INILAH.COM, Jakarta - Kasus PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) diakui mumpuni mengerek harga-harga sektor pertambangan, terutama perusahaan tambang BUMN. Itu terlihat dari pergerakan saham PT Aneka Tambang Tbk pada perdagangan Senin (6/4).
Pencapaian ANTM dari sisi volume dan nilai perdagangan pagi ini diyakni akan mampu membawa harga saham ini menggapai level Rp 1.500.
Pada awal perdagangan hari ini, saham ANTM naik Rp 50 menjadi Rp 1.250, dengan volume perdagangan sebanyak 133.061 lot senilai Rp 82,612 miliar dan frekuensi 1.223 kali.
Menurut pengamat pasar modal Al Fatih, di samping harga komoditas yang sedang naik daun, kabar BUMN pertambangan akan mengambil alih jatah pemerintah untuk mengakuisisi saham NNT, merupakan nilai tambah bagi investor untuk mengoleksi saham emiten tersebut.
Ia mencontohkan harga saham ANTM sekitar satu jam menjelang penutupan sesi pertama perdagangan hari ini telah bertengger di kisaran Rp 1.300 atau naik Rp 130 dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 1.200 dengan jumlah penawaran mencapai 1.320 kali dan permintaan di pasar sebesar 1.330 kali.
"Ini sudah konsekuensi logis kalau pemerintah akan mengambil saham Newmont, jelas BUMN tambang yang akan berperan. Resistensi awal mungkin Rp 1.330, tapi selanjutnya Antam bisa mencapai Rp 1.500 karena harga komoditas juga lagi bagus sekarang," kata Al Fatih kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (6/4).
Pada transaksi di lantai bursa hari ini, selain ANTM juga terdapat saham emiten tambang lain yang mengalami peningkatan, seperti PT Timah Tbk (TINS) yang tercatat naik sebesar Rp 70 dari sebelumnya Rp 1.160 menjadi Rp 1.230 dengan jumlah permintaan mencapai 1.230 kali. [tra]