Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Dua Warga Pakistan Kerap Meresahkan Pengurus Masjid di Sampit

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sampit mengamankan 2 warga Pakistan, lantaran kerap meresahkan pengurus-pengurus masjid di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Adapun perbuatan meresahkan 2 warga Pakistan itu adalah kerap meminta sumbangan.

“Mereka tidak boleh melakukan kegiatan seperti itu. Karena dalam pengajuan izinnya untuk kepentingan bisnis dan wisata. Ini menimbulkan keresahan sehingga kami mengambil tindakan,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sampit, Bugie Kurniawan, Kamis (3/2/2022).

Bugie menceritakan, dua pria asal Pakistan itu adalah ASH (36) dengan izin tinggal kunjungan berlaku sampai 17 Februari 2022 dan IUH (28) yang masa izin tinggal kunjungan berlaku sampai 20 Februari 2022.

Baca juga
Kejagung Periksa 4 Mantan Komisaris Garuda

Mereka meminta sumbangan ke masjid-masjid untuk keperluan membeli Al-Quran dengan huruf Braille. Atau untuk tuna netra pengungsi perang Khasmir India yang ada di pengungsian Pakistan. Nilai sumbangan yang mereka minta sebesar Rp3,5 juta.

Mereka tidak akan pergi jika belum ada pemberian uang sesuai yang mereka minta. Hal ini yang kemudian membuat resah pengurus masjid.

Mendapat laporan itu, Seksi Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sampit melakukan penyisiran di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Tim kemudian melakukan koordinasi dengan BAIS yang membawahi wilayah Kotawaringin Timur melakukan pencarian. Tim kemudian mendapat informasi bahwa keduanya menginap pada salah satu hotel di Sampit.

Baca juga
Peradi Pergerakan Usut Transaksi Mencurigakan di Rekening Orari

Saat tim mendatangi, satu orang warga Pakistan itu sedang mengurus administrasi untuk meninggalkan hotel. Sedangkan satu orang lainnya masih berada di kamar hotel. Petugas lalu membawa keduanya ke Ruang Detensi Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sampit untukĀ  pendalaman.

“Sampai saat ini tahapannya kami masih melalukan pemeriksaan terkait dokumen keimigrasiannya. Kalau temukan pelanggaran maka akan proses sesuai aturan hukum yang berlaku. Ancaman sanksi sampai deportasi dan pencekalan,” jelas Bugie.

Tinggalkan Komentar