10 Kecelakaan Paling Mengerikan dalam Sejarah F1

Zhou Guanyu terseret dalam posisi terbalik sejauh lebih dari 100 meter pada GP Inggris 2022. (Sumber Foto: Formula 1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
F1 merupakan olahraga yang penuh dengan resiko. Bahkan, kecelakaan F1 terparah dapat menyebabkan sang pembalap kehilangan nyawa.
Formula 1 musim 2024/2025 sudah dimulai. Grand Prix Bahrain yang dilaksanakan pada Sabtu, 2 Maret 2024 menjadi balapan pembuka untuk musim ini.
Wilhelmus kembali diputar setelah juara dunia tahun lalu, Max Verstappen kembali menjadi pemenang pada GP ini.
Verstappen mendominasi jalannya balapan setelah start dari posisi pertama. Bahkan, pembalap berusia 26 tahun unggul 22,457 detik dari rekan setimnya, Sergio ‘Checo’ Perez yang finish di urutan kedua.
Posisi podium terakhir diisi oleh pembalap Ferrari, yaitu Carlos Sainz dengan tertinggal 2,653 detik dibelakang Checo.
Hasil ini cukup memuaskan untuk balapan pembuka Sainz di musim terakhirnya bersama Ferrari karena posisinya digantikan oleh Lewis Hamilton untuk musim depan.
GP Bahrain 2024 ini menghasilkan beberapa drama. Salah satu yang menjadi bahan perbincangan adalah pertengkaran antara dua pembalap tim Visa Cash App F1, yakni Daniel Ricciardo dan Yuki Tsunoda karena team order yang mengharuskan Tsunoda menyerahkan posisinya kepada Daniel di akhir balapan.
Selain itu, drama juga sempat terjadi pada awal balapan. Nico Hulkenberg yang memulai balapan pada posisi ke-10 harus turun ke posisi 20 setelah bersenggolan dengan Lance Stroll.
Beruntungnya, tidak ada kecelakaan F1 parah yang terjadi pada GP ini.
Daftar Kecelakaan Paling Fatal dalam Formula 1
F1 selalu mempunyai cerita tentang kecelakaan yang terjadi pada para pembalapnya. Terkadang dalam satu balapan bisa terjadi kecelakaan berkali-kali. Bahkan, ada yang sampai merenggut nyawa pembalapnya.
Masih segar dalam ingatan para penggemar F1 ketika Jules Bianchi, salah satu pembalap yang menjanjikan harus kehilangan nyawanya 9 tahun yang lalu karena kecelakaan di GP Jepang.
Namun, dibalik tragedi ini, perkembangan keselamatan pada mobil F1 menjadi lebih baik. Muncul teknologi Halo yang merupakan sistem pelindung kokpit. Tanpa teknologi ini, mungkin bertambah banyak pembalap yang tewas.
Sebut saja kecelakaan Romain Grosjean di GP Bahrain 2020 dimana dirinya berhasil keluar setelah mobilnya menabrak pagar pembatas dan terbelah menjadi dua di dalam kobaran api yang besar.
Lalu yang terbaru ada juga Zhou Guan Yu yang terjebak di dalam mobilnya secara terbalik dan terseret sejauh 100 meter lebih pada GP Inggris 2022.
Sayangnya, masih banyak pembalap F1 lain yang nasibnya tidak semujur mereka berdua.
Berikut daftar 10 kecelakaan F1 terhebat yang merenggut nyawa pembalapnya:
1. Mario Alborghetti - GP Pau, 1955
Kecelakaan F1 terparah yang pertama terjadi pada GP Pau pada tahun 1955 dimana Mario Alboghetti harus kehilangan nyawa.
Mario Alborghetti adalah pembalap asal Italia yang lahir di tahun 1928. Ia merupakan pembalap rookie yang masih belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia balap F1.
Pada sesi kualifikasi GP Pau 1955, Mario terlihat masih belum siap untuk menjadi pembalap F1. Ia menjadi pembalap paling lambat dalam sesi ini. Bahkan, terpaut 19 detik dari pole position.
Pada ajang balapan, Mario tetap tertinggal di bagian paling belakang grid. Sampai akhirnya, pada lap ke-19 ia mengalami kecelakaan dan menabrak jerami pembatas karena gagal mengerem di tikungan hairpin.
Mario yang mengalami luka fatal pada dada dan kepala akhirnya dinyatakan meninggal setelah balapan berlangsung.
2. Peter Collins - GP Jerman, 1958
Peter John Collins merupakan salah satu pembalap senior di F1 musim 1958. Pembalap asal Inggris ini sudah menjadi pembalap F1 sejak tahun 1952. Pada musim 1958, ia menjadi pembalap dari tim Scuderia Ferrari.
Collins harus kehilangan nyawa setelah mengalami kecelakaan F1 pada GP Jerman 1958. Saat sedang mengejar Tony Brooks, Collins kehilangan kendali atas mobilnya.
Kecelakaan ini menyebabkan Ferrari yang Collins bawa menabrak pagar pembatas dan terbalik.
Collins yang terlempar dari mobil mengalami cedera hebat di kepalanya karena terbentur pohon.
3. Wolfgang von Trips - GP Monza, 1961
Kecelakaan F1 Wolfgang von Trips di GP Monza pada tahun 1961 menjadi salah satu kecelakaan paling memilukan dalam sejarah F1. Pada lap pertama, von Trips bersenggolan dengan mobil Jim Clark.
Mobil von Trip kehilangan kendali dan terbang menuju pagar pembatas. Wolfgang von Trips akhirnya meninggal karena terlempar dari mobilnya.
Dalam kecelakaan ini, 15 penonton turut meninggal dunia karena terkena mobil von Trips.
4. Mark Donohue - GP Austria, 1975
Mark Donohue menjadi salah satu pembalap F1 yang meninggal dalam balapan. Pada GP Austria 1975. Pada sesi latihan, mobil Ford milik Mark mengalami kegagalan dalam sistem pengeremannya.
Hal ini membuat Mark melaju kencang ke arah pembatas di tikungan Voëst-Hugel. Kepala Mark sempat terbentur antara tiang pagar dan bagian bawah papan iklan.
Namun, Mark tampak tidak terluka dan bisa berjalan lagi setelah kecelakaan tersebut.
Namun, setelah balapan Mark merasakan sakit pada kepalanya dan dinyatakan koma pada esok harinya sebelum akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia.
Selain itu, satu marshall juga meninggal pada kecelakaan ini karena terkena lemparan puing-puing dari mobil Mark.
5. Tom Pryce - GP Afrika Selatan, 1977
Tom Pryce merupakan salah satu pembalap yang bertanding bersama duo legendaris F1, James Hunt dan Niki Lauda. Naasnya, ia harus menemui ajalnya saat balapan di GP Afrika Selatan tahun 1977.
Kecelakaan dimulai ketika mobil Renzo Zorzi mengalami masalah teknis dan harus berhenti di samping trek. Dua marshall yang masih berusia 20 dan 19 tahun berniat membantu Zorzi untuk keluar dari mobilnya.
Sayangnya, mereka berdua berlari menyebrang melewati trek saat 4 mobil F1 sedang melaju kencang. Hans-Joachim Stuck, Jacques Laffitte, dan Gunnar Nilson berhasil menghindari kedua marshall ini.
Namun, Tom Pryce menabrak salah satu marshal yang membawa alat pemadam api.
Marshall yang bernama Van Vuuren ini pun terlempar dan meninggal di tempat. Alat pemadam api yang Van Vuuren bawa terlempar ke kepala Pryce yang menyebabkannya tercekik tali helm dan tewas seketika.
6. Ronnie Peterson - GP Italia, 1978
Pembalap kelahiran Swedia ini merupakan salah satu pembalap andalan Lotus. Pada GP Italia tahun 1978, Ronnie terlibat dalam kecelakaan beruntun setelah balapan di mulai.
Ronnie yang memulai balapan dari posisi ke 5 mengalami start yang buruk dan ditabrak oleh James Hunt. Mobilnya terdorong ke pagar pembatas dan terbakar.
Banyak pembalap lain yang berinisiatif untuk menghentikan mobilnya dan membantu Ronnie keluar dari mobil yang terbakar.
Pada kecelakaan ini Ronnie mengalami patah tulang pada 27 titik. Cedera ini membuat tubuhnya mengalami fat embolism atau emboli lemak dan gagal ginjal yang mengakibatkan Ronnie meninggal pada keesokan harinya.
7. Riccardo Paletti - GP Kanada, 1982
Riccardo Paletti merupakan pembalap asal Italia yang harus kehilangan nyawa dalam kecelakaan F1 di balapan keduanya.
Tepatnya, pada GP Kanada 1982. Pada awal balapan, Didier Pironi yang merupakan pemimpin grid mengalami masalah pada mobilnya dan berhenti di tengah trek balap.
Pembalap lain yang sudah melihat masalah ini berhasil menghindari mobil Pironi. Namun, Paletti gagal mengantisipasi hal tersebut dan menabrak Pironi dalam kecepatan 180 km/j.
Paletti yang mengalami cedera pada dada dan patah di kedua kaki ini langsung tidak sadarkan diri dan terjebak di dalam mobilnya yang terbakar.
Saat api dipadamkan, Paletti sudah tidak memiliki denyut nadi lagi dan dinyatakan meninggal begitu sampai di rumah sakit.
8. Gilles Villeneuve - GP Belgia, 1982
Pembalap F1 yang meninggal dalam trek selanjutnya adalah Gilles Villeneuve. Bagi Anda yang menyukai olahraga balap mungkin sudah tidak asing dengan namanya karena sudah dijadikan nama sirkuit di Kanada.
Gilles Villeneuve yang pada tahun 1982 mengendarai Ferrari ini, harus bertemu ajalnya setelah mengalami kecelakaan hebat di GP Belgia.
Pada saat kualifikasi, mobil Gilles menabrak bagian belakang mobil Jochen Mass dan terbang dalam kecepatan sekitar 200 km/j. Saat mobilnya sedang berputar di udara, tubuh Gilles terlempar keluar dari mobil ke pagar pembatas.
Gilles Villeneuve akhirnya meninggal setelah beberapa jam mendapatkan perawatan karena cedera parah pada lehernya.
9. Ayrton Senna & Roland Ratzenberger - GP San Marino, 1994
GP San Marino 1994 menyisakan luka yang mendalam bagi penggemar F1. Pada balapan kali ini, dua pembalap kehilangan nyawa setelah mengalami kecelakaan fatal.
Pertama, Roland Ratzenberger yang mengalami kecelakaan fatal pada sesi kualifikasi.
Mobil dari pembalap rookie ini mengalami kerusakan dan akhirnya menabrak pagar pembatas pada kecepatan 315 km/j.
Roland mengalami retak tulang tengkorak dan kerusakan jantung akibat ban depannya yang masuk ke dalam kokpit. Ia dinyatakan meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit.
Selanjutnya, ada Ayrton Senna da Silva yang merupakan pembalap unggulan pada masa itu. Senna telah menjadi juara dunia F1 3 kali, tepatnya pada tahun 1988, 1990, 1991.
Balapan GP San Marino 1994 menjadi balapan terakhir Senna. Ia harus kehilangan nyawanya setelah kehilangan kendali di tikungan Tamburello pada lap ketujuh dan menabrak pagar pembatas dengan kecepatan 233 km/jam.
Penyebab utama dari kematian Senna adalah kehilangan darah mencapai 4,5 liter.
Hal ini disebabkan adanya bagian dari suspensi dan ban depan kanan mobil Senna yang masuk ke dalam kokpit dan menembus helm Senna sehingga membuat lubah besar di dahinya.
Akibat cedera ini, Senna dinyatakan meninggal beberapa jam kemudian.
Sayangnya, menurut hasil investigasi, helm yang Senna pakai saat kecelakaan tidak sesuai standar yang seharusnya.
Helm Senna dibuat lebih ringan untuk mengurangi bobot kendaraan dan menggunakan bahan yang tidak sekuat helm yang sesuai standar.
10. Jules Bianchi - GP Jepang, 2014
Kecelakaan F1 tragis yang terakhir terjadi pada GP Jepang 2014 yang diadakan dalam kondisi hujan lebat. Tragedi terjadi saat mobil Adrian Sutil tergelincir keluar trek pada lap ke 42.
Dibutuhkan mobil derek untuk mengangkat mobil Adrian yang terparkir di samping trek.
Memasuki lap 43, tiba-tiba mobil Jules Bianchi tergelincir juga di tikungan yang sama.
Naasnya, mobil Bianchi melaju ke arah mobil derek yang sedang mundur lalu menabrak bagian belakang mobil derek tersebut dengan kecepatan 213 km/j.
Bianchi mengalami koma karena cedera parah di kepala. Sayangnya, Bianchi meninggal setelah 9 bulan menjalani perawatan.
.
.
Baca berita dan artikel menarik lain Inilah.com di Google News.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.