Minggu, 27 Mei 2012 | 05:10 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham BUMI Masih Ada Ganjalan
Headline
inilah.com/ Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
web - Kamis, 5 Maret 2009 | 12:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Manajemen BUMI kembali menegaskan akuisisi perseroan sudah sesuai harga pasar. Namun, investor masih membutuhkan transparansi, terutama terkait afiliasi dalam aksi korporasinya. Penguatan saham BUMI pun sedikit tertahan.
Pada perdagangan Kamis (5/3) sesi siang, saham PT Bumi Resources (BUMI) berada di level Rp 790, atau turun 10 poin. Padahal kemarin BUMI memimpin penguatan dan kembali menjadi saham teraktif yang diperdagangkan di bursa, dengan berakhir naik Rp 30 (3,89%) menjadi Rp 800 per lembarnya.
Arhya Winastu Satyagraha, Head of Research Trimegah Securities mengatakan, investor saat ini lebih menginginkan transparansi manajemen BUMI, seperti penilaian dan perhitungan atas harga akuisisi. Karenanya, hal seperti inilah yang seharusnya menjadi prioritas perseroan.
"Artinya, masih banyak proses yang harus dilewati dan diperhitungkan sebelum investor bisa melakukan penilaian sendiri," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (5/3).
Menurut Arhya, persoalan akuisisi bukan terletak pada harga, namun afiliasi BUMI dengan perusahaan yang diambil alih. Ia pun beranggapan investor saat ini sudah tahu badan usaha yang akan diakuisisi BUMI masih terafilasi.
"Faktor terpenting transaksi ini adalah pernyataan resmi BUMI dari hasil penilaian independen yang menjawab apakah transaksi tersebut internal (terafiliasi) atau bukan," katanya.
Hal ini menanggapi pernyataan manajemen BUMI yang kembali menegaskan bahwa akuisisi yang dilakukan perseroan tidak kemahalan. Kali ini, BUMI melakukan perbandingan dengan akusisi yang dilakukan Xstrata terhadap saham Prodeco, perusahaan tambang batubara di Kolombia.
Saat ini, Xstrata telah mendapat persetujuan pemegang saham untuk mengakuisisi US$ 2 miliar saham Prodeco. Berdasarkan prospektus, cadangan batubara Prodeco sekitar 250 juta ton, yang berarti EV/reserve Prodeco sekitar US$ 8 per ton.
Dengan menggunakan EV/Reserve ini, maka akuisisi BUMI atas Fajar Bumi Sakti (FBS) dinilai lebih murah. Pasalnya, FBS memiliki cadangan 98 juta ton dan akan bernilai sekitar US$ 784 juta (100% basis) jika mengacu pada EV/reseve Prodeco. Padahal, BUMI sendiri hanya membayar Rp 2,475 triliun (US$ 293 juta) untuk 76,8% kepemilikan di FBS.
Perbandingan juga dilakukan atas produksi batubara perusahaan yang diambil alih, dimana Prodeco hanya memproduksi 9 juta ton batubara per tahun dengan laba US$ 41 juta atau US$ 4,55 juta/ton. Sedangkan FBS tahun lalu memproduksi 0,5 juta ton dengan laba US$ 8 juta atau setara US$ 16 per ton (hampir 4 kali lipat lebih tinggi dari Prodeco).
Selain itu FBS juga ditargetkan memproduksi 2,3 juta ton di 2009 dan 4 juta ton per tahun 2010 sebagai klausul pelunasan pembayaran akuisisi. "Akuisisi BUMI atas FBS lebih menguntungkan jika dibandingkan akuisisi Xstrata terhadap Prodeco," tegas analisa manajemen BUMI.
Bahkan jika margin dibagi dua, untuk memfaktorkan harga dan kualitas batubara, FBS masih mampu menghasilkan laba US$ 8 per ton atau US$ 32 juta pada 2010.
Jika menggunakan EV/Reserve Prodeco yang US$ 8 per ton pada 2,1 miliar reserve BUMI (di luar FBS & Pendopo) akan mendapatkan nilai organik KPC dan Arutmin sekitar US$ 16,8 miliar atau sekitar Rp 201,6 triliun dengan menggunakan nilai tukar Rp 12 ribu per dolar AS. Sementara kapitalisasi pasar BUMI saat ini hanya sekitar Rp 14,7 triliun.
Arhya menambahkan, appraiser yang ditunjuk Bapepam akan menilai transaksi tersebut apakah harganya wajar atau tidak dan apakah memang ada unsur transaksi internal atau tidak.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang akan menentukan status akuisisi BUMI. Melalui penilai independen, Bapepam menentukan apakah memang traksaksinya wajar atau tidak dan apakah terafiliasi atau tidak.
Hingga saat ini, lanjut Arya investor belum mengetahui pihak yang akan melakukan penilaian terhadap akuisisi BUMI. "Padahal yang diinginkan oleh pasar adalah suatu transparansi siapa yang menilai dan penilaiannya seperti apa," pungkasnya. [E2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.