INILAH.COM, Jakarta Hingga Jumat (17/4) siang, bursa lokal masih mampu bertahan di area hijau. Indeks saham berpeluang menguat sepekan penuh, mengabaikan kondisi overbought jangka pendek. Saham Grup Bakrie pun masih bisa diandalkan.
Pada perdagangan siang ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 15,779 poin (0,97%) menjadi 1.640,866. Perdagangan saham mencatat transaksi 60.407 kali, dengan volume 6,023 miliar unit saham, senilai Rp 2,343 triliun. Sebanyak 69 saham naik, 70 turun dan 58 saham stagnan.
Edwin Sebayang, analis dari Finan Corpindo Nusa mengatakan, indeks saham berpotensi ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan. IHSG sebenarnya rawan koreksi dan telah memasuki area jenuh beli, namun bobot rating pasar berkembang diprediksi outperform dibandingkan pasar lainnya.
"Hal ini membuat investor memburu saham-saham di bursa domestik yang masih bervaluasi rendah," katanya. Laju bursa regional dan global juga mendorong kenaikan IHSG. "Saya lihat IHSG bisa menguat hingga penutupan nanti, dengan pergerakan antara 1.561-1.664," tambahnya.
Edwin merekomendasikan saham dari Grup Bakrie, seperti PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP). Seperti diketahui, pada perdagangan kemarin, saham Grup Bakrie lainnya terpantau naik akibat rencana induk usaha PT Bakrie & Brothers (BNBR) merestrukturisasi utang dan ekspektasi pulihnya ekonomi global.
Menurut Edwin, saham BUMI masih berpotensi menguat, terkait harganya yang masih murah. Meskipun emiten batubara ini mengalami penurunan laba pada 2008 lalu, namun kas setara kasnya mengalami peningkatan.
Dengan price to book value (PBV) 2009 yang diperkirakan sebesar 1,24 kali dan mempertimbangkan berbagai faktor, target harga untuk BUMI dipatok di angka Rp1.205 per unitnya. "Saya masih rekomendasikan buy untuk saham BUMI," tandasnya.
Demikian juga saham UNSP. UNSP menyatakan akan membagikan dividen 30% dari laba bersih perseroan tahun lalu yang sebesar Rp 173, 56 miliar. Selain itu perseroan akan menutup utang sebesar US$ 160 juta. "Stabilisasi harga CPO mampu membawa sentimen positif bagi emiten ini. UNSP masih bisa dibeli, dengan target harga Rp 577," imbuhnya.
Saham lain yang dinilai Edwin menarik adalah PT Indofood (INDF) terkait sentimen turunnya suku bunga dan penguatan rupiah terhadap dolar AS. Selain itu sifat industri saham INDF cenderung defensif dan posisi perseroan sebagai pemain dominan di industri makanan terintegrasi.
Siang ini saham INDF masih stagnan di level Rp 1.080 per unitnya. "Saya masih rekomendasikan beli untuk INDF dengan target harga mencapai Rp 1.358," ucapnya.
Sedangkan saham PT Medco Energy (MEDC) juga masih menarik, terkait kabar bahwa perseroan telah menunjuk empat penjamin emisi (underwriter) obligasi senilai Rp 1 triliun, yaitu Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas, Kresna Graha Sekurindo dan AAA Sekuritas.
Obligasi ini dilakukan untuk membiayai 30% belanja modal tahun ini sebesar US$ 288 juta dan membayar utang (refinancing) sebagian obligasi perseroan yang jatuh tempo Juli 2009.
Edwin memberi target harga di angka Rp 3.088 per unitnya. Sedangkan siang ini, saham MEDC masih berada di level Rp 2.675, naik 100 poin dari penutupan kemarin. "Saham MEDC masih berpotensi naik. Kalaupun terjadi koreksi, investor bisa memanfaatkan ini untuk akumulasi beli," imbuhnya.
Di sisi lain, kepala riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing menyarankan investor mewaspadai aksi ambil untung, yang merupakan fenomena di perdagangan akhir pekan. Selain karena IHSG sudah mengalami rally sejak awal pekan ini. "Indeks hari ini rawan profit taking dan akan bergerak antara 1.580-1.650," ujarnya.
Kendati demikian, ada beberapa saham yang menurutnya masih menarik. Salah satunya sektor konstruksi dan infrastruktur BUMN sebagai respon dari stimulus fiskal. Selain itu risiko juga kecil karena permodalan sebagaian besar dari pemerintah. "Investor bisa beli PT Telkom (TLKM), PT Adhi Karya (ADHI), dan PT Wijaya Karya (WIKA),"katanya.
Sedangkan sektor perbankan masih menarik karena memiliki fundamental kokoh dengan kinerja yang prospektif serta sentimen positif dari solidnya sektor keuangan AS. Saham yang menjadi pilihannya adalah PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). "Saham-saham ini berpotensi menguat dan selalu diburu investor," jelasnya.
Secara teknikal, tim riset Valbury securities menyatakan bahwa saham BMRI dan BBRI masih layak untuk dibeli. Mengacu pada PBV BMRI sebesar 1,7 kali, emiten ini diperkirakan bergerak dengan support Rp 2.000 dan Rp 2.175, serta level resistan di Rp 2.400 dan Rp 2.650.
Demikian juga saham BBRI secara teknikal akan bergerak dengan titik support di level Rp 4.550 dan Rp 4.850, serta level resistan pertama di Rp 5.150, selanjutnya Rp 5.500. Adapun PBV mencapai 3,13 kali. "Rekomendasi kami trading buy pada BMRI dan BBRI," ucapnya.[E1]