INILAH.COM, Jakarta Bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Pemilu 2004 dengan Pemilu 2009 jelas berbeda. Entah dirasakan atau tidak. Secara kasat mata perbedaan itu mudah dijumpai. SBY kini kontras dengan SBY lima tahun lalu. Elitisme telah menghinggapi SBY?
Masih ingat kenaikan SBY dan Partai Demokrat saat Pemilu 2004 lalu? Cukup dramatis. Suasana gegap gempita serta aura perubahan menyembul dari partai yang berdiri 2001 lalu itu. Tak heran, partai penguasa dan capres incumbent kala itu, Megawati Soekarnoputri dan PDIP keok tak berkutik ketika berhadapan dengan pria dari Pacitan, Jawa Timur itu.
Dari Sabang sampai Merauke, kala itu figur SBY dielu-elukan. Para simpatisan dengan ikhlas dan rela membuat atribut Partai Demokrat dan SBY muncul tanpa dikomando. Publik cukup bangga memakai pin atau atribut bergambar SBY atau Partai Demokrat.
Seorang mantan tim sukses SBY dalam Pemilu 2004 menilai SBY saat ini dengan 2004 lalu paradoksal. "SBY saat ini seperti robot yang diatur oleh Fox Indonesia," katanya kepada INILAH.COM.
Fox Indonesia adalah konsultan politik pemenangan SBY dan Partai Demokrat. Sejumlah kreasi Fox dapat dilihat dari billboard yang terpasang seantero Indonesia. Salah satunya dengan gambar SBY sedang mengacungkan tangan ke atas. Di bawah foto SBY tertulis, 'kami dukung terus' dan 'lanjutkan'.
Pada billboard tersebut, publik juga dikagetkan dengan foto SBY yang putih bersih, bahkan mengesankan wajah yang pucat. Foto itu jauh berbeda dengan foto resmi SBY sebagai presiden RI seperti foto-foto yang terpampang di kantor-kantor pemerintahan.
Kini, suasana kontras tersebut juga dapat terlihat dari atribut kampanye SBY dan Partai Demokrat yang semuanya menunjukkan keseragaman, baik dari pilihan huruf, hingga desain baik kaos, maupun baliho dan billboard. "Ini artinya, semuanya didrop dari Jakarta. Tidak ada lagi cerita seperti 2004. Atribut yang beragam, warna-warni, ya karena dari sumbangan simpatisan, tanpa drop," jelas sumber tersebut melanjutkan.
Menurut pakar komunikasi politik Universitas Indonesia (UI) Dedi Nur Hidayat, memungkinkan kondisi kontras SBY saat ini dengan 2004 lalu diakibatkan desain dari konsultan politiknya. "Mungkin saja itu peran konsultan politiknya meski dulu SBY juga ada konsultan politiknya," tegasnya.
Terkait dengan keseragaman atribut kampanye Partai Demokrat dan SBY, menurut Dedi, bisa saja penyeragaman atribut kampanye sebagai upaya kontrol dari Partai Demokrat agar tidak menyimpang dari kebijakan umumnya. "Tapi kalau seperti itu, bisa juga terlalu ketat dan mematikan kelompok yang muncul dari bawah," cetusnya.
Terkait perbedaan pandangan publik terhadap SBY saat 2004 dengan 2009 ini, Dedi menilai saat 2004, kehadiran SBY dan Partai Demokrat menjadi calon presiden dan partai alternatif. "Dulu Demokrat dan SBY muncul sebagai alternatif dari kelompok politik yang beragam. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata tidak memiliki kesatuan pandangan politik," ujarnya.
Namun, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahamd Mubarok membantah jika Pemilu 2009 dengan Pemilu 2004 terjadi perbedaan. Menurut dia, perihal atribut kampanye, memang pimpinan pusat Partai Demokrat melakukan standardisasi atribut dalam bentuk CD yang dibagikan ke pimpinan daerah. "Kita kasih CD saat Rakernas Februari lalu. Yang membuat teman-teman daerah, termasuk dananya juga," katanya.
Menurut dia, langkah penyeragaman ini dilakukan melihat saat Pemilu 2004 lalu terjadi kesimpangsiuran sehingga menimbulkan kesemrawutan atribut kampanye. Meski demikian, saat ini pun masih banyak sumbangan dari simpatisan yang tidak jelas sumbernya. "Seperti saya dapat kaos sebanyak 300 ribu buah, saya tidak tahu darimana sumbernya," katanya.
Di atas semua itu, SBY saat 2004 dengan SBY 2009 ini memang terjadi perbedaan yang kontras. Setidaknya, saat ini ia adalah calon incumbent yang diketahui kadar kepemimpinannya, Sedangkan saat 2004 SBY menawarkan perubahan yang disambut positif oleh publik. [I4]