Minggu, 27 Mei 2012 | 05:11 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Review Pergerakan BUMI Sepekan
BUMI Digoyang Isu Penilai Independen
Headline
inilah.com/ Bayu Suta
Oleh: Asteria
web - Sabtu, 7 Maret 2009 | 11:27 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta Sepekan sudah berlalu. Namun, persoalan penilai independen guna menilai akuisisi yang dilakukan PT Bumi Resources belum juga usai. Untung, emiten berkode bursa BUMI ini berhasil membukukan pergerakan positif, dengan naik 2,7%.
Perjalanan bursa Asia awal pekan ini diawali dengan kabar buruk. Anjloknya bursa AS akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi (GDP) AS kuartal empat 2008 sebesar 6,2%, dan jatuhnya sektor finansial AS, menekan pasar saham.
Sedangkan sentimen negatif dari dalam negeri adalah rilisnya data inflasi Februari sebesar 0,21%. Ekspektasi pun berkembang bahwa BI akan menahan BI rate di level 8,25%. Apalagi ekspor Januari turun 35,5%, terbesar dalam 22 tahun terakhir.
Tak pelak, IHSG pun terpuruk ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir, turun 2,2% ke 1.256,1 dengan trading value hanya Rp 1,045 triliun. Sektor mining menyumbang penurunan terbesar menyusul penurunan harga batubara 14,4%.
Sementara pemain batubara yang mengalami koreksi paling dalam adalah BUMI. Emiten batubara terbesar di Indonesia ini ambruk 50 poin (6,5%) ke level Rp 720 per lembarnya. Tidak ada perkembangan berarti mengenai aksi korporasi BUMI pada awal pekan itu.
Anjloknya bursa WallStreet terus berlanjut di hari kedua pekan ini. Indeks Dow Jones terpuruk di bawah level 7.000 dan AIG membukukan rekor kerugian. Alhasil, perdagangan di Asia pada hari kedua dimulai dengan tekanan. Namun, menjelang penutupan, indeks kawasan berhasil kembali rebound. IHSG bahkan menjadi salah satu top gainer di Asia dengan menguat 0,7% ke level 1.264,8.
BUMI pun berhasil terdongkrak 50 poin (7%) ke level Rp 770, setelah menyentuh level terendah di Rp 700. BUMI pun menjadi salah satu saham yang menopang penguatan bursa, dengan nilai transaksi mencapai Rp 282 miliar, atau 25,3% dari total transaksi pasar senilai Rp 1,1 triliun.
Sentimen positif muncul setelah managemen BUMI memberi guidance laba bersih 2008 dapat mencapai lebih dari US$ 635 juta dan berita akuisisi Xstrata yang memberi gambaran bahwa langkah akusisi BUMI dinilai murah.
Pada hari Rabu (4/3), BI memutuskan untuk kembali menurunkan BI rate 50 basis poin ke level 7.75%, terendah sejak Juni 2005 lalu. Sementara China berencana meningkatkan paket stimulus ekonomi 4 triliun Yuan (US$585 miliar) dan fokus pada sektor infrastruktur. Hal ini membawa sentimen positif bagi pasar.
IHSG berhasil meneruskan penguatannya dengan naik 1,9% ke level 1.289,3. Sementara sektor tambang juga menjadi top gainer, antara lain BUMI yang naik 30 poin (3,9%) ke level Rp 800 per lembarnya.
Keesokan harinya beredar berita bahwa mitra BUMI yakni Tata Power tengah kesulitan melunasi utang sebesar US$ 850 juta atau Rp 10,28 triliun. Dana itu dipakai untuk mengakuisisi 30% saham PT Kaltim Prima coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.
Tata mengatakan bisa melunasi utangnya jika harga batubara U$ 70-72 per ton. Namun jika dalam enam bulan mendatang harganya tetap U$ 60-65 juta, Tata akan kesulitan bayar karena porsi dividen KPC dan Arutmin yang mereka peroleh akan terpangkas.
Manajemen BUMI pun mengklarifikasi dengan memberi pernyataan bahwa Tata Power sudah melunasi pembayaran akuisisi dua anak usahanya yakni KPC dan Arutmin. BUMI pun menyatakan potensi kesulitan utang Tata tidak ada pengaruhnya bagi perseroan.
Namun, saham BUMI tetap ditutup melemah 30 poin ke level Rp 770 per lembarnya. Hal ini dipicu aksi profit taking yang dilakukan investor setelah emiten tambang ini menguat dua hari perdagangan berturut-turut.
Di akhir pekan, pihak BEI angkat bicara, bukan tentang kemajuan penyidikan BUMI. Tapi tentang kesulitan mereka mencari anggota tim penilai untuk akuisisi yang dilakukan BUMI.
BEI berkilah, kapabilitas para calon appraiser tersebut harus dipastikan, dan tidak semua pihak bisa melakukannya. "Tapi tidak bisa sekarang. Karena tidak mudah memilih lembaga yang mengerti betul tentang industri coal mining," ujar Dirut BEI Erry Firmasyah di Gedung BEI, Jumat (6/3).
Sementara itu, Kabiro Pemeriksaan dan Penyelidikan Bapepam-LK Sarjito mengaku telah memeriksa Dirut BUMI Ari Saptari Hudaya dan Dirkeu BUMI Andrew Beckham tiga hari yang lalu. Pemanggilan terkait dugaan transaksi material dan benturan kepentingan atas akuisisi tiga perusahaan.
Akhirnya, saham BUMI berhasil ditutup menguat 10 poin ke level Rp7 80 per lembar, setelah menyentuh level tertinggi di angka Rp 790. Transaksi yang tercatat di akhir pekan ini turun jauh, dengan volume 108 juta lembar saham senilai Rp 84 miliar, dengan frekuensi 1,842 kali. Transaksi sangat minim karena investor diperkirakan ke luar pasar mengantisipasi datangnya libur panjang. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.