Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/ ID Inilah.com - Telinga, Mata, dan Hati Rakyat Copyright 2007-2017 inilah.com. All rights reserved. Sun, 28 May 2017 09:47:02 +0700 http://www.inilah.com/rss/feed/mozaik http://www.inilah.com/ Inilah.com - Mozaik http://www.inilah.com/assets/image/inilah-logo-feed.png 120 120 Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381311/istri-wajib-melindungi-suami-dari-keburukan AYAT 187 surah Al-Baqarah yang merupakan ayat terakhir dari rangkaian lima ayat shiyam, mengemukakan secara jelas salah satu ketetapan bagi orang yang sedang puasa, yaitu tidak boleh melakukan hubungan suami isteri.

Tentu saja larangan ini berlaku hanya pada saat yang ditetapkan bagi aktivitas puasa yaitu antara shubuh dengan maghrib. Di luar itu, Allah berfirman pada ayat ini:  Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa, bercampur dengan isterimu.

Pernyataan ini kemudian dirangkai dengan kalimat yang sangat menarik: Mereka adalah pakaian bagimu (sekalian), dan kamu (sekaliannya) adalah pakaian bagi mereka.

Pakaian adalah sesuatu yang menutupi tubuh untuk menjaganya dari sengatan cuaca, melindungi dari sesuatu yang menggores menimbulkan luka, dan sekaligus memperindah pemakainya. Maka dengan ungkapan tadi Allah menandaskan kewajiban isteri untuk melindungi suaminya dari segala hal buruk yang mengganggu penampilannya di hadapan Allah maupun sesama manusia. Kewajiban yang sama juga meski diltunaikan oleh suami terhadap isterinya.

Ada dua gangguan yang berpotensi menerpa suami maupun isteri. Fitrah suami yang jujur dapat diganggu oleh nafsu serakah, sikap sederhana dapat disisihkan oleh keinginan bermegah mewah yang ditiupkan syaithan kepadanya.

Maka isteri harus memposisikan diri sebagai pengingat dan pelurus, dengan kata-kata maupun sikap yang ma’ruf – pantas menurut etika masyarakat. Begitu pula bila isteri cenderung kepada hal-hal yang tidak baik menurut Allah dan tidak pantas menurut lingkungan sosialnya, suami harus menjadi penjaganya dari bisikan-bisikan syaithan itu. Apa lagi suami ditetapkan Allah sebagai pemimpin rumah tangganya (QS 4:34).

Hakekat pemimpin adalah penanggung jawab; maka segala masalah yang terjadi dalam rumah tangga, suamilah yang pertama-tama akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Swt.

Sungguh indah sekali Al-Quran ini. Ketika menyampaikan ketetapan hukum tentang puasa, diselipkan di dalamnya akhlak karimah dalam rumah tangga.

Sama halnya dengan ayat-ayat shiyam lainnya yang kita bicarakan beberapa hari terakhir ini. Dalam ayat 185 disampaikan fungsi Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu, dan pemisah antara yang benar dengan yang salah.

Pada ayat 186 dikemukakan betapa dekat Allah Swt kepada orang-orang yang beriman, yang berarti dekat pula perlindungan-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya yang tidak berbatas. Sungguh kami bersyukur kepada-Mu ya Allah, atas limpahan segala Kasih-Mu.[Sakib Machmud]
 

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381311/istri-wajib-melindungi-suami-dari-keburukan Sun, 28 May 2017 09:00:00 +0700 Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan
Rahasiakanlah Allah dalam Hatimu http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381273/rahasiakanlah-allah-dalam-hatimu Ibnu Athaillah mengatakan, “Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain kecuali hanya sebagai derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya.

Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai kemaqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut).”

Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan “Tidak mampu” yaitu, manakala muncul setelah ia fana’ secara hakiki, bukan “tak mampu” secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang ‘arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidakberdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.

Maka bisa ditampakkan, bahwa:

Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang ‘arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.

Orang bodoh selalu berkhayal, orang ‘arif selalu meraih kefahaman.

Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang ‘arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.

Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang ‘arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan ruihani maknawinya.

Para murid dalam perjalanan ruhaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman ruhaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.

Banyak para penempuh bangga dengan pengalaman ruhaninya, lalu ia mandeg dalam kepuasan dirinya, dan ketakjubannya.

Banyak para penempuh yang mengungkapkan kedalaman batinnya, lalu ia kehilangan keikhlasannya.

Banyak para penempuh yang gembira dengan capaian hakikatnya, padahal ia baru tahap proses awal perjalanannya.

Karena itu, benarlah ungkapan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs, “Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu.”

Pengalaman Ilahiyah, biarlah menjadi rahasia diri anda, dan biar Allah Swt saja yang Tahu. Karena pengalaman itu datangnya memang dari Allah Swt, bukan dari dirimu, bukan dari amal dan maqommu.

Ibnu Atahaillah selanjutnya menegaskan:  “Janganlah engkau mengulurkan tanganmu untuk mengambil sesuatu dari makhluk, kecuali anda melihat bahwa sang pemberi adalah Tuhanmu. Jika anda mampu di posisi demikian, ambillah menurut batas keserasian (standar) ilmu.”

Inilah etika sang penempuh, ketika menerima dan meminta tolong pada sesama, perihal soal harta benda. Sang penempuh (murid) mesti melihat bahwa sang pemberi adalah Allah Swt, bukan makhluk. Itu pun sebatas kewajaran yang dibutuhkan seketika itu, menurut standar pengetahuan agama.

Para sufi melarang meraih harta berlebih, apalagi disertai sikap rakus dan ambisi, penuh dengan cinta duniawi. Karena itu semua bisa melahirkan cobaan.

Kisah berikut bisa jadi renungan kita. Ketika seorang Sufi sedang mengundang jamuan makan para sahabatnya.Pelayan acara itu terkejut dengan perilaku para undangan pesta gurunya itu. Setidaknya sang pelayan mengamati ada tiga golongan tamu yang datang dengan gaya dan etika berbeda-beda.

Kelompok pertama, dipersilakan makan oleh tuan rumah, tapi tak kunjung makan juga, padahal makanan yang  disiapkan adalah kesukaan mereka, apalagi mereka kelihatan haus dan lapar. Beberapa menit kemudian, tuan rumah menyilakan kembali pada tamu-tamu itu, saat itulah mereka mulai mengambil hidangan makanan.

Kelompok kedua, tamu-tamu yang datang langsung dipersilakan makan oleh tuan rumah. Dan seketika itu pula langsung disantap makanan yang ada di hadapannya.

Kelompok ketiga, tamu yang datang belum dipersilakan oleh tuan rumah sudah langsung mengambil makanan itu.Tentu pelayan penasaran. Akhirnya ia bertanya pada gurunya, atas perilaku para undangan tamunya itu. “Tanyakan saja pada mereka, kenapa mereka begitu?” kata sang guru.

Sang pelayan menanyakan kepada mereka, alasan apa yang membuat mereka berbeda-beda dalam merespon hidangan tuan rumah alias gurunya itu.Kelompok pertama menjawab, “Kami memang sangat lapar dan dahaga, dan sangat bernafsu untuk segera melahap makanan kesukaan kami. Ketika tuan rumah menyilakan nafsu kami semakin bertambah, namun kami terikat aturan adab untuk tidak mengambil makanan karena dorongan nafsu. Saat itu selera  nafsu kami tiba-tiba sirna, dan guru anda tahu, kami sudah tidak berselera pada makanan hidangannya. Justru saat itulah guru anda menyilakan yang kedua kalinya, dan kami pun makan hidangannya.

Sang pelayan melanjutkan, pertanyaan pada kelompok kedua. Mereka menjawab, “Kami ini adalah tamu, dan posisi kami seperti mayit, jadi ketika tuan rumah menyilakan makan, kami harus makan, suka maupun tidak.”

Si pelayan semakin penasaran, lalu ia bertanya pada kelompok ketiga yang langsung menyantap makanan, tanpa dipersilakan lebih dulu. “Orang yang mengenal Allah (‘arif) melakukan semauNya.”

Si pelayan terpana mendapat jawaban ketiga kelompok undangan itu, sementara sang guru atau tuan rumah senyum-senyum saja.Ini semua hanyalah ilustrasi mengenai adab dari para penempuh maupun sang arif, yang erat hubungannya dengan  soal mengambil atau mengulurkan tangan pada harta, makanan atau apa pun dari makhluk.[Sufinews]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381273/rahasiakanlah-allah-dalam-hatimu Sun, 28 May 2017 07:00:00 +0700 Rahasiakanlah Allah dalam Hatimu Rahasiakanlah Allah dalam Hatimu Rahasiakanlah Allah dalam Hatimu Rahasiakanlah Allah dalam Hatimu
Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381268/meraih-15-hikmah-ketika-sakit USTAZ Salim A Fillah menulis di twitternya, manakala seorang manusia sakit, seharusnya ia bersyukur. Allah tengah memberinya kesempatan berdekat-dekat, dan setidaknya diberi kesempatan untuk meraih 15 hikmah.

1. Sakit itu zikrullah.
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3. Sakit itu tauhid.
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

4. Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi,menghitung-hitung bekal kembali.

5. Sakit itu jihad.
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah,diwajibkan terus berikhtiar,berjuang demi kesembuhannya.

6. Bahkan sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

7. Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri,yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, Allah cinta dan sayang keduanya.

8. Sakit itu silaturrahim.
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk,penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

9. Sakit itu penggugur dosa.
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

10. Sakit itu mustajab doa.
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan setan.
Diajak maksiat tak mampu tak mau dosa,lalu malah disesali kemudian diampuni.

12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis,satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. []

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381268/meraih-15-hikmah-ketika-sakit Sun, 28 May 2017 05:00:00 +0700 Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit
Riya Adalah Syirik Kecil http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381266/riya-adalah-syirik-kecil PADA dasarnya, sifat manusia sangatlah senang untuk ingin dipuji, ingin dihormati dan dihargai. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa sifat ingin dipuji merupakan syahwat khofiyyah manusia.

Sebagaimana seseorang jika lapar dia akan bersyahwat dengan makanan, jika melihat wanita akan bersyahwat dengan wanita tersebut, maka demikian juga jika ada kesempatan untuk menonjolkan kebaikan atau kelebihan yang ada pada dirinya maka dia akan lakukan apapun untuk memenuhi syahwat ingin dipujinya tersebut. Maka tak heran jika ada seseorang yang rela berkorban besar untuk memuaskan syahwat ingin mendapat ketenaran, sanjungan dan penghormatan tersebut.

Betapa banyak para dermawan yang ingin disanjung yang kemudian dia rela mengerluarkan uangnya hanya agar mendapat pujian. Tak peduli seberapa banyak uang yang dia keluarkan yang terpenting dia mendapat sanjungan. Betapa banyak juga para ustadz yang ingin dikenal memiliki ilmu yang tinggi, dia rela menghabiskan banyak waktu menghafal dalil ini itu hanya untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain.

Jangankan waktu, jangankan harta, bahkan nyawa pun tak segan ia pertaruhkan untuk meraih pujian. Dalam sebuah hadist shahih riwayat muslim dikatakan bahwa seorang mujahid rela mempertaruhkan nyawanya hanya agar mendapat julukan sang pemberani dari manusia. Seakan dia mujahid pemburu pujian itu tak peduli walaupun harus mati yang terpenting dia bisa merasakan kelezatan dipuji-puji dihadapan manusia. Naudzubillah min dzalik.

Sifat ingin dipuji, ingin dihargai, dan ingin dihormati oleh manusia itulah pangkal dari penyakit riya’. Maka sungguh riya’ inilah penyakit hati yang sangat berbahaya. Samar namun mematikan. Riya’ mengakibatkan amalan ibadah tak diterima oleh Allah swt. Bahkan Rasullullah shollallahu’alaihi wasallam mengatakan bahwa riya’ adalah syirik kecil.

“Sesungguhnya riya adalah syirik kecil”

(HR. Ahmad & Al-Hakim)

Begitu berbahayanya penyakit riya’ ini maka banyak orang berbondong-bondong mencari ilmu dan pelajaran tentangnya, apa saja kerugiannya, dalil-dalil yang melarangnya dan bagaimana cara agar terhindar dari penyakit riya’ ini. Meski demikian, manusia tetaplah manusia yang tak luput dari tipu daya syaitan.

Sebagai ilustrasi, mungkin pernah kita mendengar seseorang berkata,“Bukannya saya riya’, tapi kesuksesan ini adalah hasil dari kerja keras saya”. “Bukannya saya riya’, tapi sejak saya rajin bersedekah saya merasa lebih tenang”

“Bukannya saya riya’, tapi memang saya merasa ada yang kurang jika tidak bangun sholat malam”

Kalimat pembuka ‘bukannya saya riya’ inilah yang sesungguhnya membuka pintu riya’ tanpa sadar. Sebelum dirinya dituduh riya’ dia berupaya membela diri dengan mengatakan kata-kata ini. Dia ingin menutup-nutupi riya’-nya tersebut dengan mengatakan ‘bukannya saya riya’.

Tanpa disadari seseorang yang merasa aman dengan kalimat-kalimat seperti ini sesungguhnya dia telah terjebak oleh talbis (perangkap) syaitan. Walaupun dia telah berusaha menutup dan mencegah riya’ dengan kata-kata itu namun hati manusia sangatlah lemah. Bahkan tidak menutup kemungkinan seseorang bisa menjadi lebih leluasa mengatakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya karena merasa telah mendapat perlindungan dari kata-kata itu. Dan tentu ini berbahaya karena semakin membuka peluang munculnya riya’.

Oleh karena itu saudaraku, hendaklah seorang beriman itu hati-hati terhadap jebakan syaitan yang memang dibuat indah di mata manusia. Jangan sampai karena kita ingin terhindar dari riya’ kita mengatakan ‘bukannya saya riya’. Jangan sampai karena kita tak ingin berbuat sombong kemudian kita mengatakan ‘bukannya saya sombong’ dan berbagai jenis kata basa basi lainnya yang sejatinya malah menegaskan bahwa seseorang itu hendak melakukan riya’ atau kesombongan.

Meskipun demikian, hal ini bukan berarti kita menuduh saudara kita yang mengatakan ‘bukannya saya riya’ dia pasti riya’. Namun ini hanyalah sebagai renungan sekaligus pengingat bagi diri kita bahwa sangat mungkin hati kita tergelincir pada perkara-perkara halus yang mengantar kepada riya’. Terkadang kita mengucapkan ‘bukannya saya riya’, tapi ternyata itu hanyalah sebagai muqoddimah untuk diri kita melakukan riya’. Terkadang kita mengatakan ‘bukannya saya sombong’ ternyata itu hanyalah sebagai pengantar dari diri kita untuk kemudian menyombongkan diri. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari jebakan penyakit hati dan memberikan kita hati yang bersih. [Ahmad Fauzan 'Adziimaa/bersamadakwa]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381266/riya-adalah-syirik-kecil Sat, 27 May 2017 15:00:00 +0700 Riya Adalah Syirik Kecil Riya Adalah Syirik Kecil Riya Adalah Syirik Kecil Riya Adalah Syirik Kecil
Ali bin Abi Thalib dan Pedang Dzul Fiqar http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381250/ali-bin-abi-thalib-dan-pedang-dzul-fiqar ALI bin Abi Thalib masih sepupu Nabi SAW, putra dari Abi Thalib bin Abdul Muthalib, paman yang mengasuh beliau sejak usia delapan tahun.

