Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/ ID Inilah.com - Telinga, Mata, dan Hati Rakyat Copyright 2007-2017 inilah.com. All rights reserved. Wed, 29 Mar 2017 18:13:45 +0700 http://www.inilah.com/rss/feed/mozaik http://www.inilah.com/ Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/assets/image/inilah-logo-feed.png 120 120 Amir bin Al-Akwa, Penyair di Perang Khaibar http://mozaik.inilah.com/read/detail/2369030/amir-bin-al-akwa-penyair-di-perang-khaibar DIRIWAYATKAN dari Salamah bin al-Akwa dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Khaibar. Ketika kami berjalan di suatu malam ada seorang laki-laki dari suatu kabilah berkata kepada Amir, ‘Wahai Amir, mengapa engkau tidak membacakan syair-syairmu kepada kami dalam waktu yang singkat ini.’ Amir adalah penyair ulung. Kemudian Amir mendekat untuk membacakan syair,

Tak pernah ada kesedihan.
Kalau bukan karena Engkau, kami tidak memperoleh hidayah
Kami tidak mengenal zakat dan tidak pernah mengerjakan salat
Kami mohon ampunan sepanjang hidup kami
Dan berikan ketenangan kepada kami
Teguhkanlah pendirian kami saat menghadapi musuh
Kami dihina, kami tidak memperdulikannya
Dan dengan suara lantang, kami akan menantang
Hingga musuh lari tunggang langgang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Siapakah yang membaca syair tadi?’ Para sahabat menjawab, ‘Amir bin al-Akwa’.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ketahuilah, semua itu hanya karena rahmat Allah!’ Seorang lelaki dari suatu kabilah berkata, ‘Sudah tentu ya Nabiyullah, andai engkau tidak menghibur kami dengannya!’ Kemudian kami sampai di Khaibar, kami berperang melawan musuh. Sampai suatu waktu kami ditimpa kelaparan yang sangat. Lalu Allah memberi kemenangan atas musuh. Ketika sore menjelang yakni pada hari kemenangan tersebut, orang-orang membuat perapian. Rasulullah bertanya, ‘Api ini untuk apa? Dinyalakan untuk maksud apa?’

Mereka menjawab, ‘Untuk membakar daging.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Daging Apa?’ Mereka menjawab, ‘Daging keledai jinak.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sembelihlah lalu potong-potong.’ Ada seorang laki-laki yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, atau kami sembelih kemudian kami cuci?’ Nabi menjawab, ‘Demikian juga boleh.’ Ketika orang-orang tengah berbaris, pedang Amir yang pendek berhasil direbut seorang Yahudi yang kemudian digunakan untuk memukulnya. Mata pedangnya beralih tangan dan melukai lutut Amir yang menyebabkan kematiannya.

Tatkala orang-orang menguburkan jenazah Amir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikanku sambil menggandeng tanganku, beliau bertanya, ‘Mengapa kamu sedih?’ Aku menjawab, ‘Tebusanku ayah dan ibuku, mereka mengatakan bahwa Amir telah melakukan perbuatan yang dapat menghapus amal baiknya.’ Nabi menjawab, ‘Telah berdusta orang yang berkata demikian, sesungguhnya baginya dua pahala, -Rasulullah sambil merapatkan dua jarinya-. Sesungguhnya Amir adalah orang yang sungguh-sungguh sedang berjihad, sedikit sekali orang Arab yang dapat menandingi keberaniannya’.” (HR. Ahmad, 4/48; al-Bukhari, Fathul Bari, 5/121.) [Sumber: 99 Kisah Orang Shalih]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2369030/amir-bin-al-akwa-penyair-di-perang-khaibar Wed, 29 Mar 2017 18:00:00 +0700 Amir bin Al-Akwa, Penyair di Perang Khaibar Amir bin Al-Akwa, Penyair di Perang Khaibar Amir bin Al-Akwa, Penyair di Perang Khaibar Amir bin Al-Akwa, Penyair di Perang Khaibar
Kisah Haru Abu Hurairah Mendakwahi Ibunya http://mozaik.inilah.com/read/detail/2369034/kisah-haru-abu-hurairah-mendakwahi-ibunya DARI Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah”.

Kutinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, “Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah”. Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, “Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya”.

