INILAH.COM, Jakarta - PT PLN (Persero) akan membangun sendiri sejumlah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang masuk dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW tahap kedua.
Direktur Perencanaan dan Strategi PLN Bambang Praptono di Jakarta, Kamis (16/4) mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) guna membangun proyek PLTP tersebut. "Kami berencana membangun sejumlah PLTP yang masuk proyek 10.000 MW," katanya.
Menurutnya, saat ini pihaknya masih mengkaji lokasi proyek PLTP yang akan dibangun sendiri tersebut. Ia mengatakan, pendanaan proyek PLTP akan berasal dari pinjaman dan internal perusahaan.
Bambang menambahkan, hingga saat ini, pihaknya masih memfinalisasi daftar lokasi proyek-proyek yang akan masuk dalam proyek 10.000 MW tahap kedua. "Dalam waktu dekat, kami akan serahkan ke pemerintah," katanya.
Berdasarkan data sementara, proyek PLTP 10.000 MW tahap kedua yang akan dikerjakan PLN adalah Sembalun 20 MW, Ulumbu 10 MW yang didanai Asian Development Bank (ADB), Kotamabagu 80 MW, dan Lahenong 4 20 MW dari ADB.
Selain itu, PLTP Lahendong Optimasi 25 MW, Lahendong 5 20 MW, Hululais 165 MW, Lumut Balai 1-2 110 MW, Lumut Balai 3-4 55 MW, Sungai Penuh 110 MW, dan Ulubelu 110 MW dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC).
Secara keseluruhan, PLN menyiapkan sebanyak 102 proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW tahap kedua dengan total kapasitas 10.126 MW senilai US$ 15,47 miliar.
Sebanyak 5.399 MW senilai US$ 6,495 miliar di antaranya sebagai proyek PLN dan 4.727 MW lainnya sebesar US$ 8,975 miliar merupakan pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP).
Proyek 10.000 MW tahap kedua terdiri dari PLTP sebesar 29%, PLTA 12%, PLTGU 14%, dan PLTU 45%.
Di luar proyek sebanyak 10.126 MW yang disebut core project, PLN juga menyiapkan pembangkit non core project berkapasitas 1.705 MW senilai 4,263 miliar dolar AS melalui skema IPP.
Pembangkit core project adalah proyek PLTP yang telah memperoleh wilayah kerja pertambangan panas bumi dengan target operasi 2010-2014, sedang non core project ditargetkan beroperasi setelah 2014.
Namun, daftar proyek 10.000 MW tersebut masih bisa berubah sesuai info terakhir Direktorat Panas Bumi Departemen ESDM dan keseimbangan pasokan dan permintaan.
Selain itu, melihat pula kemampuan keuangan PLN dan membahas ulang daftar proyek dengan Ditjen Listrik dan Pemanfataan Energi Departemen ESDM, Kantor Wapres, Ditjen Minerbapabum Departemen ESDM, Menko Perekonomian, dan Menneg BUMN. [*/cms]