Pamannya ini bersama Khadijah, istri beliau menjadi pembela utama beliau untuk mendakwahkan Islam selama tinggal di Makkah, walau Abi Thalib sendiri meninggal dalam kekafiran. Ali bin Abi Thalib lahir sepuluh tahun sebelum kenabian, tetapi telah diasuh Nabi SAW sejak usia 6 tahun.

Sebagian riwayat menyebutkan ia orang kedua yang memeluk Islam, yakni setelah Khadijah, riwayat lainnya menyebutkan ia orang ketiga, setelah Khadijah dan putra angkat beliau Zaid bin Haritsah. Bisa dikatakan ia tumbuh dan dewasa dalam didikan akhlakul karimah Nabi SAW dan bimbingan wahyu. Maka tidak heran watak dan karakter Ali bin Abi Thalib mirip dengan Nabi SAW. Dan secara keilmuan, ia mengalahkan sebagian besar sahabat lainnya, sehingga beliau SAW pernah bersabda, "Ana madinatul ilmu, wa Ali baabuuha…"  (Saya kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya).

Apalagi, ia kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan Nabi SAW, Fathimah az Zahra, sehingga bimbingan pembentukan kepribadian Ali bin Abi Thalib oleh Nabi SAW terus berlanjut hingga kewafatan beliau.

Salah satu yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib adalah sifat ksatria dan kepahlawanannya. Bersama pedang kesayangannya yang diberi nama Dzul Fiqar, sebagian riwayat menyatakan pedangnya tersebut mempunyai dua ujung lancip, ia menerjuni hampir semua medan jihad tanpa sedikitpun rasa khawatir dan takut.

Walau secara penampilan fisiknya Ali tidaklah kekar dan perkasa seperti Umar bin Khaththab misalnya, tetapi dalam setiap duel dan pertempuran dengan pedangnya itu ia hampir selalu memperoleh kemenangan. Tidak berarti bahwa ia tidak pernah terluka dan terkena senjata musuh, hanya saja luka-luka yang dialaminya tidak pernah menyurutkan semangatnya. Nabi SAW seolah mengokohkan kepahlawanannya dengan sabda beliau, "Tiada pedang (yang benar-benar hebat) selain pedang Dzul Fiqar, dan tiada pemuda (yang benar-benar ksatria dan gagah berani) selain Ali bin Abi Thalib…" (Laa fatan illaa aliyyun).

Ali bin Abi Thalib tidak pernah ketinggalan berjuang bersama Rasulullah SAW menerjuni medan pertempuran. Ketika perang Badar akan dimulai, tiga penunggang kuda handal dari kaum musyrik Quraisy maju menantang duel. Mereka dari satu keluarga, Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rab'iah dan Walid bin Utbah. Tampillah tiga pemuda Anshar menyambut tantangan mereka, Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah. Tetapi tokoh Quraisy ini menolak ketiganya, dan meminta orang terpandang dari golongan Quraisy juga. Nabi SAW memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib. Ali menghadapi Walid, sebagian riwayat menyatakan ia menghadapi Syaibah. Ini adalah pertempuran pertamanya, tetapi dengan mudah Ali mengalahkan lawannya, yang jauh lebih terlatih dan berpengalaman.

Pada perang Uhud, ketika pemegang panji Islam, Mush'ab bin Umair menemui syahidnya, Nabi SAW memerintahkan Ali menggantikan kedudukannya. Tangan kiri memegang panji, tangan kanan mengerakkan pedang Dzul Fiqarnya, menghadapi serangan demi serangan yang datang. Tiba-tiba terdengar tantangan duel dari pemegang panji pasukan musyrik, yakni pahlawan Quraisy Sa’ad bin Abi Thalhah. Karena masing-masing sibuk menghadapi lawannya, tantangan tersebut tidak ada yang menanggapi, ia pun makin sesumbar, dan Ali tidak dapat menahan dirinya lagi. Setelah mematahkan serangan lawannya, ia meloncat menghadapi orang yang sombong tersebut, ia berkata, "Akulah yang akan menghadapimu, wahai Sa'ad bin Abi Thalhah. Majulah wahai musuh Allah."

Merekapun terlibat saling serang dengan pedangnya, di sela-sela dua pasukan yang bertempur rapat.  Pada suatu kesempatan, Ali berhasil menebas kaki lawannya hingga jatuh tersungkur. Ketika akan memberikan pukulan terakhir untuk membunuhnya, Sa'ad membuka auratnya dan Ali-pun berpaling dan berlalu pergi, tidak jadi membunuhnya. Ketika seorang sahabat menanyakan alasan mengapa tidak membunuhnya, ia berkata, "Ia memperlihatkan auratnya, sehingga saya malu dan kasihan kepadanya…"

Usai pertempuran, Ali dikerumuni orang-orang yang berusaha mengobati lukanya, tetapi kesulitan karena begitu banyak luka yang dialaminya. Ketika Nabi SAW menghampiri, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, kami merasa kesulitan, kalau kami obati satu lukanya, terbukalah luka lainnya…"

Akhirnya beliau turun tangan ikut membalut luka, dan dengan berkah tangan beliau yang penuh mu'jizat, luka- lukanya dapat diobati dengan mudah. Setelah itu beliau bersabda, "Sesungguhnya seseorang yang mengalami semua ini karena membela agama Allah, sungguh telah berjasa besar dan diampuni dosa-dosanya…"

Pada perang Khandaq, sekelompok kecil pasukan musyrik Quraisy berhasil menyeberangi parit, mereka ini antara lain, Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan Dhirar bin Khaththab. Segera saja Ali bin Abi Thalib  dan sekelompok sahabat yang berjaga pada sisi tersebut mengepung mereka. Amr bin Abdi Wudd adalah jagoan Quraisy yang jarang memperoleh tandingan.

Siapapun yang melawannya kebanyakan akan kalah. Ia melontarkan tantangan duel, dan segera saja Ali bin Abi Thalib menghadapinya. Amr bin Wudd sempat meremehkan Ali karena secara fisik memang ia jauh lebih besar dan gagah. Setelah turun dari kudanya, ia menunjukkan kekuatannya, ia menampar kudanya hingga roboh. Namun semua ia tidak membuat Ali gentar, bahkan dengan mudah Ali merobohkan dan membunuhnya. Melihat keadaan itu, anggota pasukan musyrik lainnya lari terbirit-birit sampai masuk parit untuk menyelamatkan diri.

Menjelang perang Khaibar, Nabi SAW bersabda sambil memegang bendera komando (panji peperangan), "Sesungguhnya besok aku akan memberikan bendera ini pada seseorang, yang Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya. Ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya"

Esoknya para sahabat berkumpul di sekitar Rasullullah SAW dan sangat berharap dialah yang akan ditunjuk Beliau untuk memegang bendera tersebut. Alasannya jelas, 'Sangat Mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya', derajad apalagi yang lebih tinggi daripada itu, dan itu diucapkan sendiri  oleh beliau. Pandangan Rasulullah SAW berkeliling untuk mencari seseorang, para sahabat mencoba menunjukkan diri dengan harapan akan ditunjuk beliau.  Tetapi beliau tidak menemukan yang dicari, maka beliau bersabda, "Dimanakah Ali bin Abi Thalib?"

Seorang sahabat menjelaskan kalau Ali sedang mengeluhkan matanya yang sakit. Nabi SAW menyuruh seseorang untuk menjemputnya, dan ketika Ali telah sampai di hadapan Rasulullah SAW, beliau mengusap mata Ali dengan ludah beliau dan mendoakan, seketika sembuh. Sejak saat itu Ali tidak pernah sakit mata lagi. Beliau menyerahkan panji peperangan kepada Ali. Ali berkata, "Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka hingga mereka sama seperti kita!!"

"Janganlah terburu-buru," Kata Nabi SAW, "Turunlah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam. Demi Allah, lebih baik Allah memberi hidayah mereka melalui dirimu, daripada ghanimah berupa himar yang paling elok sekalipun!!"

Sebagian riwayat menyebutkan, pemilihan Ali sebagai pemegang komando atau panji, setelah dua hari sebelumnya pasukan muslim gagal merebut atau membobol benteng Na'im, benteng terluar dari Khaibar. Khaibar sendiri memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar, dan beberapa benteng kecil lainnya.

Ketika perisainya pecah pada peperangan ini, Ali menjebol pintu kota Khaibar untuk menahan serangan panah yang bertubi-tubi, sekaligus menjadikannya sebagai tameng untuk terus menyerang musuh. Usai perang, Abu Rafi dan tujuh orang lainnya mencoba membalik pintu tersebut tetapi mereka tidak kuat. Dalam peperangan ini benteng Khaibar dapat ditaklukkan dan orang-orang Yahudi yang berniat menghabisi Islam justru terusir dari jazirah Arabia.

Begitulah, hampir tidak ada peperangan yang tidak diterjuninya, dan Ali bin Abi Thalib selalu menunjukkan kepahlawanan dan kekesatriaannya, sekaligus kualitas akhlaknya sebagai didikan wahyu, didikan Nabi SAW. Sampai pernah diceritakan, dalam suatu pertempuran Ali sudah hampir membunuh musuhnya, tiba-tiba musuh tersebut meludahi wajahnya.

Tampak tersirat kemarahan Ali, tetapi justru ia meninggalkan dan membiarkannya hidup. Sebagian anggota pasukan muslim melihatnya dengan heran menanyakan sikapnya tersebut. Ali menjawab, "Ketika aku bertempur dan akan membunuhnya, aku masih berjuang karena agama Allah. Tetapi ketika ia meludahiku dan ada sedikit kemarahan dalam diriku, aku takut membunuhnya itu karena (nafsu) kemarahanku yang muncul." []

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381250/ali-bin-abi-thalib-dan-pedang-dzul-fiqar Sat, 27 May 2017 13:00:00 +0700 Ali bin Abi Thalib dan Pedang Dzul Fiqar Ali bin Abi Thalib dan Pedang Dzul Fiqar Ali bin Abi Thalib dan Pedang Dzul Fiqar Ali bin Abi Thalib dan Pedang Dzul Fiqar
Ketika Nabi Isa Berteduh Kehujanan http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381249/ketika-nabi-isa-berteduh-kehujanan SUATU hari Nabi Isa as melewati padang pasir seorang diri. Seketika turun hujan yang sangat lebat. Beliau berusaha mencari tempat berteduh. Sejauh beliau memandang, tak ditemukan tempat yang bisa dibuat berteduh.

Setelah sekian lama mencari akhirnya ia menemukan suatu tempat yang cukup teduh. Di sana ia bertemu seseorang yang sedang sibuk beribadah.

Nabi Isa mengucapkan salam dan berkata, “Mari kita sama-sama berdoa agar hujan ini berhenti.”

Orang itu mengatakan, “Wahai tuan! Bagaimana mungkin aku berdoa (agar hujan berhenti) padahal aku telah sibuk beribadah selama 40 tahun di sini agar Allah menerima tobatku. Namun sampai sekarang belum jelas apakah taubatku diterima-Nya. Aku meminta Allah agar Ia memperlihatkan tanda diterimanya taubatku; yaitu dengan mengutus salah seorang rasul-Nya ke tempat ini.”

Mendengarnya Nabi Isa menjawab, “Wahai tuan, aku adalah Isa, seorang rasul. ”Dengan ini Allah telah menerima taubatnya.

Lalu Nabi Isa bertanya padanya, “Memangnya apa dosa yang telah kau lakukan? ”Dia mengatakan, “Pada suatu hari di musim panas, aku keluar rumah. Saat itu udara sangat panas. Dan saat itu aku mengeluh, “Hari ini panas sekali.” [Islamindonesia]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381249/ketika-nabi-isa-berteduh-kehujanan Sat, 27 May 2017 11:00:00 +0700 Ketika Nabi Isa Berteduh Kehujanan Ketika Nabi Isa Berteduh Kehujanan Ketika Nabi Isa Berteduh Kehujanan Ketika Nabi Isa Berteduh Kehujanan
Kontroversi Khitan Bagi Perempuan http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381240/kontroversi-khitan-bagi-perempuan ADA yang bertanya kepada Prof Dr Syekh Yusuf Qaradhawi, bagaimana hukum Islam mengenai  khitan bagi anak-anak perempuan?

Untuk itu Syekh menjawab sbb: Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi menentangnya, demikian pula   dengan ulama, ada yang menguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling dekat kepada kenyataan dalam  masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits-meskipun tidak sampai ke derajat sahih-bahwa Nabi SAW pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya: "Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami."

Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta'shili (jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan  suaminya  dan mencerahkan (menceriakan)  wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan ada pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi anak-anaknya,  maka hendaklah ia  melakukannya, dan saya menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita sekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka tidaklah ia berdosa, karena khitan itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi'ar Islam, sehingga para ulama  menetapkan bahwa apabila Imam (kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka kembali kepada aturan yang  istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini. []

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381240/kontroversi-khitan-bagi-perempuan Sat, 27 May 2017 09:00:00 +0700 Kontroversi Khitan Bagi Perempuan Kontroversi Khitan Bagi Perempuan Kontroversi Khitan Bagi Perempuan Kontroversi Khitan Bagi Perempuan
Tips Agar Setan tak Masuk ke Rumah http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381239/tips-agar-setan-tak-masuk-ke-rumah BANYAK orang yang ingin membentengi rumahnya dari gangguan setan justru terperangkap dalam jebakan setan. Mereka ingin rumahnya tidak dimasuki setan dari golongan jin, tetapi yang dilakukan justru perbuatan-perbuatan yang disukai oleh setan karena mengandung unsur kemusyrikan.

Misalnya membuat jimat-jimat tertentu yang diletakkan di atas pintu. Atau menuliskan rajah di pintu dan jendela. Atau membaca jampi dan mantra di sekeliling rumah. Bahkan ada pula yang memanggil dukun untuk menanam pagar gaib di depan rumahnya.

Padahal jimat dan rajah tidaklah memberi manfaat apapun selain justru membuat pelakunya celaka karena berkeyakinan benda itu dapat melindunginya dari bahaya gaib. Sedangkan yang kuasa untuk melindungi manusia secara gaib hanyalah Allah Azza wa Jalla.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang pria mengenakan gelang di lengannya. Pria itu mengatakan bahwa gelang tersebut terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, “Untuk apa engkau memakainya?” Pria itu menjawab, “(Ini untuk mencegah) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas).” Beliau lantas bersabda, “Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Sementara mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya, termasuk minta dibuatkan pagar gaib untuk melindungi rumah dari gangguan setan, dapat membuat pelakunya kufur terhadap ajaran Islam.

Sebagaimana sabda beliau:  

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad; hasan)

Lalu bagaimana cara agar setan tidak masuk ke rumah kita? Islam mengajarkan cara yang sangat mudah dan tidak membutuhkan ritual yang menyulitkan. Caranya adalah, baca basmalah saat masuk rumah dan menutup pintu. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam shahihain:

“Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca basmalah, karena setan tidak akan mampu membuka pintu yang tertutup (dengan bacaan basmalah)… (HR. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Hasan Bishri dalam buku Dahsyatnya Kekuatan Basmalah menjelaskan syaratnya. Yakni ketika membaca basmalah, seorang muslim harus yakin dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan kita yang mantap terhadap keagungan dan kekuasaan Allah yang tulus saat melakukannya. Yaitu dengan membaca Basmalah ketika masuk rumah atau menutup pintu, niscaya setan akan terblokir dan terhalang untuk masuk rumah kita,” terangnya. Wallahu a’lam bish shawab. [bersamadakwah]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381239/tips-agar-setan-tak-masuk-ke-rumah Sat, 27 May 2017 05:00:00 +0700 Tips Agar Setan tak Masuk ke Rumah Tips Agar Setan tak Masuk ke Rumah Tips Agar Setan tak Masuk ke Rumah Tips Agar Setan tak Masuk ke Rumah
Ragam Manusia: Waspadalah Karena Manusia Tak Sama http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381356/ragam-manusia-waspadalah-karena-manusia-tak-sama TAK usah terkaget-kaget dengan sikap orang kepada kita yang seringkali tak sesuai dengan harapan. Manusia memang banyak macam. Sayangnya mereka tak memasang papan nama di dadanya untuk menyatakan manusia macam apa mereka itu.

Ada manusia yang melihat diri kita sebagai orang yang baik dan dalam posisi benar, lalu mereka mencintai kita. Ini adalah jenis manusia yang sehat akal dan sehat jiwa. Kecenderungan jiwanya adalah pada kebaikan dan kebenaran.

Ada manusia yang melihat kita sebagai orang baik dan orang benar, lalu mereka memanfaatkan kita dan berupaya supaya kita tak selalu baik dan benar. Mereka tega menipu kita dan bahkan membunuh karakter kita. Ini adalah karakter manusia yang sakit pikir dan sakit jiwa. Kecenderungannya selalu negatif.

Pada kasus atau kondisi lainnya, manusia tipe pertama tadi akan tetap mencintai kita dan berupaya memperbaiki kita saat kita bersalah. Sementara jenis manusia kedua tadi akan berbahagia saat kita bersalah dan menjadikannya sebagai kesempatan mengeruk keuntungan diri dan semakin memperkeruh kondisi kita.

Berhati-hatilah. Selalulah berusaha menjadi yang terbaik. Selalulah waspada menjalani hidup yang penuh jebakan ini, hidup yang tak lagi banyak hati tulus ikhlas, tak lagi marak senyuman dan sapaan yang berangkat dari hati. Salam, AIM. [*]

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2381356/ragam-manusia-waspadalah-karena-manusia-tak-sama Sat, 27 May 2017 00:08:00 +0700 Ragam Manusia: Waspadalah Karena Manusia Tak Sama Ragam Manusia: Waspadalah Karena Manusia Tak Sama Ragam Manusia: Waspadalah Karena Manusia Tak Sama Ragam Manusia: Waspadalah Karena Manusia Tak Sama
Dilarang, tak Menikah dengan Alasan Maslahat Umat? http://mozaik.inilah.com/read/detail/2380900/dilarang-tak-menikah-dengan-alasan-maslahat-umat ADA seorang pemuda yang percaya, dirinya akan lebih berguna untuk agama, bangsa dan masyarakatnya dalam statusnya saat ini: jomblo alias membujang. Bagaimana Islam mengatur persoalan ini, terutama berkaitan dengan dalih membujangnya itu yang seolah-olah untuk kemaslahatan umat?

Untuk itu, bisa dijawab sebagai berikut:

Allah SWT menciptakan manusia dan menjadikan di antara tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan suami isteri laki-laki perempuan, dan Dia jadikan di antara keduanya rasa cinta dan kasih sayang dalam pernikahan sesuai hukum-hukum syara’.  Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS ar-Rum [30]: 21)

Islam mendorong untuk menikah. Menikah itu lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan, lebih menenangkan jiwa dan lebih menjaga agama:

Imam al-Bukhari telah mengeluarkan dari Abdullah ra, ia berkata: kami bersama Nabi saw lalu beliau bersabda:

“Siapa saja di antara kalian yang sanggup menikah maka hendaklah dia menikah, sesungguhnya itu lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan, dan siapa saja yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu perisai baginya.”

-  Al-Hakim telah mengeluarkan di al-Mustadrak dari Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Siapa yang diberi Allah isteri shalihah, maka sungguh Allah telah menolongnya atas separo agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separo lainnya.”

Al-Hakim berkata: “hadis ini sanadnya sahih.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

Kemudian orang yang berusaha untuk menikah guna menjaga kesuciannya, dia adalah salah seorang dari tiga golongan yang akan ditolong Allah SWT. Imam Ahmad telah mengeluarkan di Musnad-nya dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda:

“Tiga golongan yang masing-masing menjadi hak Allah SWT untuk menolongnya: seorang mujahid di jalan Allah, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, dan al-mukâtab (hamba sahaya yang mengikat perjanjian dengan tuannya membayar sejumlah harta untuk memerdekakan dirinya) yang ingin membayarnya.”

Rasulullah saw melarang tidak menikah bagi orang yang mampu menikah.  An-Nasai telah mengeluarkan dari Samurah bin Jundub dari Nabi saw:

Bahwa Beliau melarang membujang (tidak menikah selamanya). Ibn Majah juga telah mengeluarkan hadits demikian.

Rasul saw telah berpesan kepada para bapak jika datang kepada mereka orang yang mereka ridai agama dan akhlaknya agar menikahkannya. At-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Jika datang mengkhitbah kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkan dia, jika tidak kalian lakukan maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Ibn Majah telah mengeluarkan dengan lafazh:

“Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridai akhlaknya dan agamanya maka nikahkan dia, jika tidak kalian lakukan maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Demikian juga Rasul saw berpesan agar dipilih seorang wanita saleh yang memiliki kebaikan agama yang menjaga suaminya, anak-anaknya dan rumahnya. Al-Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw, Beliau bersabda:

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya selamat tanganmu.”

Sedangkan ucapan Anda “ada hadits yang mengatakan yang maknanya “fusâq al-ummah adalah orang yang tidak menikah”, maka hadits ini dha’if.  Hadis itu seperti berikut: Ahmad telah mengeluarkan di Musnad-nya dari seorang laki-laki dari Abu Dzar, ia berkata: “seorang laki-laki yang disebut ‘Akaf bin Bisyr at-Tamimi menemui Rasulullah saw lalu Nabi saw bersabda kepadanya:

“Ya ‘Akaf apakah kamu punya isteri?” Ia menjawab: “tidak…” Nabi bersabda: “sesungguhnya sunnah kami adalah pernikahan. Dan seburuk-buruk dari kalian adalah orang yang tidak menikah (‘uzâb)…”

Hadis ini sanadnya dha’if karena kemajhulan seorang perawi dari Abu Dzar. Dan karena kekacauan yang terjadi pada sanad-sanadnya.  Ath-Thabarani mengeluarkan di Mu’jam al-Kabîr dan yang lain dari jalur Buqiyah bin Walid, keduanya dari Muawiyah bin Yahya dari Sulaiman bin Musa dari Makhul dari Udhaif bin al-Harits dari ‘Athiyah bin Busrin al-Mazini, ia berkata: “’Akaf bin Wada’ah al-Hilali datang kepada Rasululla saw … lalu ia menyebutkannya.  Sanad ini dhaif karena Muawiyah bin Yahya ash-Shadfiy, dan Buqiyah bin al-Walid juga dhaif.

Orang yang tidak menikah (al-‘uzâb) tentu saja bukan lantas seburuk-buruk manusia. Akan tetapi bisa jadi seburuk-buruk orang itu ada dari al-uzâb, dan dari selain mereka, sesuai sejarah masing-masing.

Ringkasnya, Rasul saw mendorong untuk menikah bagi orang yang mampu untuk menikah.  Menikah itu lebih menjaga agama seseorang, lebih membentengi kemaluan dan lebih menundukkan pandangan… Demikian juga Rasul saw melarang membujang (at-tabattul) yakni tidak menikah selamanya…

Atas dasar itu, selama Anda wahai penanya, mampu menikah, maka saya berpesan untuk menikah dan Anda pilih seorang wanita saleh, Anda kerahkan segenap usaha dalam membangun keluarga yang saleh, ikhlaskan untuk Allah SWT, dan jujurlah dengan Rasulullah saw. Dan sungguh Anda dengan izin Allah SWT Anda akan mampu menumbuhkan anak-anak Anda dengan pertumbuhan yang saleh.  Dan Allah menjadi penolong orang-orang saleh. []

]]>
Mozaik Inilahcom http://mozaik.inilah.com/read/detail/2380900/dilarang-tak-menikah-dengan-alasan-maslahat-umat Fri, 26 May 2017 09:00:00 +0700 Dilarang, tak Menikah dengan Alasan Maslahat Umat? Dilarang, tak Menikah dengan Alasan Maslahat Umat? Dilarang, tak Menikah dengan Alasan Maslahat Umat? Dilarang, tak Menikah dengan Alasan Maslahat Umat?