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus”. Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku. [HR Muslim no 6551].

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2369034/kisah-haru-abu-hurairah-mendakwahi-ibunya Wed, 29 Mar 2017 15:00:00 +0700 Kisah Haru Abu Hurairah Mendakwahi Ibunya Kisah Haru Abu Hurairah Mendakwahi Ibunya Kisah Haru Abu Hurairah Mendakwahi Ibunya Kisah Haru Abu Hurairah Mendakwahi Ibunya
Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368735/kisah-ibnu-umar-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi DARI Nafi’ pelayan Ibnu Umar berkata, “Apabila Ibnu Umar sangat mengagumi sesuatu dari hartanya, niscaya ia akan mempersembahkannya kepada Allah Ta’ala.” Nafi’ berkata, “Dan hamba sahayanya mengetahui akan hal itu lalu ada salah seorang dari budak-budaknya bersemangat untuk beribadah di masjid, dan ketika Ibnu Umar melihat keadaan dirinya yang bagus tersebut, maka dia memerdekakan hamba tersebut, namun para sahabatnya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah, tidaklah mereka itu kecuali hanya membohongimu.’ Ibnu Umar menjawab, ‘Barang siapa yang berdusta terhadap kami karena Allah niscaya kami tertipu karenaNya’.” ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 1/294)

Ayyub bin Wa’il berkata, “Ibnu Umar diberikan sepuluh ribu riyal lalu ia membagi-bagikan harta tersebut, lalu keesokan harinya ia meminta makanan untuk binatang yang dikendarainya dengan harga satu dirham utang,” (Shifat ash-Shafwah). Dan dari Nafi’ ia berkata, “Apabila Ibnu Umar membagi-bagikan tiga puluh ribu dalam suatu majelis, kemudian tiba bulan baru, pastilah ia tidak makan sepotong daging pun.” (Hayat ash-Shahabah)

Abu Nuaim meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, “Tidaklah Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma makan kecuali bersama orang-orang miskin, hingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan tubuhnya." Dan dari Abu Bakar bin Hafsh, “Bahwasanya tidaklah Abdullah bin Umar makan dengan suatu makanan kecuali bersama seorang anak yatim.”

Dari Said bin Hilal berkata, “Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sangat menginginkan makan ikan, namun orang-orang tidak menemukan ikan tersebut kecuali satu ekor saja, lalu istrinya menghidangkannya untuk dirinya, namun setelah masakan ikan itu diletakkan di hadapannya, datanglah seorang miskin di depan pintu, lalu Ibnu Umar berkata, ‘Berikanlah ikan tersebut kepadanya,’ istrinya pun berkata, ‘Subhanallah, kita dapat memberinya satu dirham, sedangkan engkau, makan saja ikan tersebut.’ Dia berkata, ‘Tidak, karena Abdullah bin Umar (maksudnya adalah dirinya) menyukai ikan tersebut, dan tatkala Ibnu Umar telah menyukai sesuatu niscaya dia tinggalkan hal itu untuk Allah sebagai suatu sedekah’.”

[Dinukil dari, “Keajaiban Sedekah dan Istighfar”, karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, edisi terjemah cetakan Pustaka Darul Haq (alsofwah)]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368735/kisah-ibnu-umar-menginfakkan-apa-yang-ia-kagumi Wed, 29 Mar 2017 12:00:00 +0700 Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi
Benarkah Nabi Adam Diturunkan di India? http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368764/benarkah-nabi-adam-diturunkan-di-india KETERANGAN yang disebutkan dalam alquran, bahwa Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, setelah dia memakan pohon larangan. Allah berfirman, “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (QS. al-Baqarah: 36)

Sementara mengenai tempat di mana Adam diturunkan, tidak ada keterangannya sama sekali dalam alquran. Dan kami juga tidak menjumpai adanya hadis shahih yang menyebutkan hal ini. Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan tempat turunnya Adam di Bumi, namun statusnya dhaif. Seperti hadis, "Adam turun di India dan beliau merasa asing." Hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskun (7/437), dan statusnya dhaif. Sebagaimana keterangan dalam as-Silsilah ad-Daifah.

Hanya saja, ada beberapa keterangan para ulama mengenai tempat turunnya Adam. Namun karena tidak didukung dalil, keterangan mereka beraneka ragam. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan sekitar 4 pendapat mengeai hal ini,
(1) Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah. Ini pendapat Hasan al-Bashri
(2) Adam dan Hawa keduanya diturunkan di India.
(3) Adam diturunkan di satu daerah namanya Dahna, antara Mekah dan Thaif. Ini keterangan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Sementara diriwayatkan Imran bin Uyainah, Dahna adalah satu tempat di India.
(4) Adam diturunkan di Shafa dan Hawa diturunkan di Marwah. Ini merupakan keterangan Ibnu Umar menurut riwayat Ibnu Abi Hatim.
(Tafsir Ibnu Katsir, 1/237).

Terlepas dari semua pendapat di atas, kajian masalah ini masuk dalam ranah kajian masalah gaib. Sementara kita tidak boleh berbicara masalah ghaib kecuali sebatas informasi yang diberitakan oleh pemilik kabar gaib, Allah ta’ala atau melalui wahyu Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping mempelajari masalah ini tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi ketakwaan kita.

Allahu a’lam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368764/benarkah-nabi-adam-diturunkan-di-india Wed, 29 Mar 2017 10:00:00 +0700 Benarkah Nabi Adam Diturunkan di India? Benarkah Nabi Adam Diturunkan di India? Benarkah Nabi Adam Diturunkan di India? Benarkah Nabi Adam Diturunkan di India?
Ini Alasan Kenapa Perempuan Banyak Huni Neraka? http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368744/ini-alasan-kenapa-perempuan-banyak-huni-neraka SUATU ketika sesaat setelah selesai shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang apa yang diperlihatkan kepada beliau.

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Apa yang dimaksud dalam hadis di atas bukanlah kufur berupa keluar dari Islam. Namun yang dimaksud di sini adalah istri tidak mau memenuhi kewajiban terhadap suami. Bentuk bisa dengan tidak mensyukuri kebaikan yang dilakukan suami. Atau mengabaikan kebaikan suami hanya karena sebuah kesalahan kecil yang dilakukan suami.

Padahal, apabila wanita itu mau bersyukur dan mencari jalan menuju surga, Allah menyediakan banyak jalan.“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad).

Bukankah menyenangkan menjadi wanita yang bisa masuk surga dari pintu mana saja? []

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368744/ini-alasan-kenapa-perempuan-banyak-huni-neraka Wed, 29 Mar 2017 09:00:00 +0700 Ini Alasan Kenapa Perempuan Banyak Huni Neraka? Ini Alasan Kenapa Perempuan Banyak Huni Neraka? Ini Alasan Kenapa Perempuan Banyak Huni Neraka? Ini Alasan Kenapa Perempuan Banyak Huni Neraka?
Umar Menyisakan Kesenangan untuk Akhirat http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368740/umar-menyisakan-kesenangan-untuk-akhirat DALAM kitab Hayatush Shahabah, disebutkan bahwa Hafsh adalah salah seorang kawan dekat Khalifah Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu yang selalu menolak makan bersama dengan beliau.

Ia mengkritik makanan khalifah yang menurutnya begitu sederhana. Bahkan ia mengatakan bahwa makanan keluarganya jauh lebih baik daripada makanan Khalifah Umar.

Menanggapi sikap kawannya, Khalifah Umar berkata, “Jika aku mau, aku bisa saja menikmati makanan terbaik dan mengenakan pakaian terindah, aku tidak melakukan itu semua karena aku ingin menyisakan kesenanganku untuk hari akhirat kelak.”

Khalifah yang mulia ini melakukan hal yang demikian karena mencontoh guru dan pemimpinnya yang agung yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Khalifah Umar bertutur, “Aku pernah meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aku dapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau yang mulia ada diatas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk didekatnya, hingga aku tak sanggup menahan tangisku…”

“Mengapa engkau menangis, wahai putra Al-Khaththab?” tanya Rasul yang mulia.

“Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, engkau adalah Nabi Allah, kekasihNya, sementara kekayaanmu hanya ini yang aku lihat, nun jauh di sana Kisra dan Kaisar duduk di atas alas emas dan berbantalkan sutra”

Nabi berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya saat ini juga, kesenangan yang cepat berakhir, kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia ini seperti orang yang bepergian atau safar di musim panas, ia berlindung sejenak dibawah pohon kemudian setelah itu berangkat dan meninggalkannya… ”Masya Allah…[Ustadz Ibnu Hasan Ath Thabari]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368740/umar-menyisakan-kesenangan-untuk-akhirat Wed, 29 Mar 2017 08:00:00 +0700 Umar Menyisakan Kesenangan untuk Akhirat Umar Menyisakan Kesenangan untuk Akhirat Umar Menyisakan Kesenangan untuk Akhirat Umar Menyisakan Kesenangan untuk Akhirat
Awas! Surat Mahram saat Haji Termasuk Penipuan? http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368742/awas-surat-mahram-saat-haji-termasuk-penipuan KEBIJAKAN pemerintah saudi dengan menetapkan mahram bagi para wanita yang hendak berangkat haji atau umrah itu berdasarkan panduan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Dari Abu Daid al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Wanita tidak boleh melakukan safar selama 2 hari, kecuali disertai suaminya atau mahramnya." (HR. Bukhari 1197).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar selama sehari semalam, sementara dia tidak ditemani mahramnya." (HR. Bukhari 1088).

Bahkan, mengingat pentingnya mahram dan pendamping bagi wanita ketika safar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta salah seorang sahabat untuk menunda keikut sertaannya dalam jihad. Agar bisa menemani istrinya ketika hendak haji. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, ada seorang sahabat melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Ya Rasulullah, saya ingin tergabung dengan pasukan perang ini tapi istriku ingin pergi haji." Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,  “Berangkatlah haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari 1862).

Karena islam memuliakan wanita. Bentuk penjagaan islam terhadap wanita, adanya SOP bagi wanita yang melakukan safar. Sebagaimana pejabat ketika keluar rumah, dia diikat dengan SOP protokoler. Bukan dalam rangka mengganggu kebebasan mereka. Namun untuk menjaga kehormatan dan keselamatan mereka. Secara nurani, sekalipun orang tidak tahu dalil, ketika ada wanita yang melakukan safar sendirian, orang yang melihatnya akan merasa ada yang kurang. Bahkan bisa jadi akan muncul dugaan buruk, suudzan kepada wanita itu. Kita layak bersyukur kepada Allah, ketika situs-situs haji ditangani oleh pemerintahan yang sangat perhatian dengan aturan islam, semoga Allah menjaga mereka.

Yang lebih penting dalam mahram bukan masalah surat. Surat hanya persyaratan administrasi, sebagi bukti bahwa wanita yang masuk tanah suci ini, benar-benar ditemani oleh suaminya atau mahramnya. Yang sangat memprihatinkan, ketika surat ini justru menjadi peluang terjadinya penipuan. Terutama ketika ada jemaah wanita yang berangkat tanpa diiringi suaminya atau mahramnya. Untuk tetap bisa lolos, travel haji atau umrah membuat surat mahram palsu. Ini jelas penipuan. Semua yang terlibat, dia menanggung dosanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang menipu kami (umat), maka dia bukan bagian dari kami." (HR. Muslim 294)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menipu, maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Muslim 295)

Pendidikan itu penting! Kata kunci pendidikan selalu dibutuhkan dimana-mana. Tidak ada ujungnya. Sepanjang masih ada kehidupan, long life education. Terkadang ada travel yang misi besarnya hanya mencari untung. Siapapun jemaah, siap tampung, sekalipun wanita muda yang hendak berangkat tanpa mahram. Urusan mahram, bisa pakai surat mahram. Sehingga penipuan memang sudah jadi rencana sejak awal. Ada juga travel yang sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ingin sesuai dengan sunah, namun sayang jemaahnya kurang diedukasi. Sehingga ada sebagian wanita yang dengan jumawa tetap nekat berangkat haji atau umrah tanpa mahram, dengan siasat surat mahram.

Karena itu, edukasi untuk semuanya itu penting agar semuanya satu frekuensi. Baik travel maupun jemaah harus sama-sama menyadari bahwa dalam perjalanan ini harus ada mahram. Travel siap menunda keberangkatan jemaah wanita yang tanpa mahram. Sebaliknya, jemaah wanita juga siap untuk mengundurkan diri, jika ternyata dia tidak bisa berangkat karena kendala mahram. Agar kebiasaan menipu, tidak terlalu menjamur di negara kita.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semuanya untuk tetap di atas jalan kebenaran. Allahu a’lam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368742/awas-surat-mahram-saat-haji-termasuk-penipuan Wed, 29 Mar 2017 07:00:00 +0700 Awas! Surat Mahram saat Haji Termasuk Penipuan? Awas! Surat Mahram saat Haji Termasuk Penipuan? Awas! Surat Mahram saat Haji Termasuk Penipuan? Awas! Surat Mahram saat Haji Termasuk Penipuan?
Benarkah Rasul Memanjangkan Rambut hingga Bahu? http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368736/benarkah-rasul-memanjangkan-rambut-hingga-bahu MEMANG benar, rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam panjangnya sampai menyentuh bahunya, sebagaimana dalam banyak hadis, seperti: "Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (HR. Muslim: 2337)

Adapun berkaitan dengan hukum memanjangkannya, maka para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa hal itu hukumnya sunnah. Mereka berdalil bahwa hukum asal perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah, sebagaimana keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab: 21)

Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dalam rangka meniru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bagus dan dihukumi sebagai ibadah, dan ini adalah pendapat Imam Ahmad, beliau mengatakan (dalam al-Mughni: 1/119), “Hal ini (memanjangkan rambut bagi laki-laki) hukumnya sunnah. Seandainya kami mampu melakukannya, maka akan kami lakukan, tetapi ada faktor kesibukan dan biaya yang diperlukan.”

Pendapat ini dikuatkan oleh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memanjangkan rambutnya, padahal perbuatan ini perlu waktu (sibuk mengurusnya) dan perlu biaya (untuk minyak rambut dan semisalnya). Andaikan ini bukan sunnah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan susah payah melakukannya. Pendapat kedua mengatakan bahwa memanjangkan rambut hukumnya bukan sunnah, tetapi hanya sekadar adat kebiasaan, dan hukumnya mubah (boleh dilakukan dan boleh tidak).

Pendapat ini didasari oleh perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang mencukur sebagian rambut anaknya dan menyisakan sebagian lainnya, beliau mengatakan, “Cukurlah semua atau jangan dicukur semua!” Andaikan memanjangkan rambut hukumnya sunnah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan untuk mencukur, tetapi akan memerintahkan supaya dipanjangkan karena itu sunnah.

Adapun yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memanjangkan rambutnya karena adat-kebiasaan manusia saat itu memang demikian. Beliau tidak menyelisihi kaumnya, karena apabila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka dalam suatu perkara, berarti perkara itu adalah perkara yang disayariatkan (sunnah). Akan tetapi, pada kenyataannya justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamai mereka. Ini menunjukkan bahwa perkara itu mubah (boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan), namun bukan termasuk sunnah.

Pendapat inilah yang lebih kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Utsaimin dalam Mandzumah Ushul Fikih wa Qawa’iduhu, hlm. 118–119. [Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368736/benarkah-rasul-memanjangkan-rambut-hingga-bahu Wed, 29 Mar 2017 06:00:00 +0700 Benarkah Rasul Memanjangkan Rambut hingga Bahu? Benarkah Rasul Memanjangkan Rambut hingga Bahu? Benarkah Rasul Memanjangkan Rambut hingga Bahu? Benarkah Rasul Memanjangkan Rambut hingga Bahu?
Cara Bersihkan Najis Ompol yang Terserap di Kasur http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368731/cara-bersihkan-najis-ompol-yang-terserap-di-kasur DARI Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita: Ada seorang badui yang datang ke kota Madinah, dan langsung masuk masjid nabawi, lalu kencing di dalam masjid. Para sahabat semua marah kepada orang ini, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka untuk memarahinya dan menyuruh mereka untuk membiarkannya. Setelah selesai kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk dibawakan seember air, lalu beliau siramkan ke bagian yang terkena kencing. (HR. Ahmad 12082 dan Bukhari 221)

Ketika air kencing di dalam masjid itu disiram, kita bisa memahami najis kencingnya akan turun ke bawah, meresap ke dalam tanah. Selenjutnya tanah yang ada di permukaannya dinilai suci, dan bisa digunakan untuk salat jemaah. artinya, najis yang ada di bawah, tidak mempengaruhi keabsahan salat. Tanah itu tidak mungkin dicuplik, kemudian diganti tanah yang baru. Dan kepentingan kita adalah permukaan tanah. Karena kita salat di permukaan tanah, bukan di bawah tanah sehingga cukup dengan disiram, permukaan tanah menjadi suci.

