INILAH.COM, Jakarta - Pemilu tidak ada kaitannya dengan peningkatan peredaran uang palsu walaupun tahun ini ada kencenderungan mengalami peningkatan.
Hal itu ditegaskan Kabiro Kebijakan Pengedaran Uang, Direktorat Pengedaran Uang
BI, Yopie Darsa Alimudin. "Tahun ini ada kecenderungan peredaran uang palsu meningkat, tetapi tidak ada hubungannya dengan pemilu," katanya di Gedung BI, Kamis (16/4).
Indikasi peningkatan dengan temuan data per Maret 2009 sudah 5 dibanding 1 juta lembar.
Kalau secara kasar maka dikalikan empat triwulan yang ada. "Walaupun datanya kita masih tunggu data di akhir 2009 nanti," ujarnya.
Data temuan Polri per Maret mencapai 15.509 lembar uang palsu. Sedangkan temuan bank BUMN dan swasta mencapai 5.855 lembar uang palsu.
Peredaran uang palsu terkait langsung dengan kondisi perekonomian. Kalau inflasi naik, nilai rupiah melemah terus, PHK meningkat dan kriminalitas meningkat, maka uang palsu juga akan meningkat.
"Tetapi saya tidak menyimpulkan tahun ini ekonomi lagi bagaimana, yang jelas kecenderungannya meningkat," tuturnya.
Dari data 2004, perbandingan uang palsu sekitar 6 dibanding 1 juta lembar. Pada 2006 meningkat menjadi 16 dibanding 1 juta lembar. Kemudian pada 2007 menurun menjadi 7 dibandingkan 1 juta lembar, dan pada 2008 meningkat sedikit menjadi 9 dibandingkan 1 juta lembar.
BI selama ini mengalami kesulitan mengganti desain baru karena banyak pihak yang mengaku menjadi ahli waris setiap gambar pahlawan yang akan dimasukkan dalam desain. Kasus terakhir, banyak pihak yang mengaku ahli waris pahlawan Sultan Baddarudin dari Palembang untuk desain uang pecahan 10.000. [tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !