INILAH.COM, Jakarta Jika saja partai-partai politik Islam bergabung, sejatinya mereka masih bisa mengajukan sepasang calon presiden dan wakil presiden. Tapi, kenapa mereka tak hendak? Kecuali tak percaya diri, kekuatan logistik pun tipis.
Sementara, rujuklah kepada rekapitulasi perolehan suara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Kamis (16/4) pukul 21.00 WIB. Bila mampu menyatukan kekuatan, PKS, PAN, PPP, PKB, dan PBB, mengoleksi 26,81%. Dengan akumulasi suara sah nasional itu, di atas kertas mereka bisa mengajukan capres-wapres sendiri.
Toh, parpol Islam tak melakukan itu. Mereka malah asyik sendiri-sendiri mencari tempat melabuhkan koalisi. Sebagian mendekat ke Partai Demokrat, sebagian lagi ikut wira-wiri ke Teuku Umar, tempat dimana aktivitas PDI Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri kini lebih banyak terpusat.
Mengapa PKS, PPP, PBB, PBR, PAN, PKB dan parpol berbasis massa Islam lainnya tak bisa berpadu dan selalu mengekor parpol nasionalis dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2009? Jawabnya: partai-partai Islam itu tak percaya diri dan kesulitan logistik sehingga lebih baik bergabung ke SBY-JK atau kubu Mega, untuk menyelamatkan kantong mereka.
"Tentu, jika semua parpol berbasis massa Islam itu bersatu, mereka bisa membikin kaum nasionalis deg-degan. Jika urusannya soal logistik semata, memang sebaiknya partai-partai Islamis itu mengekor ke partai nasionalis saja, menjadi pelengkap penderita," kata Hadimulyo, mantan anggota DPR dan Kepala Litban DPP PPP.
Sudah bukan rahasia lagi, partai-partai Islam lemah dan marginal dalam soal logistik. Sehingga mereka bersikap pragmatis dan praktis. Sangat jauh dari ideologis-idealis akibat kekurangan logistik tadi.
Sejauh ini, PBB, PKB dan PKS hampir pasti bergabung ke PD dan Golkar dengan duet SBY-JK yang seolah tak ada lawannya. Semua itu akibat krisis logistik yang akut di tubuh parpol Islam, yang terpaksa bersikap 'timun wungkuk jago imbuh' bagi partai gajah dari sayap kebangsaan. Menyedihkan.
Partai-partai Islam umumnya dianggap atau dipercayai akan berjuang untuk menegakkan syariat bidang sosial-kenegaraan dalam mengelola Indonesia yang berdasar Pancasila jika mereka berhasil memegang kekuasaan.
Dalam banyak jajak pendapat atau survei politik menjelang Pemilu 2009 dilaporkan bahwa partai Islam hanya akan menjadi partai kelas menengah. Artinya, perolehan suaranya tidak lebih dari 6%. Perolehan ini amatlah jauh dibanding perolehan dari partai sekuler seperti Golkar, PDIP, atau Demokrat. Ditotal, jumlah suara mereka mencapai di atas 40%.
Kini jelas mudah dipahami, siapa gerangan yang susah jika dalam pemilu ini partai Islam kalah. Siapa yang akan gembira jika partai Islam kalah? Tentulah kaum nasionalis, di dalam dan luar negeri yang akan terus hidup semakin makmur secara materi dari hasil eksploitasi sumber daya alam, kekayaan materi, dan perusakan budaya luhur bangsa.
Dengan krisis logistik yang akut, partai-partai Islam hanya mengekor parpol nasionalis dan numpang hidup untuk bertahan dalam badai kehidupan. Partai-partai Islam menanti keajaiban dan pertolongan Tuhan untuk bisa mengajukan capresnya sendiri melawan kekuatan nasionalis sekuler di negeri ini.
Dalam Pilpres 2009 ini, partai-partai Islam nyaris tak mungkin bersatu. Mereka memilih jalan 'selamatkan diri' masing-masing karena sudah kalah logistik dan menyerah untuk melawan duet SBY-JK yang sulit tertandingi. [Habis/I4]