Lalu bagaimana dengan najis air kencing di kasur? Menurut Ustaz Ammi Nur Baits, umumnya kasur di tempat kita ketika digunakan minimal ada 2 lapisan: Sprei dan kasurnya. Untuk sprei, bisa kita ambil dan dicuci bagian yang terkena najis. Sementara untuk kasur, apa yang harus dilakukan? Najis yang mengenai kasur, akan meresap ke dalam kasur. Karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, maka bagian permukaan harus kita pastikan bersih dan suci. Bisa dengan cara disiram kemudian diusap dengan lap, hingga najis di permukaan kasur hilang.

Untuk meringankan najis di kasur, kita bisa jemur di terik matahari, agar sebagian najis menguap. Jika permukaan kasur telah suci, kita bisa pasang sprei pengganti, sehingga kita pastikan najisnya tidak akan mengenai pakaian kita ketika digunakan untuk tidur. Meskipun bisa jadi masih ada najis yang mengendap di dalam kasur. Sekali lagi, karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, sehingga kita perlu memastikan najis itu tidak melekat di pakaian kita ketika digunakan beristirahat. Allahu a’lam. [*]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368731/cara-bersihkan-najis-ompol-yang-terserap-di-kasur Wed, 29 Mar 2017 05:00:00 +0700 Cara Bersihkan Najis Ompol yang Terserap di Kasur Cara Bersihkan Najis Ompol yang Terserap di Kasur Cara Bersihkan Najis Ompol yang Terserap di Kasur Cara Bersihkan Najis Ompol yang Terserap di Kasur
Salah Satu Rumus Bahagia http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368845/salah-satu-rumus-bahagia DALAM sebuah penelitian selama 70 tahun lebih di Harvard University tentang apa saja yang menyebabkan seseorang itu bahagia ditemukan beberapa kesimpulan. Salah satunya adalah bahwa meningginya kekuasaan dan meningkatnya jumlah uang yang dimiliki seaeorang tidak serta merta menjadikan seseorang itu bahagia. Temuan ini mungkin cukup mengejutkan ketikavdibandingkan fakta bahwa banyak sekali otang yang giat sekali mengejar jabatan dan mengumpulkan uang.

Tentu saja penelitian itu tidak dengan seutuhnya melenyapkan fungsi dan peran power atauvkekuasaan dan money atau uang dalam kehidupan. Namun sangat jelas bahwa keduanya bukanlah faktor penentu. Penelitian yang lain mendukunng kesimpulan itu dan menemukan  kesimpulan tambahan bahwa yang penting bukan jumlah uang yang dimiliki yang menjadikan seseorang itu bahagia melainkan ke mana dan untuk apa uang itu digunakan.

Atas dasar itulah selalu sampaikan bahwa tak usahlah senang hati dengan memiliki uang banyak sebelum mau dan mampu menggunakannyadalam jalan yang benar dan bermanfaat. Tak usahlah bangga menduduki jabatan tinggi sebelum mampu menggunakan jabatan itu untuk kebahagiaan orang banyak. Ternyata tepat sekali sabda Rasulullah yang sangat singkat bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat pada manusia.

Temuan dalam penelitian lainnya juga sama bahwa tidak selalu orang yang banyak uang dan tingi pangkat itu lebih bahagia dibandingkan dengan yangvtak punya pangkat dan tak punya uang. Benar juga yang dikatakan banyak orang desa bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan. Mari tebarkan manfaat. Salam, AIM. [*]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2368845/salah-satu-rumus-bahagia Wed, 29 Mar 2017 00:18:00 +0700 Salah Satu Rumus Bahagia Salah Satu Rumus Bahagia Salah Satu Rumus Bahagia Salah Satu Rumus Bahagia