INILAH.COM, Jakarta - Dua peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Yanto Santosa dan Prof. Bambang Hiro Saharjo menyatakan, data kerusakan hutan yang dimiliki Greenpeace tidak akurat.
Menurut Dr. Yanto yang melakukan penelitian sejak April-Juli 2010 bersama Prof. Bambang, tuduhan Greenpeace soal terjadinya deforestasi di Indonesia tidaklah tepat. Sebab Greenpeace memiliki definisi yang berbeda.
Deforestasi yang didefinisikan Greenpeace, menurut Yanto, adalah pengurangan areal berhutan. Sedangkan definisi dari pemerintah Indonesia adalah pengurangan kawasan hutan.
Menurut Yanto, kedua definisi ini jelas berbeda, karena yang dipakai Greenpeace mengandung pengertian pengurangan areal yang di dalamnya tumbuh pohon-pohon, baik alang-alang, perdu, dan lain-lain. Mereka tidak peduli, walaupun dalam peraturan perundang-undangan Indonesia sudah ditetapkan bahwa areal tersebut sebagai kawasan pengembangan perkebunan.
Saya bersama Prof. Bambang Hiro Saharjo serta para peneliti dari Control Unions Certification (CUC) dan British Standards Institution (BSI) telah melakukan penelitian dengan menggunakan metode terukur, ilmiah dan mudah diverifikasi. Hasilnya, semua tuduhan yang dilontarkan Greenpeace tidak ada dasarnya, ungkap Yanto kepada wartawan, Senin (1/11/2010).
Yanto telah bertemu dan menjelaskan hasil temuannya kepada Greenpeace. Namun ironisnya, mereka tidak mau menerima dan menghormati hasil penelitian yang dilakukannya.
Bagi mereka, areal berhutan itu semua jenis lahan yang di dalamnya tumbuh pepohonan. Tidak peduli mengenai statusnya, apakah itu areal bekas HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang ditinggalkan, sehingga menjadi areal yang ditumbuhi alang-alang atau lahan hutan konservasi dan hutan alami. Semuanya dipukul rata. Inilah yang melahirkan data Greenpeace tidak akurat. Bahkan kami menantang mereka untuk terjun ke hutan-hutan yang jadi obyek tuduhan. Namun mereka menolak. Patokan mereka hanya satelit, jelas Yanto. [mah]