Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/ ID Inilah.com - Telinga, Mata, dan Hati Rakyat Copyright 2007-2017 inilah.com. All rights reserved. Mon, 20 Nov 2017 20:47:00 +0700 http://www.inilah.com/rss/feed/mozaik http://www.inilah.com/ Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/assets/image/inilah-logo-feed.png 120 120 Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri http://ini.la/2418812 ORANG yang melakukan bunuh diri ada beberapa sebab yaitu ada yang karena himpitan ekonomi, karena penyakit, karena keadaan yang sudah sepuh dan kesendirian. Kalau memang karena penyakit, maka kewajibannya harus bersabar. Kalau memang karena himpitan ekonomi, maka dengan meningkatkan ketakwaan.

Kalau memang karena kesendirian dan usia lanjut, maka hendaknya sudah menjadi perhatian anak-anak untuk mengurus orang tuanya. Kalau bertakwa, tentu Allah akan berikan jalan keluar. Dalam ayat disebutkan, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

Juga siapa yang bertawakkal yaitu pasrah dalam setiap urusan, maka Allah akan beri kecukupan. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”  (QS. Ath-Thalaq: 3)

Intinya solusi utama agar seseorang selamat dari bunuh diri adalah memiliki iman yang kuat. Iman diperoleh lewat majelis-majelis ilmu. Dengan berada di majelis ilmu, seseorang akan mendapatkan kebaikan. Ketika Mu’awiyah berkhutbah, ia mengatakan bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang dikendaki Allah akan mendapatkan kebaikan, Allah akan memahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari, no. 71; Muslim, no. 1037)

[Naskah Khutbah oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Adz-Dzikra]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418812 Mon, 20 Nov 2017 18:00:00 +0700 Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri
Pernahkah Rasulullah Bersalah? http://ini.la/2418847 Khazanahalquranmenulis, bahwa sebagian orang meyakini bahwa Rasulullah saw pernah melakukan kesalahan.

Mereka berpendapat bahwa beliau maksum (terjaga dari salah dan dosa) hanya ketika diutus sebagai nabi, sebelum itu beliau dikatakan “tidak terjaga” dan bisa saja melakukan kesalahan. Bahkan sebagian lagi berpendapat bahwa Nabi Muhammad itu tidak beriman sebelum menjadi nabi.

Untuk mencari jawaban dari pernyataan ini, marilah kita renungkan sejenak ayat-ayat berikut ini….

Sejak Nabi Musa as lahir, Allah telah Merencanakan skenario yang begitu indah untuk menyelamatkan nabi-Nya dari keganasan Fir’aun.

Dia Memerintahkan ibu Musa untuk menghanyutkannya di sungai hingga diselamatkan oleh istri Fir’aun sendiri. Hingga dewasa pun, Fir’aun tidak pernah mampu menggagalkan dakwah Nabi Musa kepada umatnya.

Semua ini dapat terjadi karena Musa berada langsung dibawah pengawasan dan penjagaan Allah swt. Seperti dalam Firman-Nya,

“Dan agar engkau (Musa) diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS.Thaha:39)

Sekarang kita mulai akan menyimpulkan bahwa ternyata Nabi Musa as telah berada dalam “penjagaan” dan “pengawasan” Allah sejak masih bayi. Sementara kita tau bahwa Nabi termulia dari deretan para Nabi adalah Nabi Muhammad saw.

Mungkinkah Nabi Musa berada dalam pengawasan Allah sejak bayi sementara Nabi Muhammad baru memdapatkannya setelah menjadi Nabi?

Mungkinkah Nabi Musa “dijaga” oleh Allah sejak awal kelahirannya sementara Nabi Muhammad baru mendapat penjagaan setelah diutus sebagai Rasul?

