INILAH.COM, Jakarta - Jelaslah sudah sikap PBB dalam koalisi. Bukan Blok M alias Mega yang dipilih PBB, melainkan Blok S alias SBY. Pertemuan PBB dengan Partai Demokrat membahas koalisi lanjutan lebih detil. PBB menganggap koalisi dengan PD lebih utama.
"Koalisi PD dan PBB lebih utama dan pertama dibanding koalisi dengan partai lain," kata Sekjen PBB Sahar L Hassan usai pertemuan dengan Partai Demokrat di Mid Plaza, Jakarta, Selasa (14/4).
Dituturkan dia, secara historis pada Pemilu 2004 lalu, PBB mengikuti koalisi pengusung SBY-JK. Koalisi tersebut belum berakhir hingga saat ini.
"Kita masih dalam satu perahu. Secara teknis nanti ditindaklanjuti oleh Sekjen dan seluruh anggota tim. Kalau tadi membahas soal masalah yang umum saja, artinya kita meneruskan koalisi," jelas Sahar.
Mengenai siapa cawapres SBY, Sahar mengaku hal itu tidak dibahas dalam pertemuan selama 30 menit tadi. "Presidennya kan sudah pasti SBY. Tapi cawapres, huruf A-nya saja belum disebut," ujarnya.
Sahar menampik sikap PBB yang tidak berperasaan karena tidak merasa keberatan menjalin hubungan dengan PD, padahal Yusril Ihza Mahendra pernah dikeluarkan dari kabinet. Keretakan yang pernah ada dianggap sebagai hal biasa.
"Suami istri juga ada saja piring melayang. Sedikit-sedikit ada keretakan. Tapi jangan sampai putus," tandasnya.
Pertemuan antara PD dan PBB berlangsung di Restoran The Griil, Mid Plaza, Jakarta, pukul 13.00 WIB. Pertemuan tertutup selama 30 menit itu dihadiri rombongan PD antara lain Ketua Umum Hadi Utomo, Ketua DPP Anas Urbaningrum, Syarif Hasan, dan Ruhut Sitompul. Sementara tim dari PBB adalah Ketua Umum MS Kaban, jajaran DPP Dahlan Abdul Hamid, Abdul Kadi Ramalele, Syarifin Maloko, dan Sahar L Hassan. [ikl/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !