INILAH.COM. Jakarta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memuja-muji Muhammadiyah. Dia bahkan mengaku cocok dengan Din Syamsudin, pemimpin organisasi massa itu. Inikah pertanda kandidat capres incumbent itu merayu Muhammadiyah?
Momentum apapun, bila terjadi menjelang Pemilu, menjadi sulit untuk tidak dikaitkan dengan kepentingan politik. Pun saat Presiden SBY membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah. Dia banyak memuji ormas berlambang matahari terbit itu. SBY bahkan menyebutkan dirinya cocok dengan Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah.
Bukan soal jika kandidat capres mendekati ormas yang memiliki jutaan jamaah seperti Muhammadiyah. Kantung suara yang besar menjadikan Muhammadiyah menjadi salah satu ormas yang diincar banyak capres. Kehadiran SBY dalam pembukaan Sidang Tanwir Muhammadiyah, Kamis (5/3) di Bandar Lampung, seperti menjadi sinyal SBY sedang mendekati Muhammadiyah.
Simak saja pernyataan SBY dalam pembukaan itu. Menurut SBY, dirinya memiliki kecocokan dengan Muhammadiyah dan Din. "Saya cocok dengan Pak Din," kata SBY dalam sambutan pembukaan Sidang Tanwir, Kamis (5/3) di Lampung. Terang saja, pernyataan SBY disambut tepukan meriah peserta tanwir.
Lebih dari itu, SBY mengaku memiliki kesamaan pemikiran dalam bidang ekonomi dan demokrasi. Menurut SBY, niat baik akan membuahkan hasil yang baik pula.
Bagimana reaksi Din? Apakah itu sinyalemen SBY bakal menggandeng Din dalam Pemilu Presiden 2009 mendatang? Din menjawabnya dengan guyonan. "Wah, saya kan dekat dengan Jusuf Kalla, he..he," katanya kepada INILAH.COM.
Meski demikian, Din mengaku dalam sambutan Presiden SBY memang banyak menyatakan kesetujuannya dengan pemikiran Muhammadiyah, terutama tentang paradigma pembangunan dan sistem perkonomuian nasional. "Tentu, kami menanggapinya dengan syukur. Kami mengharapkan titik temu ini direalisaskikan secara praktis dalam sinergi kemitraan pemerintah dan Muhammadiyah," paparnya.
Kemitraan apa yang dimaksud? Perkawinan politik SBY-Din dalam Pemilu 2009 atau program kerja pemerintah dengan Muhammadiyah? Din menjawab kemitraan yang dimaksud dalam arti luas, khususnya pelaksanaan pembangunan. "Ya dalam arti luas, khususnya pembangunan untuk kesejahteraan rakyat," kelitnya.
Langkah kemitraan SBY dan Muhammadiyah sangat terbuka tidak hanya program normatif semata. Program lima tahunan seperti Pemilu 2009, hakikatnya, memunculkan ruang cukup terbuka untuk membangun kemitraan politik.
Apalagi, survei LP3ES pada Desember lalu mengungkapkan, mayoritas warga Muhammadiyah sebanyak 32,1% bakal memilih SBY dalam Pilpres jika pemilu dilaksanakan saat survei berlangsung. Hanya 9,5% warga Muhammadiyah memilih Megawati, 11,9% memilih Sultan, 8,3% memilih Prabowo Subiantio, dan hanya 2,4% memilih Wiranto.
Sementara Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimin membuka pintu kepada SBY untuk menawarkan diri kepada warga Muhammadiyah. "Silahkan SBY, termasuk bagi capres lainnya, mencari dukungan kepada warga Muhammadiyah," tandasnya. Upaya promosi capres, sambung Izzul, tergantung capresnya, bukan tergantung dari Muhammadiyah sebagai lembaga ormas.
Kendati demikian, Izzul yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini menilai sambutan SBY dalam pembukaan tanwir Muhammadiyah masih bersifat normatif. Menurut dia, sulit untuk menafsirkan pernyataan SBY sebagai upaya menarik kader Muhammadiyah dalam Pilpres 2009. "Terlalu jauh penafsirannya jika itu sinyal untuk mengajak Din dalam Pilpres 2009," cetus Izzul. [I4]