INILAH.COM, Jombang - Setelah sekitar dua minggu membuka praktik, jumlah 'DPT' yang berobat ke dukun cilik M Ponari menyusut drastis. Namun, DPT yang ada di tempat bocah ajaib itu bukan Daftar Pemilih Tetap, melainkan 'Daftar Pasien Tetap'.
Berdasarkan data yang ada di panitia pengobatan, jumlah DPT tersebut hanya berkisar seribu orang per hari. Jumlah tersebut jelas sangat berbeda dengan pembukaan praktik Ponari pada tahap pertama yang mencapai 10 ribu per hari.
Penurunan itu bukan tanpa sebab. Salah satu alasannya adalah anak pasangan Kamsin dan Mukaromah ini hanya membuka praktik paruh waktu. Dalam arti, pada pagi hari Ponari sekolah, sedangkan praktik pengobatan dilakukan pada siang hari, sepulang sekolah.
"Jumlah pasien di tempat Ponari sangat berbeda dengan yang dulu. Kalau saat ini setiap hari rata-rata seribu orang. Kondisi itu disebabkan oleh Ponari yang melakukan pengobatan usai sekolah. Jadi, pada pagi hari Ponari sekolah, baru sepulang sekolah pengobatan dibuka," kata Mustofa, salah satu panitia yang ditemui dilokasi, Rabu (25/3).
Menurunnya 'DPT' pemilik batu petir tersebut sangat dikeluhkan oleh sejumlah pengais rejeki yang ada di Dusun Kedungsari Desa Balongsari Kecamatan Megaluh. Mereka adalah mulai dari pedagang dadakan hingga tukang ojek.
Rata-rata penghasilan mereka juga turun drastis. Padahal, saat pengobatan Ponari didatangi puluhan ribu pasien, penghasilan mereka mencapai Rp 300 ribu per hari.
"Karena turunnya jumlah pasien, penghasilan kami juga ikut terjun bebas. Kalau sebelumnya dalam satu hari bisa mengantongi laba Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, kini hanya Rp 50 ribu setiap hari," kata Joko, penjual air mineral didekat rumah Ponari. [beritajatim.com/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !