INILAH.COM, Jakarta - Saat krisis, dividen tak lagi menjadi daya tarik investor saham. Capital gain menjadi pilihan karena dinilai lebih menguntungkan. Emiten pun lebih memilih menginvestasikan dividennya daripada membagikannya kepada pemegang saham.
Analis Panca Global Securities Betrand Raynaldi mengatakan, kebijakan pembagian dividen sangat tergantung kepada manajemen emiten masing-masing. Pasalnya, bagaimanapun merekalah yang lebih tahu terhadap kondisi keuangan perusahaannya.
Namun demikian, lanjut Betrand, dalam kondisi krisis ekonomi saat ini, cost of fund perseroan menjadi sangat mahal. "Menahan dividen menjadi salah satu solusi mengatasi kesulitan permodalan di perseroan," ujar Betrand, kepada INILAH.COM, di Jakarta semalam.
Ia memaparkan, mencari pendanaan melalui pinjaman bank bukan pilihan yang baik mengingat tingginya tingkat suku bunga. Dalam kondisi krisis, perseroan lebih baik mencari cara bagaimana mengurangi utang. Dengan mengurangi utang, berarti pula mengurangi beban perusahaan dari bunga.
Apalagi bagi emiten yang lebih banyak menggunakan utang, maka laverage-nya akan sangat besar. "Kalau laverage-nya besar, dia akan lebih cenderung untuk menahan dividennya," katanya.
Namun, lanjut Betrand, bagi perusahaan yang relatif bersih dari utang masih memungkinkan untuk membagikan dividen. "Tapi, bagi perseroan yang utangnya banyak seperti BUMI (PT Bumi Resources), akan memilih untuk menahan dividennya," paparnya.
Hanya saja, manajemen perseroan harus menjelaskan kepada pemegang saham mengapa tidak membagikan dividen, agar tidak berpengaruh negatif terhadap harga sahamnya. Betrand mencontohkan kondisi perusahaan yang sedang sulit. "Buat cari pinjaman juga agak susah, sementara perusahaan akan ekspansi," imbuhnya.
Menurutnya, dengan cara menahan dividen dan diinvestasikan, maka perseroan akan mendapatkan imbal hasil investasi. Jika imbal hasil misalnya 20%, lebih baik dividen ditahan dibandingkan perseroan harus mengutang ke bank yang bunganya mahal. "Semuanya tergantung pada bagaimana manajemen menjelaskannya," terangnya.
Sedangkan dari sisi investor, selama ini faktor capital gain dan dividen menjadi pertimbangan saat membeli atau mengoleksi saham. Namun, dalam kondisi sekarang, capital gain susah diharapkan seiring pergerakan pasar yang tipis.
Akibatnya, investor pun melirik dividen. Namun, jangan lupa, dividen juga akan terkena pajak. "Pada akhirnya, lebih banyak investor yang senang capital gain daripada dividen," imbuhnya.
Betrand mencontohkan emiten PT Telkom (TLKM) memberikan dividen Rp 500 per lembar sahamnya. Jika pajaknya 20% maka investor hanya menerima Rp 400 per lembar sahamnya.
Jika harga TLKM terangkat menjadi Rp 5.000 akibat sentimen pembagian dividen, keesokan harinya akan terkoreksi. Betrand mencontohkan terkoreksi menjadi Rp 4.500 sementara dividen yang diterima pemegang saham hanya Rp 400 setelah dipotong pajak, maka investor lebih baik mendapatkan capital gain daripada dividen.
Dengan demikian, dividen saat ini tidak lagi menjadi acuan bagi investor untuk berinvestasi. Sedangkan untuk investor jangka panjang, Betrand mengakui masih mengharapkan dividen. Pasalnya, dividen yang mereka dapatkan bisa diivestasikan kembali.
Betrand mengingatkan, investor yang membeli saham hanya karena pengumuman dividen, bukan berarti mengharapkan dividen. Mereka sebenarnya lebih mengharapkan capitaal gain. Setelah itu, mereka akan melepas sahamnya.
"Untuk saat ini, investor jangan terlalu melihat dividen, tapi melihat pertumbuhan dan fundamentalnya sebuah emiten seperti apa. Meskipun dividen itu memang perlu," pungkasnya.
Ditanya emiten sektor apa yang berpeluang membagikan dividen? Betrand mengatakan perbankan dan telekomunikasi seperti TLKM, EXCL, ISAT, dan BTEL. ISAT dan TLKM merupakan BUMN yang setiap tahun harus memberikan dividen. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !