INILAH.COM, Jakarta - Proyek palapa ring kemungkinan besar akan dirampingkan, dari rencana awal menjangkau 21 kabupaten/kota di Indonesia bagian timur menjadi susut. Hal itu disebabkan depresiasi nilai investasi dalam rupiah berhubungan dengan krisis finansial global.
"Informasi dari konsorsium yang terakhir kami terima palapa ring tidak akan sama seperti disain awal akibat efek krisis global," kata Kepala Pusat Informasi Departemen Komunikasi dan Informatika, Gatot S Dewo Broto, di Jakarta, Senin (2/3).
Proyek tersebut terkendala persoalan utama, yaitu depresiasi nilai rupiah untuk investasi konsorsium yang mengacu dalam rupiah.
Semula, jumlah dana yang dimiliki konsorsium proyek tersebut sebesar US$ 180,4 juta namun saat ini menyusut menjadi hanya sekitar US$ 150,9 juta. "Inilah yang menjadi kendala yaitu nilai investasi yang terdepresiasi. Dalam kasus seperti ini pemerintah juga tidak bisa memaksa kepada anggota konsorsium," katanya.
Saat ini anggota konsorsium tengah menghitung ulang investasi untuk proyek tersebut termasuk mempertimbangkan disain yang memungkinkan.
Untuk menutup penyusutan investasi yang mencapai US$ 30 juta tersebut ada dua opsi yang dipilih. Pertama, pembebasan pajak bea masuk impor perangkat infrastruktur Palapa Ring. Kedua, mencari pinjaman dari negara lain.
Pembebasan bea masuk, akan turut meringankan beban dengan memberi kontribusi sekitar 15-20 persen dari US$30 juta.
Soal keringanan pajak tersebut, Gatot mengaku pihaknya belum mendapatkan jawaban dari Menteri Keuangan terkait dengan pengajuan surat kepada Menteri Keuangan bernomor 315/M.Menkominfo/12/2008 tanggal 18 Desember 2008 tentang dukungan sektor terhadap permohonan pembebasan bea masuk dan pajak-pajak dalam rangka impor Palapa Ring.
Sebelumnya, konsorsium Palapa Ring mengajukan permohonan insentif kepada pemerintah c.q. Menteri Keuangan melalui surat tertanggal 31 Oktober 2008 untuk fasilitas permohonan pembayaran biaya pajak dalam rangka impor proyek Palapa Ring.
Selain itu, mundurnya waktu pesan untuk perlatan dari negara-negara produsen juga akan berakibat pada tertundanya proyek tresebut.
"Order alat dari luar negeri itu waiting list-nya lama, jadi tidak bisa hari ini pesan besok diantar," katanya.
Meskipun begitu, pemerintah tetap berharap proyek palapa ring dapat terealisasikan tahun ini.
Proyek Palapa Ring merupakan proyek strategis inisiatif pemerintah yang didanai oleh konsorsium yang beranggotakan PT Telekomunikasi Indonesia, PT Indosat, PT Exelcomindo Pratama, dan PT Bakrie Telecom.
Proyek tersebut membutuhkan investasi sebesar US$ 180,4 juta dengan konfigurasi panjang jaringan 4.450 km terdiri dari 3.850 km submarine cable dan 600 km inland cable. Sementara jumlah landing point 15 dan direncanakan bakal melintasi 21 kabupaten/kota di Indonesia bagian timur.
Dalam proyek itu, pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator sedangkan pelaksanaan dilakukan melalui tender yang dikerjakan oleh konsorsium.[*/ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !