Kamis, 24 Mei 2012 | 05:25 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Nikmati Saham Saat Euforia Pemilu
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Bastaman
web - Selasa, 14 April 2009 | 10:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Lupakan soal krisis ekonomi dan Pemilu legislatif yang telah berlangsung pekan lalu. Ada baiknya perhatian kini lebih diarahkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Maklum, mendekati Pemilihan Presiden Tahap I Juli mendatang, saham-saham di bursa akan sangat ramai diperdagangkan.
Tak hanya itu, jika pintar memilih saham, bukan tidak mungkin juga bisa mendapatkan untung besar dalam waktu singkat. Pengalaman di masa lalu memang telah membuktikan bahwa momen pemilu selalu dijadikan ajang spekulasi para investor.
Ketika Abdurrahman Wahid naik ke kursi presiden, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terbang ke level 631 dari posisi 583. Tren itu juga terjadi ketika duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.
Boleh jadi, kenaikan IHSG tersebut sebagai cermin ekspektasi pasar terhadap duet SBY-JK. Lantas bagaimana Pemilihan Presiden 2009? Kalau melihat kejadian di 2004, ekspektasi pasar terhadap duet SBY-JK cukup tinggi.
Itu sebabnya, ketika duet ini terpilih jadi presiden dan wakil presiden untuk periode 20042009, IHSG sempat naik. Dan kecenderungan seperti itu tampaknya masih akan berlanjut di Pilpres tahun ini.
Yang mungkin masih menjadi pertanyaan para investor saat ini adalah, siapa calon pendamping SBY di Pilpres nanti? JK, Hidayat Nurwahid, atau Sri Mulyani, atau siapa?
Masih gelap, memang. Yang jelas, setelah Pilpires tahap pertama, Juli depan, saham-saham di BEI diyakini bakal bergoyang mengikuti alur presiden dan wakil terpilih. Pertanyaannya sekarang, mana yang lebih baik, trading jangka pendek atau panjang?
Menurut seorang analis pasar modal, investor sebaiknya masuk ke pasar hingga 30 hari setelah sumpah jabatan. Sebab, euforia di bursa saham akan terjadi sampai dengan saat itu.
Nah, bila kemudian sudah terjadi koreksi, investor sebaiknya membeli untuk jangka panjang. "Kita bisa lihat nanti pada 100 hari pertama, kerja presiden terpilih seperti apa. Juga hubungannya dengan parlemen. Di situlah waktu untuk mengambil keputusan," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.