Kamis, 18 Agustus 2022
20 Muharram 1444

3 Tips Agar Anak Tidak Kecanduan Gadget dan Menonton Konten Porno

Kamis, 02 Des 2021 - 20:01 WIB
Ilustrasi Pornografi - inilah.com
Ilustrasi Pornografi

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan, 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia menyaksikan kegiatan seksual (pornografi) melalui media daring.

Hal ini menjadi salah satu data yang mengejutkan dan membuat orangtua sangat resah.

Karena, menurut Astrid WEN, M. Psi, Psikolog Anak dan Keluarga, saat ini anak-anak menjadi genarasi yang harus berhadapan dengan dunia digital. Terlebih di masa pandemi.

Berikut adalah cara bagi orangtua untuk mengantisipasi anak dari terpaparnya gadget dan bahaya konten pornografi.

1. Eksplorasi minat dan bakat

Melihat data dari Kemen PPPA tersebut, Astrid mengingatkan para orangtua untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget ke aktivitas lainnya agar tidak terpapar pornografi dan banyak menggunakan gadget.

Baca juga
Interfaith dan Islamophobia -02

“Kalau anak udah punya minat tertentu dia akan mengeksplorasi dunianya. Kalau dia sukanya dengan angka, kita kasih kegiatan yang berkaitan dengan angka. Lalu kita puji dia, kita buat dia merasa dia itu penting, dia bermakna, bahwa orang-orang di sekitar dia membutuhkan dia,” kata Astrid kepada INILAHCOM, Jakarta, Kamis, (02/12/2021).

2. Batasi penggunaan gadget dan awasi

Batasan pada anak saat menggunakan gadget bisa lewat settingan parenting control.

“Misalnya membuka situs-situs yang ramah anak anak ya. Dengan settingan di gadget yang ramah anak,” tambahnya.

Jika dibatasi hanya soal durasi penggunaan gadget namun tidak ada pengawasan dari orangtua ini justru menjadi hal yang salah.

Baca juga
Penalti Ferran Torres Selamatkan Barcelona dari Kekalahan

“Durasi itu menurut saya yang penting pengawasan. Mau durasinya 5 menit kalau enggak diawasi, iklannya (konten pornografi) muncul gimana? Orangtua menerapkan batasan tuh yang bisa diawasi. Padahal orangtua bilang kamu nonton 1 jam saja sehari. Tapi orangtua tidak mengawasi, orangtua tidak di rumah, atau orangtua tetap kasih. Jadi batasan itu harus juga realistis, bagaimana orangtua batasan-batasan itu sesuai dengan omongannya dia,” paparnya.

3. Ajak anak berkomunikasi

Komunikasi antara orangtua dan anak sangat penting. Terlebih soal pendidikan seksual dan buruknya konten pornografi.

“Orangtua bisa mengajarkan anak, mengapa itu enggak boleh. Kenapa tidak baik ditonton. Orangtua sering bilang enggak boleh-enggak boleh, tapi enggak ngasih pengajaran, kenapa sih enggak boleh. Kenapa sih enggak baik ditonton sekarang? Jadi harus dikasih pengertian Kenapa sih enggak baik ditonton sehingga nanti anak yang punya kontrol terhadap diri sendiri,” paparnya.

Tinggalkan Komentar