INILAH.COM, Jakarta Tren penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) selama tiga hari kemarin, tampaknya berakhir hari ini. Meskipun sentimen positif bertebaran di pasar, namun maraknya aksi profit taking, masih akan menekan emiten batubara ini.
Hal itu diungkapkan Betrand Rayanaldi, analis Panca Global Securities kepada INILAH.COM. Menurutnya, yang menjadi motor pergerakan saham BUMI saat ini adalah market. Terutama dari penguatan bursa global seiring rilisnya data ekonomi AS yang membaik dan hasil pertemuan G-20 yang positif.
Namun, secara teknikal, saham BUMI berpeluang besar melemah. Hal ini mengacu pada tren pergerakan harga emiten primadona ini, yang mengalami profit taking setelah dua hari menguat.
Adapun saat ini, BUMI sudah menguat selama tiga hari berturut-turut.
"Makanya, BUMI tidak bisa naik ke Rp 920. Kalaupun naik, itu hanya sementara dan setelah itu turun lagi. Apalagi sekarang adalah akhir pekan," katanya.
Pada perdagangan Jumat (3/4) sesi siang, saham BUMI terpantau stagnan di level Rp 900, dengan harga tertinggi 910 dan harga terendah Rp 880. Sedangkan volume transaksi mencapai 305,813 lembar saham dengan nilai transaksi Rp 137,4 miliar dan frekuensi 2,357 kali.
Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.
Bagaimana prediksi pergerakan saham BUMI?
Secara teknical BUMI sudah menembus Rp900-an dan masih ada potensi penguatan ke 920, berikutnya ke Rp950. Tapi saat ini berusaha di level Rp900. BUMI itu biasanya dua hari naik, setelah itu koreksi. Jadi kenaikan kemarin itu sebenarnya sudah hari ketiga. Ini jarang terjadi.
Berarti, peluang profit taking hari ini cukup besar?
Ya. Makanya, BUMI tidak bisa naik ke Rp 920. Kalaupun naik, itu hanya sementara dan setelah itu turun lagi. Apalagi sekarang adalah akhir pekan. Potensi pergaerakan BUMI ke level di bawah Rp 900 lebih besar. Namun, tidak banyak support di sana, kalau BUMI turun lagi. Support BUMI ada di Rp830 dan level resistan-nya di level 920.
Sentimen apa saja yang memicu pergerakan saham BUMI?
Yang mendrive pergerakan saham BUMI saat ini adalah market. Itu yang paling berpengaruh terhadap saham BUMI. Jadi penguatan suatu saham tidak mesti akibat individual sentimen. Saat ini memang market yang mendongkrak BUMI. Penguatan bursa terjadi karena ada sentimen G-20, yang diharapkan positif, selain laporan beberapa data AS yang memang bagus. Jadi, ke depannya mesti lihat datanya seperti apa. Soalnya, meskipun bagus, data itu belum terlalu signifikan. Tapi bottom-nya bursa global, masih dipengaruhi G20.
Bagaimana sentimen dari Medium Term Notes (MTN) senilai US$ 32,30 juta?
Saat ini para analis belum merefleksikan ke harga sekarang. Namun, hal-hal seperti itu semuanya sudah difaktorkan sebelumnya, baik surat utang medium dan lainnya. Rencana itu sudah ada sebelumnya. Artinya hari ini sentimen MTN itu belum akan diserap pasar. Tapi, kita juga wait and see. Mengeluarkan surat utang terlalu banyak untuk apa.
Meskipun MTN itu digunakan untuk modal kerja, tidak akan mengangkat saham BUMI.
Masalahnya, aksi beli maupun aksi jual terhadap BUMI tidak dipengaruhi surat utang, capex dan segala macam. Yang kita lihat adalah bottom line-nya, profitnya. Jadi, kalau BUMI turun, memang secara technical akibat profit taking. [E2]