Sungguh hal yang mustahil…

Karena Allah pun menggunakan kata yang sama seperti yang digunakan kepada Nabi Musa, yaitu dengan kata عَلَىعَيْنِي(dibawah “Penglihatan” atau “Pengawasan”-Ku) seperti dalam Firman-Nya,

“Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu Ketetapan Tuhan-mu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami.” (QS.At-Thur:48).

Jika Nabi Musa dibawah pengawasan Allah sejak bayi, maka Nabi Muhammad pasti mendapat kemuliaan yang lebih agung dari Musa. Beliau telah terjaga dari segala kesalahan, bahkan ketika masih kanak-kanak dan belum diutus sebagai Nabi.

Bagaimana Nabi Muhammad akan melakukan kesalahan sementara beliau adalah Makhluk termulia dan Ciptaan paling sempurna yang telah mendapat stempel dari Allah sebagai Uswatun Hasanah, contoh bagi seluruh umat manusia.“Allah telah mendidikku dan itulah sebaik-baik didikan” (Rasulullah saw).

Dalam berbagai Firman-Nya, Allah selalu Mengagungkan Nabi Muhammad saw. Lalu mengapa kita pelit untuk mengagungkan seorang yang telah Diagungkan oleh Allah dengan kemuliaan yang tak terhingga?  []

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418847 Mon, 20 Nov 2017 17:00:00 +0700 Pernahkah Rasulullah Bersalah? Pernahkah Rasulullah Bersalah? Pernahkah Rasulullah Bersalah? Pernahkah Rasulullah Bersalah?
Waspadalah dengan Keluarga Kita! http://ini.la/2418830 SETIAP dari kita mungkin pernah mengalami hal yang sama, di saat rasa sayang dalam keluarga mengalahkan batas-batas syariat Allah swt.

Di waktu kecil, mungkin seorang ibu pernah membiarkan anaknya tidak salat subuh karena tak tega melihatnya kelelahan. Mungkin seorang ayah rela mengambil harta yang bukan haknya karena keluarganya menginginkan sesuatu.

Mungkin seorang suami tetap menuruti istrinya padahal keinginan itu sebenarnya berdosa. Mungkin istri tidak mau menegur kebiasaan suaminya karena ingin menghindari pertengkaran dalam rumah tangga, padahal kebiasaan itu termasuk kemaksiatan kepada Allah swt.

Bangunan keluarga adalah bangunan yang paling dicintai oleh Allah swt. Namun ingat, keluarga juga dapat menyeret kita ke jurang neraka.

Rasulullah saw pernah berwasiat kepada Ibnu Mas’ud dalam sabdanya, “Wahai Ibnu Mas’ud, jangan sampai kecintaanmu kepada keluarga dan anak-anakmu membuatmu terjerumus pada kemaksiatan dan hal-hal yang haram, karena Allah pernah berfirman, “

“Pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syuara:88-89)

Dan perbanyaklah berdzikir kepada Allah dan beramal sholeh karena Allah berfirman,

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS.Al-Kahfi:46)

Semua yang kita miliki tak akan berarti jika tidak di investasikan untuk kehidupan akhirat. Harta, istri dan anak tidak akan berguna jika tidak menjadi kendaraan kita untuk semakin dekat dengan Allah swt.

Karena itu, jadikan keluarga kita sebagai penolong dalam mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai mereka sebagai penghalang yang menjauhkan kita dari Keridhoan-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS.At-Tahrim:6). []

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418830 Mon, 20 Nov 2017 16:00:00 +0700 Waspadalah dengan Keluarga Kita! Waspadalah dengan Keluarga Kita! Waspadalah dengan Keluarga Kita! Waspadalah dengan Keluarga Kita!
Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang http://ini.la/2419293 ADA pepatah Arab yang sangat terkenal berhubungan dengan upaya menjadi terkenal: "Kencingi air zamzam, maka kamu akan terkenal." Nasehat itu tentu efektif sekali, semua media seluruh dunia akan meliput keberanian pelaku. Pelakunya akan terkenal walau dengan risiko besar, misalnya dengan risiko dipukuli banyak orang sampai kepala dan dahinya benjol sebesar kue bakpao.

Tapi ada juga menjadi terkenal dengan tanpa upaya sendiri menjadi terkenal, yakni dengan menjadi korban orang terkenal. Ada juga risikonya, walau tak parah. TIANG LISTRIK yang ditabrak orang terkenal contoh kasusnya. Tiang listrik tak benjol-benjol dan tak digotong ke rumah sakit.

Betapa populernya tiang listrik kini. PLN dapat efek positifnya, yakni keberhasilannya menanam tiang dengan kekuatan yang bagus, tak mudah roboh. Orang Jawa juga mendapat hikmahnya karena bahasa Jawanya orang adalah TIANG.

Saya punya sahabat seorang muallaf yang kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel bersama saya. Namanya Andreas Banu asal NTT. Beliau menjadi hakim, dan meninggal saat menjadi hakim itu karena tertabrak mobil. Semoga Allah merahmatinya. Sebagai orang NTT beliau tak paham bahasa Jawa.

Saat KKN di Bojonegoro beliau dan beberapa  teman lainnya ditugasi untuk ke pasar naik angkutan desa. Supir bertanya kepada Mas Andreas: "Tiang pinten Mas"  (Orang berapa Mas). Mas Andreas tak langsung menjawab, dia menghitung jumlah tiang listrik yang berjejer di pinggir jalan itu. Saat itu, tiang listrik tak populer seperti saat ini.

Ketika tiba waktunya, yang tak populer bisa saja menjadi populer. Mau jadi populer? Jadilah "korban" orang terkenal. Salam, AIM. [*]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2419293 Mon, 20 Nov 2017 15:27:00 +0700 Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang Kalau Allah Berkehendak, Jadi Populer itu Gampang
Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka http://ini.la/2418811 BISA jadi ada yang membunuh dirinya karena alasan ekonomi hingga frustasi. Ada juga tujuannya atas nama agama seperti membunuh orang kafir. Padahal asalnya nyawa orang kafir itu haram untuk dibunuh.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad (yang memiliki perjanjian untuk tidak saling berperang), ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari, no. 3166)

Lebih-lebih jika yang dibunuh adalah seorang muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa’: 93)

Orang bunuh diri dalam rangka jihad pun tidak dibolehkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mengatakan pada orang yang mengaku Islam, “Dia termasuk penduduk neraka.” Ketika mengikuti peperangan, orang tersebut begitu semangat. Namun ia terkena luka parah. Kemudian ada yang berkata  pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang engkau katakan bahwa ia termasuk penduduk neraka, ia benar-benar hari itu telah berperang lalu ia mati.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Ia  penghuni neraka.” Sebagian orang pun terheran-heran dan tetap dalam keadaan seperti itu. Ternyata, ada yang menceritakan bahwa orang tersebut sebelum mati, ia memiliki luka yang cukup parah. Ketika di malam hari, ia tidak sabar menahan lukanya yang parah tersebut. Lalu ia pun membunuh dirinya sendiri. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan tentang hal ini lantas beliau pun bersabda,

“Allahu akbar. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Kemudian beliau pun memerintahkan Bilal dan beliau menyeru pada manusia, “Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim. Namun boleh jadi Allah akan memperjuangkan agama ini melalui orang yang fajir (bermaksiat).” (HR. Bukhari, no. 3062 dan Muslim no. 111)

Lihatlah orang ini sedang berjihad. Namun tidak kuat menahan derita sehingga akhirnya ia bunuh diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentangnya bahwa ia adalah penduduk neraka.

[baca lanjutan: Solusi Utama agar Selamat dari Bunuh Diri]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418811 Mon, 20 Nov 2017 15:00:00 +0700 Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka
Meneladani Rasulullah dalam Memperlakukan Istri http://ini.la/2418828 SEKARANG ini banyak suami yang menuntut istrinya untuk selalu dapat memenuhi kebutuhan biologisnya. Dan tak jarang dari mereka yang menyampaikan hadis yang menyatakan bahwa Allah SWT dan Rasulullah akan melaknat kepada istri yang menolak permintaan suaminya, memang hal tersebut benar.

Namun saat ini banyak suami yang sudah melupakan atau melalaikan meniru cara Rasulullah dalam memperlakukan istri mereka. Ini merupakan poin penting yang akan menjadi pembahasan bahkan pertanyaan para istri.

Inilah beberapa cara yang dilakukan Rasulullah dalam memperlakukan istri beliau:

1. Dapat menenangkan perasaan seorang istri

Banyak suami masa kini yang tidak mengerti bagaimana cara menenangkan hati seorang istri. Tidak sedikit suami yang melihat istri menangis akan langsung emosi dan memarahinya, bukan menenangkannya agar berhenti menangis tapi malah menggertaknya. Namun Rasulullah mempunyai cara yang lembut dalam menenangkan hati istrinya tersebut.

Pada suatu hari, beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah sedang menangis. Kepadanya beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyah menjawab, “Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi.”

Beliau berkata, “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa!” (Baca antara lain Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, Kairo: Dâr al-Sya’b, cet. II, 1372 H, 16, hal. 326.)

Terlihat bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam. Rasakan juga efek psikis istri yang dibela perasaannya, tentu membuat rasa kasih sayang kepada suami semakin dalam. Coba tirulah cara baik itu terhadap istri anda.

2. Bermusyawarah sebelum mengambil keputusan bersama istri

Rasulullah yang mulia tidak pernah merasa keberatan mendengar serta mengambil pendapat istrinya. Ini terlihat ketika beliau meminta pendapat Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaybiyah. Waktu itu ia menyuruhnya untuk memotong rambut dan menyembelih kurban, namun mereka tidak mau untuk melakukannya.

Melihat respon para sahabat tersebut, baginda Nabi masuk ke tenda Ummu Salamah. Begitu beliau menceritakan kepada Ummu Salamah apa yang beliau terima dari para sahabat, Ummu Salamah langsung mengajukan pendapat yang cerdas.

Ia berkata: “Keluarlah, ya Rasulullah, kemudian engkau bercukur lalu potong hewan kurban!” Beliau pun keluar dari tenda, bercukur lalu memotong kurban. Melihat hal itu, sontak para sahabat bangkit; mereka serempak bercukur lalu memotong hewan kurban.

3. Sabar menuruti permintaan sang istri yang manja

Sekarang ini bisa dilihat banyak suami yang tidak sabaran dan langsung emosi ketika istri sedang ingin bermanjaan dengan suami. Karena perempuan akan merasa dicintai ketika saat dia ingin bermanjaan dengan suami lalu dituruti oleh sang suami.

Rasulullah Saw adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka, sehingga Rasulullah selalu sabar menuruti permintaan sang istri. ‘Â`isyah bercerita tentang hal ini:

Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Wahai Humayrâ`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah.

Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, ‘Abû al-Qâsim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.”

Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedudukan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.” (Ahmad bin Syu’aib al-Nasâ`î, Sunan al-Nasâ`î al-Kubrâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Imiyah, cet. I, 1991, Jilid 5, hal. 307, hadits no. 8951)

4. Selalu siaga jika istri membutuhkan bantuan

Pada saat banyak suami yang enggan sekadar membantu istrinya karena dianggap dapat menurunkan reputasi dan harga diri, Rasulullah Saw. Justru tidak pernah terlambat membantu para istrinya. ‘Â`isyah pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi Saw. di rumahnya? Ia menjawab, “Beliau selalu melayani (membantu) istrinya.”

5. Tetap bersikap santun walau sedang marah

Pada saat sekarang ini banyak suami yang mulai ringan tangan terhadap istri mereka dan terjadilah kekerasan dalam rumah tangga. pada saat sang istri melakukan kesalahan tak jarang suami merasa emosi, kita mendapati Sang Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang-pendapat atau perselisihan antara beliau dan mereka. Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka pergi menjauhi istri untuk sementara waktu menjadi pilihannya. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya.

Bahkan ketika Rasulullah berniat mencerai salah satu istrinya, kita mendapati beliau tetap santun, lembut dan penuh kasih. Sawdah binti Zam’ah yang sudah tua, tidak cantik, dan berbadan gemuk, merasa bahwa jatahnya dari hati Rasulullah hanya rasa kasihan, bukan cinta. Rasulullah pun kemudian berpikir untuk menceraikan Sawdah secara baik-baik guna membebaskannya dari keadaan yang dianggap membebaninya dan memberatkan hatinya. Dengan sabar Rasulullah menunggu sikap dan jawaban Sawdah atas niat beliau untuk menceraikannya.

Kesantunan, kesabaran dan keterkendalian diri Nabi saw. tetap terpelihara, bahkan ketika ujian terberat menerpa dan mengguncang rumah tangga beliau, saat terjadi apa yang disebut hâdits al-ifk (berita dusta), yakni tuduhan yang menyudutkan istri Rasulullah melakukan ‘selingkuh’ (Aisyah dengan Shafwan)

Sikap Nabi kala itu sungguh merupakan teladan bagi setiap Muslim. Ketika hâdits al-ifk ini tersebar, dengan kelembutannya yang khas dan tidak pernah luntur, Rasulullah berbicara kepada ‘Â`isyah:

“Amma ba’d. Wahai ‘Â`isyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku tentangmu begini dan begitu. Jika kamu bebas (tidak melakukannya), maka Allah akan membebaskanmu, dan jika kamu pernah melakukan dosa maka mohonlah ampun kepada Allah dan tobatlah kepada-Nya.”

Sampai akhirnya Allah menurunkan kabar melalui  surahAn Nuur ayat 11, yang membuat tenang dan gembira hati Nabi, ‘Âisyah dan kaum Muslim semuanya.

Bagaimana mungkin Allah SWT tidak melaknat para istri yang tidak mau melayani suami nya dengan baik, jika sang suami memiliki sifat yang sebegitu baiknya terhadap istri mereka. Dimulai dari sekarang para suami harus belajar memperlakukan istri dengan baik, sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah terhadap istri tersebut. Jika suami sudah melakukan hal-hal tersebut sang istri pun pasti akan lebih bersikap baik dan manis kepada suami mereka. Semoga artikel ini dapat menginspirasi para pembacanya dan Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dalam rumah tangga para mukminin agar selalu utuh dan harmonis. [akhwatindonesia]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418828 Mon, 20 Nov 2017 14:00:00 +0700 Meneladani Rasulullah dalam Memperlakukan Istri Meneladani Rasulullah dalam Memperlakukan Istri Meneladani Rasulullah dalam Memperlakukan Istri Meneladani Rasulullah dalam Memperlakukan Istri
Orang Berhianat Diberi Tanda Khusus di Hari Kiamat http://ini.la/2418827 DARI Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Semua penghianat akan diberi tanda bendera penghianatannya pada hari kiamat sebagai tanda pengenalnya." (HR. Bukhari)

Hikmah Hadis:

1. Kianat merupakan salah satu sifat paling buruk dan paling tercela dalam pandangan Islam, serta merupakan ciri paling mendasar orang munafik. Sedangkan orang munafik kelak akan ditempatkan Allah Ta'ala di dalam kerak dasar paling dalam di neraka Jahanam, na'udzubillahi min dzalik.

2. Demikian buruknya dan dibencinya sifat hianat ini, hingga Allah Ta'ala memberikan tanda khusus di hari kiamat bagi orang-orang yang khianat, yaitu bendera khusus sebagai tanda pengkhianatan yang pernah dilakukannya di dunia.

Dalam sahih Muslim diriwayatkan, dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Di hari Kiamat kelak, setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatannya." (HR. Muslim)

3. Khianat bermacam-macam bentuk dan jenisnya, di antaranya adalah khianat dalam kapasitasnya sebagai hamba, sebagai suami, istri, orang tua, pekerja, pejabat, wakil rakyat, bendahara, guru, dosen, pedagang, pengusaha, dsb. Oleh karenanya kita harus berusaha menjaga dan menunaikan amanah sebaik-baiknya dan menghindarkan diri dari sifat khianat sejauh-jauhnya.

4. Bentuk khianat yang paling berat dan paling keji adalah khianat kepada Islam dan kaum muslimin. Seperti meyakini kebenaran agama lain selain Islam, bekerja sama dengan musuh-musuh Allah Ta'ala khususnya dalam hal-hal yang dapat merugikan kepentingan umat, menegatifkan citra Islam dan kaum muslimin, memilih atau mempropaganda umat untuk memilih non muslim sebagai pemimpin, dsb.

Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal: 27).

Semoga Allah Ta'ala hindarkan kita semua dari sifat khianat ini, dan kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang amanah. Amiin Ya Rabbal Alamiin. Wallahu 'alam. [Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418827 Mon, 20 Nov 2017 13:00:00 +0700 Orang Berhianat Diberi Tanda Khusus di Hari Kiamat Orang Berhianat Diberi Tanda Khusus di Hari Kiamat Orang Berhianat Diberi Tanda Khusus di Hari Kiamat Orang Berhianat Diberi Tanda Khusus di Hari Kiamat
Bentuk Siksaan bagi Pelaku Bunuh Diri http://ini.la/2418810 JANGAN bunuh diri, baik karena punya masalah berat maupun frustasi. Begitu pula tidak boleh bunuh diri yang mengatasnamakan agama karena bunuh diri jelas terlarang.

Lihatlah larangan bunuh diri dalam ayat ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’: 29-30).

Siapa saja yang bunuh diri, maka di akhirat ia akan disiksa sesuai cara ia mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari, no. 6047; Muslim, no. 110).

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu.” (HR. Bukhari, no. 1365)

Lihatlah siksa yang pedih di atas. Itu menunjukkan bahwa yang dilakukan adalah dosa besar.

[baca lanjutan: Jihad lalu Bunuh Diri, Dia Penduduk Neraka]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418810 Mon, 20 Nov 2017 12:00:00 +0700 Bentuk Siksaan bagi Pelaku Bunuh Diri Bentuk Siksaan bagi Pelaku Bunuh Diri Bentuk Siksaan bagi Pelaku Bunuh Diri Bentuk Siksaan bagi Pelaku Bunuh Diri
Ini Tiga Golongan Orang yang Paling Dimurkai Allah http://ini.la/2418826 ADA tiga golongan, orang yang melakukan pelanggaran di tanah haram, orang yang mencari-cari perilaku jahiliyah padahal telah masuk Islam, dan memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya.

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Manusia yang paling dimurkai Allah ada tiga golongan; Orang yang melakukan pelanggaran di tanah haram, orang yang mencari-cari perilaku jahiliyah padahal telah masuk Islam, dan memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya." (HR. Bukhari)

Hikmah Hadis:

1. Ada perbuatan-perbuatan yang sangat dibenci Allah Ta'ala, sebagaimana digambarkan dalam hadis di atas, dan oleh karenanya, perbuatan-perbuatan tersebut harus dihindarkan sejauh-jauhnya agar kita terhindar dari murka Allah Ta'ala.

2. Yang pertama adalah melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan maksiat di tanah Haram, yaitu di dua kota suci Mekah dan Madinah. Karena, kedua kota tersebut adalah kota yang tanahnya diharamkan atau disucikan oleh Allah Ta'ala, dan oleh karenanya melakukan perbuatan haram lebih ditekankan pengharamannya.

3. Kedua adalah melakukan perbuatan dan kebiasaan yang memiliki unsur kejahiliyahan, padahal ia telah diberi hidayah ke dalam dinul Islam. Terutama perbuatan-perbuatan dan kebiasaan yang mengandung unsur kemusyrikan, mengandung unsur maksiat, atau membawa pada perpecahan umat.

4. Dan yang ketiga adalah, menumpahkan darah sesama muslim, saling tikam, saling menjatuhkan dan saling mencederai satu dengan yang lainnya. Karena sesama muslim adalah bersaudara yang oleh karenanya, haram saling menumpahkan darah, haram saling mencederai kehormatan dan haram saling mengambil harta satu dengan yang lainnya.

Wallahu A'lam. [Ustaz Rikza Maulan, Lc., M.Ag.]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418826 Mon, 20 Nov 2017 11:00:00 +0700 Ini Tiga Golongan Orang yang Paling Dimurkai Allah Ini Tiga Golongan Orang yang Paling Dimurkai Allah Ini Tiga Golongan Orang yang Paling Dimurkai Allah Ini Tiga Golongan Orang yang Paling Dimurkai Allah
Orang Saleh Dilarang Mengharap Kematian http://ini.la/2418824 "Janganlah kalian berangan-angan mengharapkan datangnya kematian. Karena, kalaulah dia orang baik, siapa tahu ia bisa menambah kebaikannya. Dan kalaulah dia adalah orang jahat, siapa tahu ia bisa meminta penangguhan (untuk bertobat)." (HR. Bukhari)

Hadis di atas diriwayatkan dari Abu Hurairah. Adapun hikmah yang dapat diambil dari hadis ini adalah:

1. Bahwa dalam menjalani roda kehidupan di dunia ini, tak jarang ada jurang terjal menghadang, ada aral besar yang melintang atau bahkan samudera luas yang membentang menghadang setiap langkah dalam menempuh perjalanan. Dan tak jarang, tajamnya aral yang melintang, ditambah dengan gelapnya sisi lain kehidupan dunia yang diwarnai dengan saling fitnah dan saling hantam, dihiasi juga dengan keburukan dan kemunafikan, membuat sebagian orang berputus asa dalam menjalani bentangan samudera kehidupan. Karena ia beranggapan, lebih baik "pulang" sekarang menuju kematian, daripada harus menunggu hari esok yang entah fitnah apalagi yang akan menghadang, ataupun karena beratnya beban kehidupan, di tengah hedonismenya zaman, atau juga karena beratnya permasalahan, yang terasa demikian mencengkeram.

2. Namun, ternyata hadis di atas melarang siapapun untuk berharap dan mengangankan kematian, terhenti dari segala aktifitas duniawi dan aktifitas pekerjaan. Karena betapapun, setiap detik kehidupan adalah anugerah Illahi, yang tentunya akan sangat berarti. Bisa jadi, dengan masih langgengnya nafas dalam badan, akan menambah kebaikan bagi setiap orang yang mendambakan keridaan Ar-Rahman. Atau dengan masih langgengnya kehidupan, akan semakin memberi kesempatan bagi orang yang berbuat maksiat, untuk melakukan tobat nasuha.

3. Maka, Islam mengajarkan optimisme dalam menapaki jalan menuju hari depan, dan melarang pesimisme dalam mengarungi setiap cobaan dan ujian. Karena sekali lagi, setiap detik nafas yang dihembuskan, adalah samudera potensi kebaikan. Allah Ta'ala berfirman, "…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)

Wallahu A'lam. [Ustaz Rikza Maulan, Lc., M.Ag.]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2418824 Mon, 20 Nov 2017 10:00:00 +0700 Orang Saleh Dilarang Mengharap Kematian Orang Saleh Dilarang Mengharap Kematian Orang Saleh Dilarang Mengharap Kematian Orang Saleh Dilarang Mengharap Kematian