inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Timbang Pilih Saham Ritel

Headline
inilah.com/ Bayu Suta
Oleh: Asteria
Kamis, 2 April 2009 | 14:27 WIB
INILAH.COM, Jakarta Citra sektor ritel yang semula disebut-sebut sebagai salah satu sektor yang cukup defensif terhadap krisis ekonomi, kini mulai surut. Ancaman datang seiring masih berlanjutnya pelemahan ekonomi. Bagaimana potensi saham sektor ritel?
Analis Samuel sekuritas Ike Rahmawati mengatakan, pihaknya kini masih mengkaji ulang kinerja saham sektor ritel, terkait rilisnya laporan keuangan 2008. Meskipun menunjukkan pencapaian positif, namun terindikasi ada penurunan tipis di sebagian pos.
Sentimen negatif juga berasal dari turunnya daya beli dan tingginya tingkat pengangguran yang dinilai berpotensi menekan performa industri ritel ke depan. Lihat saja industri ritel dengan pangsa pasar menengah ke atas, PT Mitra Adiperkasa (MAPI).
Ike mengaku masih mencermati emiten ini, terkait kinerja perseroan yang hingga semester kedua mendatang diperkirakan mampu membukukan same store growth (SSG) positif. Adapun hingga saat ini SSG MAPI tercatat 10% dibandingkan 2007 sebesar 12%. "Saat ini MAPI masih under review," ujarnya dalam riset yang dipublikasikan, di Jakarta, hari ini.
Kinerja perseroan pun dinilai memuaskan. Pada 2008, MAPI membukukan penjualan Rp 4,8 triliun, naik 24,3%. Kenaikan itu didukung gencarnya program promosi dan naiknya SSG mencapai 17% (dari 6%).
SSG department stores mencapai 22%, speciality stores 14%, food and beverages (F&B) 8%, dan unit bisnis lainnya 1%. "Jika melihat kinerja tahun lalu yang di atas estimasi kami, ada potensi untuk upgrade," katanya. Namun, gross margin turun menjadi 37,9% (dari 38,6%), dan margin operasional turun menjadi 6,2% (dari 6,8%).
Selain itu, rugi valas berpengaruh terhadap turunnya pendapatan. MAPI mencatatkan kerugian Rp 70 miliar akibat rugi valas Rp 331 miliar, akibat utang dalam bentuk yen dan dolar Rp 937 miliar. Selain itu, beban bunga juga naik 15%. "Hal itu menyebabkan bottom line MAPI jauh di bawah estimasi kami dan konsensus," ujarnya.
Sementara emiten ritel lainnya PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) juga dinilai membukukan kinerja sejalan estimasi Ike sebelumnya. Sepanjang 2008, RALS berhasil membukukan total penjualan mencapai Rp 5,5 triliun, atau naik 13%.
Adapun laba bersih naik 17% mencapai Rp 430 miliar. Penurunan performa mulai terjadi di kuartal empat 2008 dan kuartal pertama 2009 akibat faktor musiman serta imbas anjloknya harga komoditi yang memukul daya beli masyarakat, khususnya luar Jawa.
Biaya operasional/penjualan RALS di 2008 naik menjadi 20% (dari 19,6%). Peningkatan biaya ini dipicu naiknya porsi gaji menjadi 6,6% mencapai Rp 365 miliar, sehingga margin operasional RALS tetap di 7,5%. "Kami ekspektasi RALS tahun ini akan melakukan efisiensi terkait meningkatnya beban operasional ini," imbuhnya.
Ike memperkirakan hingga semester kedua 2009, SSG RALS masih akan negatif sekitar 7,6%. Hal ini terkait ancaman dari tekanan harga, pelemahan daya beli serta pemulangan TKI. "Kami khawatir dengan kemampuan RALS mengahadapi tantangan ke depan, sehingga masih akan mengkaji ulang kinerja perseroan," katanya.
Tantangan lain berasal dari melemahnya daya beli masyarakat luar Jawa dengan kontribusi 40% terhadap penjualan, menyusul turunnya harga komoditi. Menurutnya, kemampuan beli masyarakat, khususnya kelas menengah bawah yang menjadi target market perseroan, merupakan masalah yang harus segera diatasi perseroan.
Namun Ike tidak ingin terlalu optimistis bahwa spending masyarakat, khususnya luar Jawa akan segera pulih. "Karena hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi RALS tahun ini disamping juga mempertahankan margin dengan melakukan efisiensi," paparnya.
Sedangkan saham PT Matahari Putra Prima (MPPA) mendapat rekomendasi jual dengan target harga dapat mencapai Rp 540 per lembar. Hingga akhir 2008, MPPA sebenarnya membukukan kinerja cantik, menyusul lonjakan penjualan dari dua bisnis intinya yaitu Matahari Department Store (MDS) dan Matahari Food Business (MFB).
Alhasil, total penjualan MPPA melompat 22,6% ke rekor terbarunya di Rp 12 triliun. Kontribusi penjualan MDS naik menjadi Rp 5,9 triliun dari 5 triliun, sedangkan MFB berhasil mencapai rekor pertumbuhan penjualan 27,1%.
Namun, perseroan juga mengalami penurunan pendapatan bersih setelah pajak menjadi Rp 10,5 miliar. Hal ini disebabkan kerugian kurs seiring tingkat fluktuasi nilai tular yen Jepang terhadap rupiah.
Pada perdagangan Kamis (2/3) sesi pagi, harga RALS terpantau stagnan di level Rp 435, demikian pula MAPI yang stabil di angka Rp 260. Namun, MPPA terlihat merangkak naik 10 poin ke level Rp 570 per unitnya.
Earning per share (EPS) RALS 2009 diperkirakan mencapai Rp 51, dengan price earning (PE) 2009 sebanyak 8,5 kali dan price book value (PBV) 1,2 kali. Kemudian EPS MAPI 2009 dapat mencapai Rp 45, dengan PE 5,7 kali dan PBV 0,3 kali. Adapun EPS MPPA diperkirakan mencapai Rp 54, dengan PE 10,3 kali dan PBV 0,7 kali. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.