Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

3 Kelainan Jantung yang Dialami Jemaah Haji Indonesia

Sabtu, 02 Jul 2022 - 18:14 WIB
Kelainan Jantung
Dokumentasi Kemenkes RI

Penyakit jantung mendominasi kematian jemaah haji di Indonesia hingga hari ke 28 operasional haji tahun ini. Dari 14 kematian, 12 di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung.

Demikian pula dari sisi pelayanan kesehatan, khususnya di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Data menunjukkan, dari sebanyak 462 jemaah yang menjalani pemeriksaan rawat jalan, 42 diantaranya terkait dengan kelainan jantung. Sementara dari total 179 jemaah yang menjalani rawat inap, 13 diantaranya merupakan pasien jantung.

dr. Mohammad Rizki Akbar, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, yang merupakan tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, menyampaikan setidaknya terdapat tiga jenis kelainan jantung yang dialami oleh jemaah yang dirawat di KKHI Makkah. Hal tersebut baik yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap.

Baca juga
Jadi Juara AFF, Timnas U-16 Indonesia Diguyur Bonus Rp500 Juta

“Kelompok pertama yang paling banyak masuk kepada kelompok gagal jantung,” ungkap dr. Rizki, seperti mengutip dari Kemenkes RI, Sabtu, (2/7/2022).

Pada kelompok ini keluhan yang sering banyak muncul adalah sesak nafas. Selain itu juga mudah lelah saat beraktivitas, atau biasanya ditandai dengan adanya bengkak di tungkai kaki.

“Biasanya terjadi karena minum obat tidak teratur, atau aktivitas ibadah (fisik) yang terlalu berat,” tambahnya.

Kelompok kedua adalah pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada. Hal ini terjadi, dimungkinkan karena adanya penyempitan pembuluh darah di jantung. Sementara kelompok ketiga adalah pasien yang datang dengan keluhan berdebar.

Baca juga
Bima Sakti Minta Tolong ke Suporter Timnas AFF U-16 Jangan Nyalakan Flare

“Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada irama jantungnya,” jelasnya.

dr. Rizki menyarankan setiap merasakan keluhan, jemaah yang memiliki faktor risiko jantung harus segera menyampaikan kepada petugas kesehatan di kloter, baik kepada dokter maupun perawat, sehingga segera dapat dilakukan evaluasi terhadap kondisi jemaah dan diputuskan tindakan yang dibutuhkan jemaah.

“Sehingga mereka bisa langsung lakukan evaluasi apakah ini terkait dengan perburukan kondisi ataukah tidak. Dengan demikian kita bisa melakukan pelayanan dan pengobatan di KKHI,” tutup dr. Rizki.

Tinggalkan Komentar