INILAH.COM, Jakarta - Naik turun indeks pasar modal adalah suatu hal lumrah. Pergerakan permintaan dan penawaran yang menjadi sebab dan akibat fluktuasi harga saham tersebut, merupakan konsekuensi dari hukum besi ekonomi yang dinamis.
Namun demikian, adalah penting bagi investor untuk membaca bagaimana tren pergerakan tersebut. Dasar utama dari tren tersebut adalah fundamental perekonomian suatu negara. Bila kondisinya membaik, ditandai dengan peningkatan gradual yang terukur serta nilai transaksi harian yang meningkat.
Indikator terakhir menunjukkan market capitalization suatu negara. Bila korporasi melihat kapilitasasi pasar sebagai sesuatu yang prestise untuk menunjukkan kelas sebuah perusahaan, negara juga meletakkan indikator tersebut sebagai benchmark sebuah negara dalam radar investor dunia.
Penguatan bursa saham dalam sepekan lalu yang menembus angka 7%, membuat kalangan analis menilai bahwa kondisi pemulihan sektor finansial telah di depan mata. Apalagi transaksi yang dibukukan tergolong sehat di angka Rp 2,6 triliun.
Pengamat pasar modal Dandossi Matram menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi hanya 1,7% dari penguatan lebih dari 7% dalam sepekan terakhir. "Ini merupakan technical correction yang wajar dan sehat bagi pasar dan tren kenaikan indeks," ujarnya.
Menurut Dandossi, koreksi indeks lebih disebabkan mengikuti sektor global dan regional. Bursa global dan regional yang memburuk disebut sebagai penyebab utama tergerusnya indeks ke teritori negatif.
Dandossi menilai bahwa dengan angka perdagangan di atas Rp 2 triliun, maka koreksi yang terjadi cukup baik bagi indeks untuk menunjukkan posisi yang lebih solid.
"Ke depan indeks akan terus menguat hingga akhir tahun. Penguatan indeks yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir semakin menguatkan tanda-tanda tersebut," lanjutnya [E1]