1.600 Anak Meninggal karena Covid-19, PTM Harus Terapkan Prokes Ketat

1.600 Anak Meninggal karena Covid-19, PTM Harus Terapkan Prokes Ketat - inilah.com
Dokumentasi INILAHCOM/AGUS PRIATNA

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kini sudah mulai diberlakukan. Meski dilakukan secara terbatas di tengah pandemi Covid-19, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama soal penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon), Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI menjelaskan, IDAI dalam hal ini menganggap sekolah memang harus segera dijalankan. Artinya, jika melihat pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari 18 bulan, bisa dilihat adanya gangguan di beberapa sistem. Mulai dari pendidikan, ekonomi, dan perkembangan sumber daya manusia yang kurang maksimal.

“Untuk long term-nya, suatu saat para remaja tidak siap mendapat pekerjaan, tidak siap untuk sebuah market, dan banyak yang tidak sekolah, terjadi early merried, dan kehamilan dini. Human capital kita ini menjadi kurang kualitasnya untuk bersaing di dunia,” papar Aman dikutip dari tayangan video yang ditampilkan di instagram resmi IDAI @idai_ig, Jakarta, Selasa, (28/09/2021).

Namun, ada hal yang lebih penting dari itu adalah ketika banyak anak-anak yang menjadi korban terinveksi Covid-19 hingga meninggal dunia. Menurut data dari IDAI, 50 persen anak-anak yang meninggal akibat Covid-19 di bawah usia 5 tahun, dan sekitar 30 persen adalah para remaja.

Baca juga  600 Kasus Depresi Didapati Saat Pandemi Lewat Konsultasi Telemedicine

“Kita lihat saat ini, banyak juga anak kita yang meninggal. Jadi, yang meninggal saat ini hampir 1.600, oke. Dan yang menyedihkan itu 50 persen di bawah 5 tahun, sekitar 30 persen adalah remaja,” tambah Aman.

Lantas apakah boleh PTM dilakukan saat ini?

“InsyaAllah boleh. Karena positif rate kita sudah di bawah 8 persen. Kita merekomendasi yang sudah diimunisasi, dan guru serta di lingkungannya sudah diimunisasi,” kata Aman.

Hal yang lebih teknis lagi adalah memastikan anak tidak membuka maskernya saat berada di sekolah.  

“Teknisnya, anak tidak boleh buka masker di sekolah. kita merekomendasikan maksimal 2 jam dulu di sekolah. Sistem ini harus diterapkan. Trial tatap muka itu harus diterapkan. Tetapi masih ada beberapa yang makan di kantin. Ada yang buka masker,” tambahnya.

Solusi dari PTM

Baca juga  Polri: Yahya Waloni Jadi Tersangka Sejak Mei

Agar tidak menimbulkan cluster di saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM), hal yang paling penting adalah bagaimana cara memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini bukan saja menjadi tanggung jawab pihak sekolah kepada pemerintah dan Pemda.

“Tetapi kepada orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah,” tegas Aman.

Hasil riset jumlah anak terpapar Covid-19

Berdasarkan studi retrospektif dari data berdasarkan laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat oleh dokter anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama Maret-Desember 2020 (gelombang pertama covid di Indonesia), didapatkan 37.706 kasus anak terkonfirmasi Covid-19.

Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu. Dikatakan oleh Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon) selaku Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, adanya gelombang pertama covid-19 menyebabkan kematian pada anak cukup tinggi.

Baca juga  Menpora Soal Sanksi Badan Doping Dunia: Kita Patuhi Aturan

‚ÄúPenelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus Covid-19 anak di Indonesia pada gelombang pertama Covid-19. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat,” kata Aman B. Pulungan, Jakarta, Senin, (27/09/2021).
 
Berdasarkan data tersebut, di antara anak-anak terkonfirmasi Covid-19 yang ditangani oleh dokter anak, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun (26 persen), diikuti 1-5 tahun (23 persen), 29 hari- kurang dari 12 bulan (23 persen), 0-28 hari (15 persen), dan 6- kurang dari 10 tahun (13 persen).

 
“Berdasarkan laporan tersebut, diperoleh Case Fatality Rate (CFR) covid-19 pada anak di Indonesia: 522 kematian dari 35.506 kasus Suspek (CFR 1.4 persen), dan 177 kematian dari 37.706 kasus Terkonfirmasi (CFR 0.46 persen),” kata Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K) – Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI.

Tinggalkan Komentar