah film sebaiknya hati-hati. Apalagi jika menyangkut bangsa lain dan kebudayaan mereka. Tapi apa daya, terkadang keinginan itu harus berbenturan dengan konsep komersial. Mana lebih penting?
Hollywood, sebagai pusat industri film AS yang juga merupakan kiblat perfilman dunia, sering mengalami hal itu. Tak heran, Hollywood adalah tempat segala macam ekspresi yang tertuang dalam sebuah film. Tentunya, selama hal itu menguntungkan produser dan seluruh kru yang terlibat.
Seperti yang baru-baru ini dihadapi pembuat film 300 dan The Wrestler. Dengan memasukkan unsur-unsur Iran, rupanya film itu membuat berang negara yang bersangkutan. Tim yang terdiri dari para bintang film, official, termasuk aktris senior Annette Bening, tak menduga bahwa ternyata penikmat film di Iran tak suka dengan tayangan itu.
Penasihat seni dan sinema Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Javad Shamaqdari mengungkapkan, tim yang terdiri dari sembilan orang itu harus meminta maaf kepada negaranya. Ia mengancam, jika tak ada permintaan maaf, tak ada gunanya tim perfilman Iran menemui mereka.
"Menurut saya, tak ada gunanya mengadakan pertemuan resmi dengan pihak yang menyinggung kami," ujar Shamaqdari kepada Associated Press, Minggu (1/3). Apa sih sebenarnya yang membuat insan perfilman Iran tesinggung berat?
Dalam film 300, dikisahkan pertempuran Thermopylae pada 480 sebelum masehi. Ketika itu, pasukan Sparta yang hanya terdiri dari 300 orang berbadan kekar menghadapi ribuan pasukan Persia (nama Iran dulu). Selama tiga hari mereka bertempur di jalan menuju gunung, tak jauh dari Yunani.
Penggambaran atas bangsa Iran membuat mereka menghujat film yang dibintangi oleh Gerard Butler itu. Bagaimana tidak, mereka digambarkan sebagai manusia dengan moral yang merosot, flamboyan secara seksual, dan jahat. Berlawanan dengan penggambaran bangsa Yunani yang sangat terhormat.
Sementara dalam film The Wrestler, dibintangi aktor veteran Mickey Rourke sebagai pegulat profesional. Di tengah karirnya yang merosot, ia mempersiapkan pertarungan dengan musuh bebuyutannya yang bernama 'The Ayatollah'.
Dalam sebuah adegan, 'The Ayatollah' mencoba mencekik Rourke dengan bendera Iran. Rourke berhasil membebaskan dirinya dari belitan bendera itu dan menariknya. ia menyobek bendera itu dari tiangnya dan melemparnya ke arah penonton. Kedua film itu dilarang tayang di Iran.
Hollywood bukan pertamakalinya menghadapi kecaman dari bangsa lain. Bahkan Indonesia pun pernah melakukan hal serupa. Pada akhir 1970-an, film berajuk The Year of Living Dangerously yang dibintangi Mel Gibson dan Sigourney Weaver dilarang syuting dan tayang di Tanah Air.
Film itu mengisahkan pemerintahan Indonesia dengan segala intriknya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Seperti biasa, Hollywood mengungkapkannya dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.
Akhir-akhir ini, Hollywood pun mulai mengubah cara memandang bangsa Yahudi. Tadinya selalu dikisahkan sebagai ras unggul, dalam film terbaru mereka malah diungkapkan perjuangan mereka untuk selamat dari holocaust atau genosida terhadap 6 juta Yahudi Eropa pada Perang Dunia II oleh Nazi.
Dengan segala kreativitas dan makin berkembangnya jaman, kritikan tajam tampaknya masih akan diterima Hollywood. Sebab, masih banyak bangsa lain yang belum mereka gali. Keuntungan komersial selalu dianggap lebih penting bagi studio-studio raksasa itu. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !