INILAH.COM, Jakarta - Harga murah bukan jaminan penjualan langsung melejit. Kehadiran netbook yang terhitung baru, masih belum memberikan kontribusi signifikan. Notebook yang relatif lebih mahal saat ini ternyata masih menguasai penjualan.
Direktur Marketing Acer Indonesia Daniel Rustandi mengatakan masih sulit memproyeksikan permintaan netbook tahun ini. Netbook terhitung masih baru, karena masuk pasar Indonesia triwulan ketiga 2008. "Pertumbuhannya memang tinggi karena baru masuk pasar, tapi kontribusinya masih kecil," katanya, kemarin.
Daniel mengatakan resesi ekonomi tidak bisa menjadi pemicu peralihan ke produk lebih murah. Karena konsumen memilih perangkat komputer jinjing tidak berdasarkan harga saja tapi sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
Intensifnya operator menawarkan layanan internet melalui 3G, juga bukan pendongkrak penjualan netbook. Menurut Daniel, 3G masih merupakan fitur tambahan saja bagi netbook. Dari segi fitur, netbook masih difungsikan sebagai perangkat untuk akses internet dengan cara konvensional.
Dengan fungsinya seperti itu, Daniel yakin netbook tidak akan menggerogoti pasar laptop yang berharga lebih mahal. Notebook menengah sampai atas merupakan andalan produsen, karena memberikan margin keuntungan lebih tinggi. "Netbook tidak akan mempengaruhi produk lain. Konsumen membeli notebook disesuaikan kebutuhannya," katanya.
Untuk pasar dalam negeri Acer meluncurkan netbook baru dengan merek Gateway. Netbook ini dibanderol murah mulai dari Rp 6 juta. Meski murah, netbook ini menyasar konsumen yang mengutamakan style.
Market netbook style menurut Daniel di Indonesia masih kecil. Persentasinya tidak lebih dari lima persen dari ke seluruhan market netbook. "Netbook style persentasenya sangat kecil dibandingkan base produk Acer. Tapi kami harus membidik pasar yang sedang tren," katanya.
Gateway adalah perusahaan AS yang sukses menawarkan produk berbasis life style. Perusahaan ini diakuisisi oleh Acer pada 2007 dan kini mulai masuk pasar Indonesia. Selain Gateway, Acer memiliki merek lain yaitu Packard Bell dan eMachines.
Daniel mengatakan akuisisi dilakukan, karena Acer melakukan pendekatan multi brand. Gateway ditujukan spesifik pada style, sedangkan eMachines lebih menekankan pada value dan tidak mengutamakan style. "Kami coba masuk ke semua sektor, Gateway dan eMachines masing-masing memiliki potensi sendiri-sendiri di pasar," imbuhnya.
Daniel menjelaskan, hadirnya produk itu tidak akan menggoyahkan pasar Acer yang sudah dimiliki. Pasalnya diversifikasinya sangat beda, Gateway untuk style, eMachines ke value dam Acer ke fresh technology. Produk itu dimasukkan ke Indonesia karena tipikalnya bisa masuk dengan kebutuhan konsumen.
Meskipun Gateway sangat terkenal di AS, tapi konsumen Indonesia masih awam. Daniel mengatakan produk Gateway disejajarkan dengan produk Acer dalam after sales service. "Merek memang lain, tapi brandnya tidak lebih rendah," tegasnya.
Tapi karena produk baru, Daniel mengatakan, Acer tidak menargetkan penjualan Gateway dalam jumlah besar. Selain netbook, Gateway juga memiliki desktop dan notebook full.
Sebelumnya HP juga mengenalkan notebook murah di awal tahun. Direktur HP Mariana Kasim mengatakan dengan situasi ekonomi sekarang, notebook mini dengan harga terjangkau menjadi pilihan menarik bagi konsumen.
HP memasarkan notebook Mini 1000 dengan harga terjangkau US$ 499 telah dilengkapi dengan Windows XP Home. HP menyediakan netbook karena kategori ini sedang dibutuhkan konsumen.
Meskipun notebook mini memiliki spesifikasi jauh lebih rendah dari notebook full, tapi netbook tetap ada yang membutuhkan karena segmennya berbeda. HP berkeyakinan konsumen membeli notebook tidak hanya berdasarkan spesifikasi tapi juga melihat desain dan harga. [E1]