Senin, 28 Mei 2012 | 23:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
IPB Pastikan Data Greenpeace Tidak Akurat
Headline
IST
Oleh: MA Hailuki
web - Senin, 1 November 2010 | 18:53 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Dua peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Yanto Santosa dan Prof. Bambang Hiro Saharjo menyatakan, data kerusakan hutan yang dimiliki Greenpeace tidak akurat.

Menurut Dr. Yanto yang melakukan penelitian sejak April-Juli 2010 bersama Prof. Bambang, tuduhan Greenpeace soal terjadinya deforestasi di Indonesia tidaklah tepat. Sebab Greenpeace memiliki definisi yang berbeda.

Deforestasi yang didefinisikan Greenpeace, menurut Yanto, adalah pengurangan areal berhutan. Sedangkan definisi dari pemerintah Indonesia adalah pengurangan kawasan hutan.

Menurut Yanto, kedua definisi ini jelas berbeda, karena yang dipakai Greenpeace mengandung pengertian pengurangan areal yang di dalamnya tumbuh pohon-pohon, baik alang-alang, perdu, dan lain-lain. Mereka tidak peduli, walaupun dalam peraturan perundang-undangan Indonesia sudah ditetapkan bahwa areal tersebut sebagai kawasan pengembangan perkebunan.

Saya bersama Prof. Bambang Hiro Saharjo serta para peneliti dari Control Unions Certification (CUC) dan British Standards Institution (BSI) telah melakukan penelitian dengan menggunakan metode terukur, ilmiah dan mudah diverifikasi. Hasilnya, semua tuduhan yang dilontarkan Greenpeace tidak ada dasarnya, ungkap Yanto kepada wartawan, Senin (1/11/2010).

Yanto telah bertemu dan menjelaskan hasil temuannya kepada Greenpeace. Namun ironisnya, mereka tidak mau menerima dan menghormati hasil penelitian yang dilakukannya.

Bagi mereka, areal berhutan itu semua jenis lahan yang di dalamnya tumbuh pepohonan. Tidak peduli mengenai statusnya, apakah itu areal bekas HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang ditinggalkan, sehingga menjadi areal yang ditumbuhi alang-alang atau lahan hutan konservasi dan hutan alami. Semuanya dipukul rata. Inilah yang melahirkan data Greenpeace tidak akurat. Bahkan kami menantang mereka untuk terjun ke hutan-hutan yang jadi obyek tuduhan. Namun mereka menolak. Patokan mereka hanya satelit, jelas Yanto. [mah]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
8 Komentar
Aji
Selasa, 3 Januari 2012 | 11:28 WIB
kalau hanya berbasis satelit...ehmmm ya dunia semua hancur...kasihan sekali mas grinpis ini.... ini kan sama artinya mencoreng muka lsm yang mencoba berbicara jujur, tranparansi, berbasis data... prof. bambang dan Dr. Yanto... maju terus...
nico
Kamis, 18 November 2010 | 11:14 WIB
Buat pak Arafat, mungkin anda perlu belajar sedikit bahwa perlu ada definisi yang pasti tentang sesuatu sehingga ada dasar yang jelas dan tidak berubah untuk membahas suatu perubahan. Apa yang dikemukakan pak Yanto dkk adalah ilmiah, tidak main pukul rata seperti yang dinyatakan oleh Greenpeace. Sesuatu yang baik tetapi disampaikan dengan buruk, tidak selalu baik malah mungkin menjadi buruk... Sebaiknya Greenpeace juga menjawab secara ilmiah, sehingga berbuah pencerahan buat kita semua...Setuju?
adi dzikrullah
Selasa, 16 November 2010 | 17:03 WIB
...yang pertama harus difahami oleh masyarakat Indonesia adalah pengertian secara terminologi hutan dan kawasan hutan..dengan pemahaman tersebut diharapkan mampu bertindak lanjut lebih jauh... ...oya, untuk redaksi inilah[dot]com, tolong diralat --> Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr...bukan Bambang Hiro Saharjo...oke thanks semua...
alias
Minggu, 14 November 2010 | 23:01 WIB
yah..katanya LSM keren..definisi aja masih simpang siur
avtek
Sabtu, 13 November 2010 | 18:14 WIB
Kalo mau tau hondisi harus masuk lapangan lah.... Cupu katanya NGO pro konservasi..masuk hutan gag pernah, cuma minta-minta kayak nenek-nenek, maksa lagi..
Gigih Eka Pratama
Sabtu, 13 November 2010 | 15:23 WIB
semua masalah harus didefinisikan secara jelas dulu. samakan persepsi lintas sektoral. selain itu untuk greenpeace lakukan penelitian secara ilmiah terlebih dahulu baru boleh menyatakan statement tentang sesuatu. yang jelas kita harus bersama-sama tetap menjaga kelestarian hutan kita, mulai dari sendiri dan mulai dari saat ini.. salam Konservasi..
arafat
Selasa, 2 November 2010 | 16:22 WIB
Yah gimana hutan Indonesia gak hancur, penelitinya aja tidak akurat, masih berkutat sama definisi, sementara hutannya masih dibabat,.. Kasihan orang2 pintar ini yang sedihnya gak punya hati.. Go Greenpeace.. Hajar semua ketololan di negara ini!!
eliaz
Senin, 1 November 2010 | 19:25 WIB
yah greenpeace, bisanya omdo ahh
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.