INILAH.COM, Jakarta - Secara teknikal saham PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan ini diprediksi menguat bahkan berpotensi menyentuh Rp 920. Namun, penguatan hanya sementara setelah tiga hari sebelumnya mengalami kenaikan yang memancing aksi profit taking.
Betrand Rayanaldi, analis Panca Global Securities mengatakan yang menjadi motor pergerakan saham BUMI saat ini adalah pasar. Karena itu, penguatannya bukan berasal dari sentimen individual.
"Yang terjadi kemarin pun, marketlah yang mendongkrak BUMI. Lihat saja secara teknikal memang berpeluang tembus nembus Rp 900-an dan berikutnya ke Rp 950. Tapi BUMI kemarin hanya tembus Rp 900," papar Bertrand, di Jakarta, Jumat (3/4).
Penguatan BUMI itu akibat sentimen bursa global seiring pertemuan G-20 yang diharapkan memberikan hal positif. "Berdasarkan penguatan kemarin yang mencapai Rp 900 atau naik 30 poin, untuk hari ini masih ada potensi penguatan ke posisi Rp 920," katanya.
Pada perdagangan Jumat (3/4) hingga pukul 10:50, saham BUMI ditransaksikan stagnan pada level Rp 900 dengan harga tertinggi 910 dan harga terendah Rp 880. Sedangkan volume transaksi mencapai 244,2 miliar lembar saham senilai Rp 109,7 miliar dan 1.844 frekuensi.
Biasanya BUMI mengalami kenaikan selama dua hari dan disusul dengan koreksi di hari berikutnya. Sedangkan kenaikan saat ini, mencapai tiga hari. Hal ini jarang terjadi. "Makanya, karena kenaikannya sudah banyak dan tiga hari berturut-turut, BUMI cukup berat untuk naik ke Rp 920," paparnya.
Level Rp 920, lanjut Betrand, hanya akan terjadi sementara dan setelah itu akan turun lagi. Pasalnya, kenaikan saat ini keluar dari kebiasaan "Apalagi hari ini adalah akhir pekan," tukasnya.
Mengenai penerbitan surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN) senilai US$ 32,30 juta oleh BUMI, Betrand memaparkan, para analis tidak merefleksikannya ke dalam harga saham BUMI. Pasalnya, semua itu sudah terefleksi sebelumnya. "Baik surat utang medium dan sebagainya," imbuhnya.
Namun, para analis tetap mencermati pengeluaran surat utang itu termasuk pemanfaatannya. "Artinya hal ini tidak akan menjadi sentimen di pasar. Jadi, kalau BUMI turun, memang secara teknikal berpotensi profit taking," tegasnya.
Berdasarkan laporan keuangan 2008, pada 17 November 2008, BUMI telah meneken perjanjian dengan PT Samuel Sekuritas mengenai penerbitan surat utang itu secara terbatas. Nilai maksimum penerbitan surat utang adalah sebesar Rp 6 triliun atau sekitar US$ 600 juta.
Awalnya BUMI akan menggunakan dana hasil penerbitan MTN itu untuk membiayai pembelian kembali (buy back) saham di pasar. Tapi, Bursa Efek Indonesia (BEI) tak membolehkannya. Akhirnya surat utang itu akan digunakan untuk modal kerja.
Menurut Betrand, meskipun digunakan untuk modal kerja, tetap saja MTN itu tidak akan mengangkat saham BUMI. Pasalnya, aksi beli maupun aksi jual terhadap saham BUMI tidak dipengaruhi surat utang, capex dan segala macam aksi perseroan saat ini. "Yang kita lihat adalah bagaimana buttom line, profitnya bagaimana, seperti itu," tandasnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !