Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/ ID Inilah.com - Telinga, Mata, dan Hati Rakyat Copyright 2007-2017 inilah.com. All rights reserved. Tue, 26 Sep 2017 01:55:32 +0700 http://www.inilah.com/rss/feed/mozaik http://www.inilah.com/ Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/assets/image/inilah-logo-feed.png 120 120 Mansur Samin: Desa Tinggal http://ini.la/2406683 Memisah puncak luasan
Segugus kecil jalan semak ke Selatan
Sampailah kiranya wilayah Angkola
Lenyap bertahun ditinggal pengembara

Secarik asap di kejauhan
Lebih mirip tikar pandan klabutan
Betapa ramai di situ dulu melincak alam
Kini berganti, benteng darurat dan gardu panjang

Bulir padimu kuning kemilau
Ke tanah rantau suling menghimbau
Desa tinggal di musim menuai ini
Menyentak ingatan kemelut hari-hari silam
Tapi kau dan aku, ah sebentar lagi
Lupakanlah perang, hidup baru menyinar di hadapan

[Mansur Samin]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406683 Mon, 25 Sep 2017 21:00:00 +0700 Mansur Samin: Desa Tinggal Mansur Samin: Desa Tinggal Mansur Samin: Desa Tinggal Mansur Samin: Desa Tinggal
Yang Telah Jauh dari Jiwanya Sendiri http://ini.la/2406682 Aku tidur dan merasa tenteram
oleh semilir angin sejuk

Tatkala tiba-tiba seekor merpati kelabu
dari semak belukar berkicau dan terisak dengan rindu
Mengingatkanku pada rinduku sendiri

Aku telah menjauh dari jiwaku sendiri untuk sekian lama
Tidur demikian larut
Tapi tangisan merpati itu membangunkanku
dan membuatku menangis

Puji syukur
kepada semua orang berduka yang bangun pagi-pagi

[Adi bin ar-Riqa']

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406682 Mon, 25 Sep 2017 18:00:00 +0700 Yang Telah Jauh dari Jiwanya Sendiri Yang Telah Jauh dari Jiwanya Sendiri Yang Telah Jauh dari Jiwanya Sendiri Yang Telah Jauh dari Jiwanya Sendiri
Buat Apa Kekayaan Dunia Jika Hati Gelisah http://ini.la/2406681 MEMANG, kita sering melihat banyak orang yang hidup berkecukupan yang secara nyata-nyatanya mereka adalah tergolong orang-orang yang sering berbuat dosa. Lantas bagaimana halnya dengan adanya keyakinan bahwa balasan dari perbuatan baik adalah kebaikan?

Orang-orang yang sering terlihat berbuat dosa, namun terlihat nyaman dengan berbagai kepemilikian duniawinya, walau demikian bagaimana dengan kondisi hati mereka? Apakah ada ketenangan di hati mereka? Pasti tidak ada. Karena, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenteram. Buat apa memiliki kekayaan duniawi kalau hati gelisah, makan tidak tenang, tidur tidak nyenyak.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)

Balasan terbaik bukanlah dengan apa yang ia miliki dari kekayaan duniawi, tetapi semakin dekat kepada Allah, hati yang semakin mantap, yakin dan istiqomah dalam beribadah kepada Allah.

Di saat kita memiliki niatan yang baik, kita lantas dituntun oleh Allah, bersabar dalam berusaha, sehingga saat bertemu dengan rizki semua dilakukan dengan penuh keberkahan. Ditambah dengan dikeluarkannya sedikit dari rizki yang kita miliki untuk berjuang di jalan Allah, maka semakin nikmat karunia yang telah Allah berikan ini.

Jangan pernah merasa tidak adanya pertanggungjawaban atas perbuatan kita di dunia ini, karena semua hal yang kita lakukan diawasi dan diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan bahkan di dunia ini juga, kecuali perbuatan dosa yang segera dimohonkan ampunan-Nya. Semua hal akan dipertanggungjawabkan, karena pada hari perhitungan kelak, anggota tubuh ini akan bersaksi.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yaasiin: 65)

Oleh karena itu, berhati hatilah dalam menjaga pikiran dan sikap kita. Terus bersihkan hati, agar kita semakin mudah dalam merasakan kehadiran dan pengawasan Allah. Seseorang yang tauhidnya bagus, dapat dipastikan bahwa akhlaknya juga terjaga. Karena, dia yakin bahwa Allah Maha Melihat, sehingga dia akan sibuk dengan Allah tanpa perlu berakting dan berpura-pura.

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yunus: 61)

Kita tidak tahu sesuatu yang terjadi di masa depan. Saat ujian di sekolah, misalnya, sebagai murid tidak akan pernah tahu materi yang nantinya akan keluar. Sedangkan Allah Maha Tahu apa pun yang akan terjadi di kemudian hari dengan detail. Jadi bergantung saja pada Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh, ikhtiar dengan benar dan baik, dan lakukanlah hal-hal yang Allah sukai, dan berharaplah semua akan dimudahkan. []

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406681 Mon, 25 Sep 2017 17:00:00 +0700 Buat Apa Kekayaan Dunia Jika Hati Gelisah Buat Apa Kekayaan Dunia Jika Hati Gelisah Buat Apa Kekayaan Dunia Jika Hati Gelisah Buat Apa Kekayaan Dunia Jika Hati Gelisah
Meminimalisir Arogansi dalam Beragama http://ini.la/2406680 DALAM sebuah pengajian yang diselenggarakan pada bulan ramadan, pada momen yang berbeda, penulis pernah ditanya oleh dua orang jemaah pengajian. Menurut penulis, masing-masing pertanyaan yang mereka ajukan mengandung korelasi di satu sisi, namun di sisi lain cenderung kontradiksi.

Pertanyaan pertama diajukan kepada penulis pada hari pertama pengajian. Mengingat pengajian ini merupakan pengajian perdana yang diselenggarakan ba’da subuh di bulan Ramadan, sekaligus sosok penulis sendiri yang –mungkin- dianggap kurang dikenal oleh mayoritas masyarakat, di tambah lagi tema yang digagas penyelenggara cenderung berat dan jarang disampaikan, “Fiqih Puasa Menurut Empat Mazhab”, maka pertanyaan yang diajukan pun bernada ketidaksetujuan atas tema yang diangkat.

Kurang lebih pertanyaannya seperti ini: “Ustadz, bagi masyarakat kita yang awam, pembicaraan tentang mazhab-mazhab fiqih merupakan pembicaraan yang membingungkan, saya harap selepas pengajian ini jemaah yang hadir tidak akan bingung, apalagi keluar dari kebiasaan yang telah berlaku, yaitu mengikuti mazhab imam Asy Syafi’i.”

Penulispun menjawab bahwa, “Pada hakikatnya adanya mazhab fiqih dan sedikit banyaknya pengetahuan kita terkait hal tersebut, insyaAllah tidak akan menyebabkan kita kebingungan dalam mengamalkan agama selama kita tahu alasan terjadinya perbedaan mazhab, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.”

Sedangkan terkait mazhab imam Asy Syafi’i, penulis sampai tidak enak hati untuk mengatakan, siapakah di antara jemaah pengajian yang tahu detail pendapat-pendapat imam Asy Syafi’i, padahal penulis tahu bahwa pengurus masjid tesebut menyelenggarakan salat Tarawih sebanyak 11 raka’at, yang notabene bukanlah mazhab imam Asy Syafi’i.

Adapun pertanyaan kedua, kurang lebih seperti ini: “Ustadz, saya pernah mendengar dan membaca sebuah buku, bahwa ada ulama yang mengatakan bahwa qunut subuh itu tidak ada, bahkan perbuatan bid’ah. Apakah benar demikian?”

Penulispun menjawab bahwa, “Masalah qunut merupakan masalah yang diperselisihkan ulama, di mana kita tidak boleh saling bermusuhan dan terpecah belah atas dasar permasalahan-permasalahan semisal ini, meskipun ulama yang bersangkutan sampai menyatakan bahwa qunut itu hukumnya haram atau bid’ah.”

Dari dua permasalahan di atas, penulis menyimpulkan bahwa sering kali masyarakat muslim atau sebagian di antara mereka berlindung di bawah alasan “sebagai orang awam/awwamiyyah” untuk tidak ingin tahu menahu pendapat kelompok/mazhab lain meskipun dalam ranah furu’iyyah.

Padahal informasi-informasi tentang adanya perbedaan-perbedaan pendapat dalam banyak hal terkait corak beragama (Islam) di negeri ini merupakan suatu keniscayaan yang pasti terjadi dan lumrah serta mesti disikapi dengan sikap yang bijak, serta didasari ilmu yang benar atau informasi yang valid.

Dan patut diketahui bahwa sikap ‘tidak ingin tahu dengan alasan ‘awwamiyyah’ tidak seyogyanya menghalangi kita untuk terus belajar tentang perkara-perkara agama sesuai dengan kesempatan dan kemampuan yang dimiliki.

Semakin banyak seseorang mengetahui khilafiyah dalam fiqih maka semakin lapang dadalah ia, jika diniati untuk bertafaqquh/belajar. Dan tentu semakin sering mendatangkan kebaikan dari Allah Ta'ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Siapapun yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, Allah akan menganugrahi atasnya pemahaman dalam agamanya.”

Adapun sikap ketidak mau tahuan bahkan cenderung menganggap pendapat lain tidak mesti diakui eksistensinya merupakan sikap arogansi beragama yang semestinya diminimalisir bahkan dihilangkan dalam tubuh masyarakat muslim. Wallahua’lam. [Isnan Ansory, Lc, M.A]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406680 Mon, 25 Sep 2017 16:00:00 +0700 Meminimalisir Arogansi dalam Beragama Meminimalisir Arogansi dalam Beragama Meminimalisir Arogansi dalam Beragama Meminimalisir Arogansi dalam Beragama
Rahasia Keberangsuran dalam Penciptaan Makhluk http://ini.la/2406678 AlQURAN diturunkan dalam kurun waktu 23 tahun. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur, tahap demi tahap, supaya "meneguhkan hati".

Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surah Al-Furqan ayat 32, "Supaya ... kami meneguhkan hatimu."

Rumi mengatakan bahwa di dalam bumi, batu-batu biasa secara perlahan akan menjadi permata. Batang kayu memecah menjadi pucuk tanpa terlihat. Kita berkembang menjadi diri kita yang penuh secara berangsur-angsur.

Ada kesakralan dalam kata "berangsur-angsur". Tuhan bisa saja dalam sekejap langsung menurunkan makhluk yang langsung sempurna, mengarungi semesta, dan tiba di dunia ini. Keberangsuran, tampaknya, lebih disukai oleh Sang Kecerdasan misterius.

Penciptaan luar biasa seorang anak membutuhkan sembilan bulan. Tugas besar kerap dicapai dengan serangkaian tindakan kecil. Seorang koki yang ahli membiarkan tungku mendidih perlahan.

Malam demi malam, bulan purnama memberikan pelajaran tentang keberangsuran. Alquran mengatakan bahwa, "Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah ia!" (QS Yasin: 82).

Namun, bahkan alam semesta memerlukan beberapa hari untuk tercipta! Keberangsuran sungguh merupakan watak dari tindakan Sang Maha Pencipta. [Wajah Sejuk Agama]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406678 Mon, 25 Sep 2017 15:00:00 +0700 Rahasia Keberangsuran dalam Penciptaan Makhluk Rahasia Keberangsuran dalam Penciptaan Makhluk Rahasia Keberangsuran dalam Penciptaan Makhluk Rahasia Keberangsuran dalam Penciptaan Makhluk
Latihan Spiritual dalam Mengingat Kematian http://ini.la/2406677 NABI Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sering merenungkan kematiannya sendiri. Latihan ini meluaskan pemahaman beliau tentang misteri kehidupan dan memperdalam pengalaman kasih sayangnya.

Beliau pernah bersabda, "Satu-satunya penasihat yang kau butuhkan adalah kematianmu." Dalam proses mencapai keputusan penting, renungkanlah kematian Anda. Latihan ini dengan cepat menyusun ulang prioritas dan nilai.

Latihan spiritual lain Rasulullah adalah melakukan ziarah kubur dan berdoa di sana. Beliau kerap melakukan ini di tengah malam. Dalam salah satu kegiatan beliau sebelum wafat, Rasul berdoa semalam suntuk di sebuah makam seraya memohon rahmat dari Allah untuk para orang yang sudah wafat.

Praktik ini, ujar Rasul, membangun sifat rendah hati, lembut hati, dan keberanian di dalam diri kita. [Wajah Sejuk Agama]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406677 Mon, 25 Sep 2017 14:00:00 +0700 Latihan Spiritual dalam Mengingat Kematian Latihan Spiritual dalam Mengingat Kematian Latihan Spiritual dalam Mengingat Kematian Latihan Spiritual dalam Mengingat Kematian
Lisan, Cerminan Apa yang Terkandung dalam Hati http://ini.la/2406676 HATI dan lisan. Dua hal ini adalah saling berhubungan. Antara satu dengan yang lain mereka saling berketergantungan. Ibarat bunga dengan wanginya. Tidak akan tercium bau yang harum tanpa adanya bunga.

Tetapi, tidak pula semua bunga harum baunya. Maka tumbuhkanlah bunga yang tepat, yang dapat menyenangkan bagi siapapun yang berada di dekatnya. Seperti yang dikutip dari nasehat Ustadz Salim A. Fillah, “Jika hatimu adalah mawar jelita maka yang keluar dari mulutmu pasti semerbak wanginya”.

Hati dan lisan. Apa yang keluar dari lisan sumbernya adalah isi hati yang dibiasakan. Dibiasakan bisa berarti sering atau bahkan setiap saat dimana kita melakukan perbuatan sehingga menjadi terbiasa, baik hal itu keburukan atau kebaikan. Dan itu tergantung dari kita ingin yang mana untuk dibiasakan.

Apa yang ada di dalam hati adalah cerminan dari apa yang keluar dari lisan. Bisa jadi setiap kata yang kamu keluarkan, adalah dari hati yang wujudnya kamu sendiri tentukan. Maka bentuklah hati yang baik dengan lisan baik.

Lisan yang kamu ucapkan akan memengaruhi apa yang ada disekitarmu. Dia bisa memengaruhi persepsi orang terhadap dirimu. Dia juga bisa memengaruhi sekitar untuk menjadi seperti dirimu. Lisanmu ibarat harumnya bunga. Karena harum sumbernya dari bunga, maka sebarkanlah keharuman itu ke semua yang ada didekatnya.

Tidak hanya dirimu sendiri yang menikmatinya. Kamu sadari atau tidak, orang lain juga pasti akan merasakannya. Juga jagalah dia supaya tidak menyebarkan bau yang membuat orang menjadi enggan untuk bersama dengannya. Sebab tidak semua bunga harumnya sama.

Jika lisan mencerminkan apa yang ada di hati, maka hati mencerminkan diri. Hati adalah hulu dari semua keputusan dan perbuatan. Kebaikan atau keburukan. Kamu sendiri yang menentukan.

Bisa jadi kebaikan atau keburukan yang kamu lakukan menjadi pengantar untuk kebaikan atau keburukan yang lain. Bisa pula kebaikan atau keburukan yang kamu lakukan menjadi penyebab orang lain untuk melakukan kebaikan atau keburukan yang sama. Maka berhati-hatilah dalam urusan hati.

Penuhilah kebaikan dalam hati karena itu yang akan menuntunmu menuju alam yang hakiki. Pertahankan kebaikan di hati, karena hidup hanya sekali dan kamu harus membuatnya berarti.

Tetap junjunglah hati dengan kebaikan meskipun orang lain membalasnya dengan hal yang berlawanan. Karena sayyidina Ali bin Abi Thalib berujar bahwa, hatimu ibarat bunga, tetap memberikan harumnya meskipun kepada tangan yang telah menghancurkannya. [inspirasi-islami]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406676 Mon, 25 Sep 2017 13:00:00 +0700 Lisan, Cerminan Apa yang Terkandung dalam Hati Lisan, Cerminan Apa yang Terkandung dalam Hati Lisan, Cerminan Apa yang Terkandung dalam Hati Lisan, Cerminan Apa yang Terkandung dalam Hati
Waspadai Kalimat-Kalimat Cerai Kala Bertengkar http://ini.la/2406674 DITINJAU dari lafalnya, kalimat cerai ada dua,

1. Lafal sharih (jelas) adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan pelaku. Artinya lafadz talak sharih tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian. Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kamu saya pisah selamanya, kita bubar, silahkan nikah lagi, aku lepaskan kamu, atau kalimat yang semacamnya, yang tidak memiliki makna lain, selain cerai.

Imam as-Syafi’i mengatakan, “Lafadz talak yang sharih intinya ada tiga: talak, pisah, dan lepas. Dan tiga lafadz ini yang disebutkan dalam Alquran.” (Fiqh Sunah, 2/253).

2. Lafadz kinayah (tidak tegas) adalah lafadz yang mengandung kemungkinan makna talak dan makna selain talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., gak usah pulang sekalian.., atau kalimat semacamnya.

Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya. Sayid Sabiq mengatakan, “Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Karena makna kalimat itu sangat terang dan jelas.” (Fiqh Sunah, 2/254)

Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi sesuai dengan niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status perceraiannya sah.

Bahkan sebagian ulama hanafiyah dan hambali menilai bahwa cerai dengan lafadz tidak tegas bisa dihukumi sah dengan melihat salah satu dari dua hal; niat pelaku atau qarinah (indikator). Sehingga terkadang talak dengan kalimat kinayah dihukumi sah dengan melihat indikatornya, tanpa harus melilhat niat pelaku.

Misalnya, seorang melontarkan kalimat talak kinayah dalam kondisi sangat marah kepada istrinya. Keadaan ‘benci istri’ yang dia ikuti dengan mengucapkan kalimat tersebut, menunjukkan bahwa dia ingin berpisah dengan istrinya. Sehingga dia dinilai telah menceraikan istrinya, tanpa harus dikembalikan ke niat pelaku.

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat, semata qarinah (indikator) tidak bisa jadi landasan. Sehingga harus dikembalikan kepada niat pelaku. Ini merupakan pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, sebagaimana keterangan beliau di Asy-Syarhu al-Mumthi’ (11/9). [Ustadz Ammi Nur Baits]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406674 Mon, 25 Sep 2017 12:00:00 +0700 Waspadai Kalimat-Kalimat Cerai Kala Bertengkar Waspadai Kalimat-Kalimat Cerai Kala Bertengkar Waspadai Kalimat-Kalimat Cerai Kala Bertengkar Waspadai Kalimat-Kalimat Cerai Kala Bertengkar
Awas! Pahalamu Bisa Terkikis Tanpa Disadari http://ini.la/2406672 SAYA sekarang berada di pepohonan bakau, yang salah satu manfaat dari bakau adalah menghentikan atau mengurangi pengikisan batuan oleh air. Sehingga pohon bakau ini fungsinya adalah agar tidak terjadi longsor ataupun banjir yang diakibatkan oleh air tersebut.

Begitulah amal ibadah. Amal ibadah semestinya harus senantiasa diberikan pondasi yang kuat dan tidak ada pondasi yang kuat untuk amal ibadah kecuali dengan akidah yang benar.

Akidah yang benar akan mengurangi pengikisan-pengikisan pahala terhadap amal ibadah tersebut sebagaimana pohon bakau menahan pengikisan yang terjadi oleh air. Kalau kita perhatikan ayat suci Alquran akan menunjukan tentang bagaimana fungsi akidah di dalam amal ibadah.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman di dalam surat Al An'ām ayat 88: "Yang demikian itu adalah petunjuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang Allāh berikan petunjuk kepada siapa saja yang di kehendakinya."

Kalau seandainya mereka para Nabi 'alayhisalatu wa salām melakukan kesyirikan maka akan terhapus seluruh apa yang mereka telah amalkan. Lihat disini! Pondasi akidah benar-benar menguatkan amalan tersebut.

Amalan tidak akan terhapus (tidak akan terkikis) pahalanya dengan akidah yang benar. Kebalikan dari itu, amalan yang tidak didasari dengan akidah yang benar maka amalan tersebut akan terhapus, amalan tersebut akan terkikis bahkan tidak ada nilainya disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bahkan hal ini juga berlaku untuk Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diperingatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

"Jika engkau wahai Muhammad, melakukan kesyirikan dalam beribadah (beribadah kepada Allāh tapi pada saat bersamaan juga beribadah kepada selain Allāh inilah yang dinamakan dengan kesyirikan) maka sungguh amalanmu akan terhapus dan sungguh engkau akan benar-benar merugi." (QS Az Zumar: 65)

Maka kokohkanlah amal ibadah anda jangan sampai terkikis akibat kesyirikan. Ikhlāskan selalu amal ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Ikhlāskan selalu, murnikan ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jauhkan 2 (dua) hal:
1. Ingin dapat pujian dari manusia.
2. Ingin dapat hadiah dari manusia.

Karena Imām Ibnu Qayyim rahimahullāh Ta'āla pernah menyebutkan makna ikhlās adalah:

"Jangan sampai engkau menuntut seseorang melihat amal ibadahmu selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan jangan sampai engkau menuntut seseorang memberikan ganjaran atas amal mu selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Inilah orang yang ikhlās! Tidak meminta ada yang menuntut melihatnya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak meminta ganjaran kecuali hanya dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga amal ibadah kita tetap kokoh sehingga pahalanya yang kita dapatkan sempurna. [Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc]

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406672 Mon, 25 Sep 2017 11:00:00 +0700 Awas! Pahalamu Bisa Terkikis Tanpa Disadari Awas! Pahalamu Bisa Terkikis Tanpa Disadari Awas! Pahalamu Bisa Terkikis Tanpa Disadari Awas! Pahalamu Bisa Terkikis Tanpa Disadari
Mulutmu Harimaumu http://ini.la/2406219 MULUTMU harimaumu. Begikut kata pepatah. Tidak sedikit gara-gara ucapan menjadi petaka dirinya. Lidah adalah penyebabnya.

Sering kita menyaksikan orang berkelahi hanya karena ucapan. Rasulullah Saw memerintahkan umatnya agar menjaga lidahnya. Sebab lidah adalah aset besar seorang manusia dan lidah termasuk salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah yang luar biasa besar.

Walaupun ukuran dan bentuknya tak seberapa, namun kekuatannya tak terbatas, dosa yang ditimbulkannya pun bisa sangat besar, kebaikannya juga luar biasa. Kekufuran dan keimanan tidak terungkapkan kecuali dengan lidah. Ia merupakan batas terakhir kemaksiatan dan kebaikan.

Lidah dapat mengungkapkan apa yang telah diciptakan dan apa yang belum diciptakan, Khalik dan makhluk. Lidah menjelaskan apa yang dipikirkan dan diingat oleh pikiran dan apa yang dirasakan oleh hati, apakah benar ataukah salah. Lidah boleh disebut sebagai aparat, pembantu, atau akal.

Tidak ada anggota tubuh lain yang mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan hati dan pikiran. Pandangan mata hanya dapat menjangkau bentuk dan warna, tak lebih dari itu. Pendengaran hanya memiliki kuasa atas suara dan tidak menjangkau selain suara. Akan tetapi kekuatan lidah tidak terbatas. Ia memiliki kekuatan atas kebaikan dan kejahatan.

Bahaya lidah antara lain berbicara sia-sia (tidak ada gunanya), bertengkar, berselisih, mengomel, mencaci maki, mencela keras, mengutuk, sumpah serapah, berdusta, mengumpat (menggunjing), memfitnah, membual, dan sebagainya.

Keutamaan diam

Bahaya dan ancaman lidah bagi kehidupan manusia tidak sedikit. Tidak ada yang menyelamatkan manusia dari bahaya dan ancaman itu kecuali diam. Oleh karena itu, syariat menganjurkan kaum Muslim untuk diam jika berbicara tidak diperlukan dan akan membawa mudharat.

Telah bersabda Rasulullah Saw, "Barangsiapa diam, niscaya dia terbebas (dari bahaya)". Dalam hadis lainnya beliau bersabda, "Diam adalah suatu aturan dan hanya sedikit yang mematuhinya". Ayah Sufyan bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang Islam hingga aku tak akan bertanya lagi kepada orang-orang setelah Tuan".

Sabda beliau kepada ayah Abdullah ibn Sufyan, "Katakan, Aku beriman kepada Allah, dan tetap teguhlah pendirianmu dengan itu". Dia kemudian bertanya lagi kepada beliau, "Perkara apakah yang seharusnya sangat aku takuti?" Beliau memberi isyarat dengan tangannya pada mulutnya. 'Uqbah bin 'Amir berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, bagaimana agar aku selamat?' Jawab beliau, "Jagalah lidahmu, lapangkanlah rumahmu dan bertobatlah dari dosa-dosamu".

Nabi Saw juga bersabda dalam hadisnya yang lain, "Apabila seseorang dapat menjamin aku terhadap sesuatu yang berada di antara dua belah tulang pipinya dan di antara sepasang kakinya, maka aku dapat menjamin dia masuk surga".

Beliau juga bersabda, "Barangsiapa menyelamatkan diri dari bahaya perutnya, kemaluannya, dan lidahnya, niscaya selamatlah dirinya dari berbagai keuslitan dan masalah".

Kebanyakan manusia binasa disebabkan oleh ketiga anggota tubuh tersebut. Suatu ketika Nabi Saw ditanya oleh seorang sahabat tentang kebajikan besar yang mengantarkannya masuk ke dalam surga. Beliau mengatakan, "Pelihara dan jagalah dua lobang pada badanmu-mulut dan kemaluan. Yang dimaksud dengan mulut oleh beliau adalah lidah. [Imam Al-Ghazzali, Ihya 'Ulumuddin]
 

]]>
Mozaik Inilahcom http://ini.la/2406219 Mon, 25 Sep 2017 09:00:00 +0700 Mulutmu Harimaumu Mulutmu Harimaumu Mulutmu Harimaumu Mulutmu Harimaumu