INILAH.COM, Jakarta - Cadangan devisa terus menurun. Sementara kewajiban valas yang ditanggung pemerintah dan swasta cenderung menaik. Inilah yang mendorong otoritas moneter menggalakkan program pertukaran mata uang antar negara.
Ketika tahun 2009 baru berjalan selama dua bulan, cadangan devisa yang ada di kocek Bank Indonesia telah tergerus sebesar US$ 1,075 miliar. Sehingga pada akhir Februari lalu, yang tertinggal hanya US$ 50,564 miliar.
Jika melihat kebutuhan dolar AS yang terus menanjak, cadangan itu diperkirakan akan terus menurun, sehingga pada akhir 2009 menjadi tinggal US$ 48.798 juta. Itu merupakan perkiraan optimistis dari Hartadi A. Sarwono, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Tapi lain lagi perkiraan yang dikemukakan kalangan pengamat. Mereka memperkirakan, resesi akan berlanjut sepanjang tahun ini. Kalau dugaan itu benar, berarti ekspor tetap akan jalan di tempat. Bahkan bukan mustahil akan mengalami penurunan.
Akibatnya, devisa yang masuk semakin sedikit. Sementara kewajiban yang harus dipenuhi pemerintah maupun swasta, baik berupa pembayaran utang maupun pembiayaan impor, terus menaik.
Sehingga, kata seorang pengamat, penggerusan cadangan bisa berlangsung lebih cepat. Seperti yang terjadi di kuartal terakhir 2008 lalu. Ketika itu, hanya dalam waktu tiga bulan, cadangan devisa menciut sampai US$ 5,5 miliar. Kemungkinan buruk itu, tampaknya, sudah diperhitungkan benar oleh otoritas moneter.
Namun, para petinggi di BI berusaha agar pasar tetap tenang. Caranya,dengan mengatakan bahwa cadangan yang tersedia berada dalam posisi aman, karena masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri selama lebih dari 4 bulan.
Itu berarti posisi cadangan masih berada di atas standar International Monetary Fund (IMF) yang menetapkan batas aman cadangan 3 sampai 4 bulan. Tapi, karena ada kemungkinan buruk yang sulit untuk ditebak, BI belakangan mulai getol menjalin bilateral currency swap arrangement (BCSA).
Menurut Gubernur BI Boediono, pertukaran mata uang asing antar bank sentral itu akan dilakukan dengan beberapa negara. Salah satu yang kini hampir rampung adalah BCSA dengan China.
Mulai Mei depan, hingga 2012, BI akan menempatkan dana sebesar Rp 175 triliun di Bank Sentral China (PBC). Sebaliknya, dalam rentang yang sama PBC akan menempatkan 100 miliar renminbi (US$ 14,6 miliar) di BI. Dana inilah kelak akan dipakai sebagai alat pembayaran untuk transaksi yang terjadi antara Indonesia dan China.
Asal tahu saja, tahun lalu, ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 11,5 miliar. Sementara impornya mencapai US$ 15,2 miliar. Selain memudahkan pengusaha dan pemerintah, pemakaian renminbi dan rupiah ini diharapkan akan mengurangi tekanan mata uang dolar yang belankangan selalu berflutuasi dengan tajam. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !