Inilah.com - Duniahariini http://www.inilah.com/ ID Inilah.com - Telinga, Mata, dan Hati Rakyat Copyright 2007-2017 inilah.com. All rights reserved. Tue, 25 Jul 2017 23:59:08 +0700 http://www.inilah.com/rss/feed/duniahariini http://www.inilah.com/ Inilah.com - Duniahariini http://www.inilah.com/assets/image/inilah-logo-feed.png 120 120 Pria dengan Gergaji Lakukan Serangan di Swiss http://ini.la/2393369 INILAHCOM, Jenewa - Seorang pria bersenjata gergaji mesin melukai sedikitnya lima orang di Swiss pada Senin (24/7/2017). Saat ini pelaku menjadi buronan setelah pembantaian yang menurut polisi 'bukan tindakan teroris'.

Otoritas pertama kali mendapat kabar serangan itu di Schaffhausen pada pukul 10.39 waktu setempat, lapor kantor berita ATS seperti dikutip dari AFP.

Petugas polisi, ambulans dan helikopter kemudian bergegas ke lokasi kejadian dan menutup area tersebut, mengevakuasi sejumlah lokasi bisnis dan pejalan kaki, menurut beberapa media.

"Untuk saat ini, ada lima orang yang terluka... dua di antaranya serius dan tiga lainnya ringan," kata juru bicara kepolisian Schaffhausen, Cindy Beer, dalam sebuah video yang diunggah di situs berita Blick.

Sejumlah saksi mata, termasuk seorang manajer toko setempat, mengatakan kepada Blick bahwa penyerangnya membawa sebuah gergaji mesin.

Penyerangnya telah diidentifikasi dan diyakini melarikan diri dengan sebuah kendaraan, kata ATS, mengutip polisi.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393369 Tue, 25 Jul 2017 16:05:00 +0700 Pria dengan Gergaji Lakukan Serangan di Swiss Pria dengan Gergaji Lakukan Serangan di Swiss Pria dengan Gergaji Lakukan Serangan di Swiss Pria dengan Gergaji Lakukan Serangan di Swiss
Serangan Udara AS di Suriah, 30 Warga Sipil Tewas http://ini.la/2393341 INILAHCOM, Damaskus - Sedikitnya 30 warga sipil tewas pada Senin (24/7/2017), ketika serangan udara pimpinan AS menyasar satu penjara yang dioperasikan oleh ISIS di Kota Ar-Raqqa di bagian utara Suriah, demikian laporan radio lokal, Sham FM.

Serangan oleh koalisi pimpinan AS tersebut mengenai penjara itu, tempat warga sipil ditahan oleh kelompok ISIS di bagian tengah Kota Ar-Raqqa, kata laporan tersebut.

Serangan itu dilancarkan beberapa jam setelah koalisi pimpinan AS menyerang beberapa deerah di Kota Mayadeen di Provinsi Deir Az-Zour di Suriah Timur, demikian laporan Xinhua, Selasa pagi. Sepuluh orang tewas dalam peristiwa itu, kata stasiun televisi Al-Mayadeen.

Sejak memasuki Suriah untuk memerangi IS pada 2014, koalisi pimpinan AS telah menewaskan puluhan warga sipil di berbagai daerah yang dikuasai oleh kelompok militan ISIS dan Suriah Timur dan Utara.

AS belum lama ini telah mendukung Pasukan Demokratis Suriah, pimpinan suku Kurdi, dalam desakan mereka untuk merebut Ar-Raqqa, Ibu Kota ISIS di Suriah.

Pada Minggu (23/7/2017), Al-Mayadeen melaporkan sebanyak 50 gerilyawan Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda, tewas dalam ledakan di Kota Idlib, Suriah Utara.

Beberapa mobil, yang berisi amunisi, meledak di dekat satu pertemuan gerilyawan Front An-Nusra, dan tak ada petunjuk lebih lanjut yang menunjukkan apakah pemboman itu direncanakan atau tidak sengaja.

Mobil tersebut milik gerakan pesaing Front An-Nusra, Ahrar Ash-Sham --yang kalah dominasi di Idlib pada Ahad pagi dari Front An-Nusra, atau Front bagi Pembebasan Levant, setelah pertempuran antara kedua kelompok itu.

Pertempuran antar-kelompok gerilyawan tersebut telah berkecamuk baru-baru ini di Idlib, yang sebagian besar dikuasai oleh Front An-Nusra. Sementara itu Ahrar Ash-Sham melaporkan penarikan diri dari kota tersebut.

Front An-Nusra, yang dimasukkan sebagai kelompok teror oleh masyarakat internasional dan PBB, dan dikeluarkan dari setiap kesepakatan bersama dengan kelompok ISIS.

Perang melawan Front An-Nusra telah mendorong beberapa kelompok gerilyawan yang bersekutu dengannya agar mundur di tengah laporan bahwa Ahrar Ash-Sham telah bersekutu dengan Tentara Suriah Bebas,yang didukung oleh Turki.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393341 Tue, 25 Jul 2017 15:20:00 +0700 Serangan Udara AS di Suriah, 30 Warga Sipil Tewas Serangan Udara AS di Suriah, 30 Warga Sipil Tewas Serangan Udara AS di Suriah, 30 Warga Sipil Tewas Serangan Udara AS di Suriah, 30 Warga Sipil Tewas
Yordania Desak PM Netanyahu Stop Pengaman Al-Aqsha http://ini.la/2393343 INILAHCOM, Amman - Raja Yordania Abdullah II pada Senin (24/7/2017) mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan tindakan keamanan baru di kompleks tempat suci Masjid Al-Aqsha di Yerusalem.

Ketika berbicara dengan Netanyahu melalui telepon, Raja Abdullah menekankan 'perlunya menemukan solusi secepatnya dan menghilangkan alasan terjadinya krisis yang sedang berlangsung di kompleks Haram al Sharif', demikian menurut pernyataan istana kerajaan yang dikutip kantor berita AFP.

Israel memasang detektor logam di pintu-pintu masuk ke kompleks tempat suci itu menyusul serangan 14 Juli yang menewaskan dua polisinya di dekat kompleks tersebut.

Peristiwa tersebut memicu bentrokan yang merenggut nyawa.

Warga Palestina melihat langkah itu sebagai upaya Israel untuk lebih mengendalikan kompleks yang mencakup masjid Al-Aqsha dan Masjid Kubah Batu atau Dome of the Rock itu.

Yordania adalah penjaga resmi tempat-tempat suci umat Islam di Yerusalem.

Raja Abdullah mendesak Netanyahu untuk membatalkan 'tindakan baru yang diberlakukan Israel sejak dimulainya krisis terbaru itu'.

Ia menekankan 'pentingnya satu kesepakatan mengenai kebijakan apa pun untuk mencegah eskalasi ini berulang di masa depan',menurut pernyataan Kerajaan Yordania.

Ribuan warga Yordania sudah berdemonstrasi menentang Israel di Amman dan kota-kota lain, menyerukan 'resistensi' terhadap 'serangan-serangan Zionis' dan menuntut pembatalan perjanjian damai 1994. 

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393343 Tue, 25 Jul 2017 15:10:00 +0700 Yordania Desak PM Netanyahu Stop Pengaman Al-Aqsha Yordania Desak PM Netanyahu Stop Pengaman Al-Aqsha Yordania Desak PM Netanyahu Stop Pengaman Al-Aqsha Yordania Desak PM Netanyahu Stop Pengaman Al-Aqsha
Erdogan Sebut Israel Langgar Hukum Internasional http://ini.la/2393339 INILAHCOM, Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin (24/7/2017) waktu setempat menuding Israel telah melanggar hukum internasional dalam krisis terkait tindakan pengamanan di kompleks Masjid Al-Aqsha di Kota Tua Yerusalem, menyebut negara Yahudi itu membahayakan diri sendiri dan kawasan.

Israel memasang detektor logam di pintu-pintu masuk menuju kompleks Haram al-Sharif, yang oleh orang Yahudi disebut sebagai Temple Mount, setelah serangan pada 14 Juli yang menewaskan dua polisinya. Langkah tersebut memicu kemarahan warga Palestina.

"Dengan mengabaikan hukum seperti itu, Israel tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga seluruh kawasan," kata Erdogan kepada wartawan di bandara Ankara setelah kembali dari kunjungan ke Teluk.

Pemimpin Turki itu menyebut langkah Israel 'tidak dapat diterima' dan mengatakan bahwa itu tidak dapat dibiarkan 'dalam diam dan tanpa jawaban'.

"Israel telah keliru mengambil langkah, saya akan mengatakan ini secara terang-terangan  memicu isolasi," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Pernyataan Erdogan itu disampaikan setelah sepekan bentrokan yang merenggut nyawa, sementara aparat penjaga di Kedutaan Besar Israel di Amman menembak mati dua warga Yordania setelah serangan itu. 

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393339 Tue, 25 Jul 2017 15:00:00 +0700 Erdogan Sebut Israel Langgar Hukum Internasional Erdogan Sebut Israel Langgar Hukum Internasional Erdogan Sebut Israel Langgar Hukum Internasional Erdogan Sebut Israel Langgar Hukum Internasional
Pentagon Jual Senjata ke Kantor Polisi Aspal http://ini.la/2393283 INILAHCOM, Washington DC - Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS, GAO yang bertugas mengaudit badan-badan federal AS, mengungkapkan Departemen Pertahanan AS menjual peralatan militer ke tangan pembeli abal-abal.

Axios.com mengabarkan Senin (24/7/2017), penjualan peralatan militer bernilai US$1,2 juta itu terjadi dalam Proyek The Marshall. Proyek raksasa yang berlangsung pada tahun 2014 silam. Kecerobohan Departemen Pertahanan AS dibuktikan GOA dengan membuat sebuah badan federal palsu.

Badan federal kepolisian yang tak disebut namanya itu, dibangun lengkap dengan sebuah situs yang seolah-olah telah menjalani penyaringan keamanan dan jaringan anti-terorisme. Alamatnya yang dibuat seolah valid itu, ternyata alamat sebuah lapangan parkir yang tidak terpakai sejak lama.

Dalam waktu waktu seminggu badan federal polisi itu menerima kiriman peralatan militer dari Pentagon. Peralatan militer itu terdiri dari teropong malam, simulasi senjata M-16 A2, peralatan pembautan bom pipa dari Pentagon lewat program bantuan bernama Program 1033 Clinton.

“Mereka langsung mengirim peralatan canggih itu lewat pos, tanpa meneliti keabsahan badan kepolisian yang aspal itu,” tutur Zina Merritt, direktur tim kemampuan pertahanan GAO. “Seharusnya mereka mendatangi dulu kantor polisi aspal itu, untuk mengecek kebenarannya. Ini malah langsung kirim saja. Seperti jualan di eBay saja,” kata Zina Merritt.

Program 1033 Clinton, adalah program di zaman Presiden Clinton yang membantu kepolisian daerah menerima peralatan militer yang tidak dipakai oleh militer AS. Presiden Barrack Obama juga pernah mengeluarkan perintah eksekutif Presiden, menggunakan Program 1033 Clinton, guna membantu para petugas kepolisian di Ferguson, Missouri menangani kasus penembakan Michael Brown, 2014.

Setelah terbongkar, Pentagon berjanji akan melakukan penelitian awal lebih dahulu. Termasuk mengunjungi kantor kepolisian yang butuh bantuan militer. Departemen Pertahanan AS juga berjanji akan melakukan penyelidikan internal untuk membongkar sejumlah pemalsuan yang berlangsung di Pentagon, sebelum April 2018 nanti.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393283 Tue, 25 Jul 2017 12:47:00 +0700 Pentagon Jual Senjata ke Kantor Polisi Aspal Pentagon Jual Senjata ke Kantor Polisi Aspal Pentagon Jual Senjata ke Kantor Polisi Aspal Pentagon Jual Senjata ke Kantor Polisi Aspal
Remaja AS Dibebaskan dari Penjara China http://ini.la/2393282 INILAHCOM, Montana - Guthrie McLean dibebaskan dari penjara Zhengzhou, Senin (24/7/2017), setelah hampir dua bulan ditahan gara-gara bertengkar dengan seorang sopir taksi.

Kantor berita Associated press melaporkan, pembebasan Guthrie disambut sukacita oleh Jennifer McLean, ibundanya. “Saya sangat, sangat, sangat senang saat melihat anakku berada di depan pintu rumahku,” kata Jennifer McLean, seorang guru yang mengajar dan tinggal di sebuah kota di China Tengah. “Prosesnya belum selesai sih, mudah-mudahan bisa mulus,” sambung Jennifer yang menderita tuna rungu.

Kisah ini terjadi suatu hari di Maret lalu. Saat turun dari taksi, Guthrie dan ibunya berargumentasi soal tarif perjalanan yang harus dibayar. Entah kenapa tiba-tiba sopir taksi mendorong Jennifer, hingga Guthrie pun naik pitam dan membanting sopir taksi itu ke tanah. Urusan pun jadi panjang, setelah sopir taksi melapor ke polisi setempat.

Kejadian itu tak diungkap secara jelas. Singkat cerita Pemerintah China konon meminta kompensasi sebesaar US$7.400 dan mengancam hendak menahan Guthrie selama tiga tahun bila tak bersedia membayar. Setelah melakukan negosiasi dengan pemerintah China selama beberapa hari, Guthrie pun dibebaskan.

“Kami sama-sama mencapai kesepakatan kasus ini tidak dilanjutkan lagi,” tutur Steve Daines, Senator dari Montana yang ikut campur tangan dalam kasus ini. Bahkan beberapa pejabat tinggi AS seperti Menlu Rex Tillerson dan Dubes China untuk AS, Cui Tiankai juga ikut merundingkan kebebasan Guthrie.

Pekan depan, Guthrie McLean, 25, akan kembali ke Montana, untuk melanjutkan kuliahya selama dua tahun lagi di di bidang East Asia Studies, University of Montana di Missoula, AS. Sejak remaja Guthrie McLean tinggal bersama Jennifer McLean, ibundanya yang berprofesi sebagai guru di sebuah kota di China Tengah.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393282 Tue, 25 Jul 2017 12:16:00 +0700 Remaja AS Dibebaskan dari Penjara China Remaja AS Dibebaskan dari Penjara China Remaja AS Dibebaskan dari Penjara China Remaja AS Dibebaskan dari Penjara China
Belasan Imigran Gelap Tewas Dalam Peti Kemas http://ini.la/2393281 INILAHCOM, San Antonio - James Matthew Bradley Jr, diancam hukuman manti karena membawa hampir seratus imigran tak berdokumen di dalam peti kemas yang panasnya mencapai 38 derajat celcius atau 100 Farenheit.

Majalah TIME mengabarkan Senin (24/7/2017), lebih dari 10 orang tewas dan sekitar 90 orang lainnya mengalami dehidrasi akut, terbekap di dalam peti kemas tanpa lubang hawa. Para imigran tak berdokumen itu diselundupkan James Matthew Bradley Jr dari perbatasan Mexico menuju San Antonio. Selama perjalanan sepanjang 240 kilometer itu, para korban dibiarkan mati lemas, padahal banyak di antara mereka telah menggedor dinding peti kemas sejak lama.

Dalam pengakuannya di pengadilan San Antonio, James Matthew mengaku tak tahu peti kemas pesanan majikannya itu berisi manusia. “Saat saya buka pintunya, saya kaget melihat mereka menggedor-gedor lantai dan dinding peti kemas,” kata James Matthew.

Namun jaksa penuntut umum tak percaya begitu saja. Sopir peti kemas berusia 60 tahun itu dituntut hukuman mati, karena tahu mesin pendingin dalam peti kemas itu tak berfungsi, dan lubang ventilasi tak dapat dibuka.

Kasus ini terbongkar Ahad malam, setelah salah seorang penumpang peti kemas maut itu menghampiri seorang pengunjung Wal-Mart dan minta air karena kehausan. Para diplomat Mexico dan AS menduga para penumpang itu berasal dari Guatemala dan Mexico yang hendak masuk secara ilegal ke AS. “Meski pengemudinya telah ditahan, saya berani jamin banyak lagi pelaku yang terlibat dalam kasus ini,” tutur Thomas Homan, akting Direktur Petugas Imigrasi, ICE.

Patroli penjaga perbatasan melaporkan, sedikitnya ada empat truk yang ditangkap di Laredo, Texax. Pada 7 Juli lalu, mereka menemukan 72 pendatang gelap dari Mexico, Ecuador, Guatemala dan El Salvador, disembunyikan di dalam truk. “Tragedi seperti ini semakin parah, lebih berbahaya dan menjadi pengalaman yang sangat mahal,” kata Bob Libal, aktivis imigrasi AS. “Kami mendorong petugas imigrasi agar menangkap pentolannya,” sambung Bob Libal.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393281 Tue, 25 Jul 2017 11:45:00 +0700 Belasan Imigran Gelap Tewas Dalam Peti Kemas Belasan Imigran Gelap Tewas Dalam Peti Kemas Belasan Imigran Gelap Tewas Dalam Peti Kemas Belasan Imigran Gelap Tewas Dalam Peti Kemas
Perburuan Badak di Afsel Mulai Menurun http://ini.la/2393149 INILAHCOM, Johannesburg - Pemerintah Afrika Selatan mengumumkan bahwa terjadi sedikit penurunan jumlah badak di Afrika Selatan yang dibunuh untuk memperoleh culanya pada paruh pertama tahun ini.

Meski demikian, Pemerintah Afsel pada Senin (24/7/2017) juga menyampaikan bahwa lebih dari 500 ekor masih dibantai.

Afsel berjuang mengatasi perburuan badak yang dipicu oleh permintaan cula yang terus-menerus di Asia.

Sebagian besar permintaan itu berasal dari China dan Vietnam, tempat cula badak itu diubah menjadi obat tradisional, afrodisiak atau simbol status.

"Total dari 529 badak telah diburu sejak Januari 2017, dibandingkan dengan 542 pada periode yang sama 2016, menunjukkan penurunan sebanyak 13 badak," ungkap Menteri Urusan Lingkungan Edna Molewa kepada wartawan.

"Penurunan jumlah ini tidak berarti bahwa kami dapat menyatakan kemenangan (tetapi) tren penurunan ini sedang terjadi, mendorong kami untuk terus optimistis tetapi tetap waspada."

AFP melaporkan, Taman Nasional Kruger sejauh tahun ini mencatatkan penurunan tingkat pembunuhan badak sebesar 34 persen.

Namun, perburuan tersebut berpindah ke tempat lain, dengan sang menteri melaporkan 'jumlah perburuan badak sayangnya meningkat di beberapa provinsi lain'. 

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393149 Mon, 24 Jul 2017 20:29:00 +0700 Perburuan Badak di Afsel Mulai Menurun Perburuan Badak di Afsel Mulai Menurun Perburuan Badak di Afsel Mulai Menurun Perburuan Badak di Afsel Mulai Menurun
Popularitas Presiden Macron Merosot http://ini.la/2393146 INILAHCOM, Paris - Bulan ini, presentase tingkat popularitas Presiden Prancis Emmanuel Macron merosot 10 poin, menurut jajak pendapat Ifop, yang menjadi penurunan terbesar untuk seorang presiden baru sejak 1995.

Jajak pendapat tersebut, yang diterbitkan di surat kabar Journal du Dimanche, mengatakan 54 persen orang di Prancis merasa puas dengan Macron pada bulan Juli, atau turun dari 64 persen pada Juni.

Survei itu menambahkan, terakhir kalinya seorang presiden baru terpilih yang mengalami hal serupa adalah Jacques Chirac pada tahun 1995, demikian lansir Reuters.

Macron mengalami bulan yang sulit, ditandai dengan perselisihan publik atas pemotongan belanja militer yang berbuntut pada pengunduran diri kepala pasukan gabungan Jenderal Pierre de Villiers.

Macron juga mengesampingkan perdana menterinya dengan berjanji untuk terus melakukan pemotongan pajak pada tahun 2018, sementara rencana untuk mengurangi tunjangan perumahan juga mendapat kritikan.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393146 Mon, 24 Jul 2017 19:41:00 +0700 Popularitas Presiden Macron Merosot Popularitas Presiden Macron Merosot Popularitas Presiden Macron Merosot Popularitas Presiden Macron Merosot
Polisi Israel Tendang Jamaah Palestina Saat Salat http://ini.la/2393144 INILAHCOM, Yerusalem - Sebuah video yang merekam suasana kerusuhan yang terjadi di sekitar komplek Masjid Al-Aqsha viral dunia maya. Video itu memperlihatkan bagaiamn seorang polisi Israel menendang seorang pria yang tengah salat saat kerusuhan terjadi.

Video yang berdurasi 45 detik itu diunggah oleh akun Malek Hussein dari cuplikan stasiun televisi Aljazeera tiga hari lalu itu sontak cepat menyebar di media sosial.

Pada video itu terlihat seorang polisi Israel yang membawa senapan menendang jemaah Palestina yang sedang salat di tengah kerusuhan. Di sekeliling pria yang ditendang itu warga Palestina terlihat telah berlaria dibubarkan aparat Israel dengan tembakan gas air mata.

Pada Jumat (21/87/2017) lalu warga Muslim Palestina menggelar Salat Jumat di luar masjid sebagai bentuk protes.

Pasalnya, Israel telah melarang warga Muslim masuk ke dalam masjid menyusul peristiwa penembakan yang menewaskan tiga pemuda Palestina dan dua polisi Israel di kompleks masjid suci ketiga umat Islam sedunia itu dua pekan lalu.

Tak sampai disitu, tensi kedua negara juga makin meningkat akibat otoritas Israel juga memasang alat pemindai logam, kamera infra merah, di gerbang masuk Al-Aqsha.

]]>
Duniahariini Inilahcom http://ini.la/2393144 Mon, 24 Jul 2017 19:16:00 +0700 Polisi Israel Tendang Jamaah Palestina Saat Salat Polisi Israel Tendang Jamaah Palestina Saat Salat Polisi Israel Tendang Jamaah Palestina Saat Salat Polisi Israel Tendang Jamaah Palestina Saat Salat