INILAH.COM, Jakarta - Habis Ahmad Dhani terbitlah Poros Bumi. Itulah sepenggal kisah tentang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam mencari perhatian publik. Inikah jalan pintas PKB menaikkan citra menjelang pemilu?
Hampir tiga bulan terakhir, PKB memang rajin meluncurkan letupan politik. Sayangnya, letupan-letupan itu tak berdaya tinggi. Bila dirunut, manuver PKB ini memang hanya menimbulkan letupan berdaya rendah.
Simak saja soal gagasan konvensi yang rencananya digelar akhir tahun lalu. Konvensi belum terealisasi, muncul lima capres versi PKB. Lucunya, Muhaimin Iskandar masuk di dalamnya.
Tak genap sepekan wacana lima capres PKB dirilis, muncul wacana pencalonan Ahmad Dhani, musisi pentolan Dewa 19, sebagai cawapres Muhaimin Iskandar. Namun, sayang Ahmad Dhani dingin merespons wacana itu. Manuver politik PKB pun nyaris tak memiliki kekuatan daya tinggi.
Sepekan kemudian, persisnya Rabu (4/3) ini, muncul wacana baru: Poros Bumi. Kaukus politik yang bermuara dari pencalonan pasangan Sultan HB X dan Muhaimin Iskandar ini konon cukup serius digarap. Alasannya capres yang beredar saat ini adalah wajah lama, seperti SBY, Megawati, dan Jusuf Kalla.
Figur Sultan dan Muhaimin diyakini menjadi representasi wajah baru. "Sultan-Muhaimin adalah pasangan ideal. Gabungan antara dua generasi muda. Keduanya cerdas dan mempunyai kharisma serta memiliki kemampuan dan pemikiran yang cemerlang," kata Helmy Faisal, Rabu (4/3) di Jakarta.
Meski demikian, pernyataan Helmy terkesan bersayap. Menurut pria asal Cirebon ini, pencalonan Sultan-Muhaimin bukan untuk menutup peluang capres lainnya. Tidak pula dimaksudkan sebagai upaya untuk meninggalkan pemerintahan SBY. Helmy menegaskan, SBY pasti cukup paham dengan situasi dalam kompetisi politik menjelang pemilu seperti sekarang ini.
Namun, serentetan manuver PKB Muhaimin ditanggapi sinis oleh pendukung PKB pro Gus Dur. Hermawi Taslim menilai ragam manuver PKB Muhaimin itu mencerminkan hilangnya eksistensi PKB dalam atmosfir politik nasional.
"PKB saat ini hilang dari atmosfir politik nasional. Kalau mau cari perhatian, seharusnya ya dengan prestasi," cetusnya kepada INILAH.COM Rabu (4/3) di Jakarta.
Lebih dari itu pria bertubuh tambun ini menilai, manuver PKB Muhaimin sama sekali tidak memilik dampak politik apa pun dalam peta politik Pemilu 2009. Bahkan Taslim menilai, manuver politik PKB Muhaimin tak ubahnya bukti bahwa Muhaimin tak punya pekerjaan. "Pak Muhaimin waktu luangnya banyak, sehingga bisa buat yang begini-begini (manuver politik, red)," tandasnya.
PKB pimpinan Muhaimin Iskandar memang harus tancap gas gigi empat. Dalam karut marut pertemuan dan lobi politik, PKB nyaris tak masuh perhitungan partai politik lainnya.
Kondisi ini kontras dengan Pemilu 2004 lalu. Apalagi, dalam berbagai survei, suara PKB anjlok lebih dari 50% dibanding Pemilu 2004. Seperti survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Februari lalu hanya menempatkan PKB di posisi 5,2%.
Jadi manuver politik jelang pemilu cukuplah penting, mengingat hasil survei menunjukkan suara PKB anjlok. Hanya saja, bagi Hermawi Taslim, manuver politik harus disesuaikan dengan ukuran baju. "Jadi ukur baju, biar tidak kesempitan dan kedodoran," sindirnya.
Di Jombang, Jawa Timur, Ketua Dewan Syura PKB Muhaimin KH Aziz Mansyur mengaku manuver politik PKB Muhaimin Iskandar selama beberapa waktu terakhir ini sama sekali tidak sepengetahuan dirinya. Meski demikian, manuver yang ada saat ini hanyalah upaya pencarian capres 2009.
"Saya memberi istilah itu seperti mesusi beras (membersihkan). Nanti kalau terlihat baru ditentukan," kata pengasuh pesantren Pacul Gowang, Jombang, Jawa Timur ini.
Terkait pencalonan Muhaimin sebagai cawapres melalui ide Poros Bumi, Aziz Mansyur menilai hal itu hanyalah campuran saja. Menjawab rumors bahwa PKB sebenarnya mencalonkan SBY, Aziz mengaku wacana itu muncul hanyalah perorangan saja. "Itu perorangan saja, bukan yang muktabar (bersama-sama)," katanya.
Jadi Poros Bumi ini solusi atau ilusi PKB? [P1/Habis]