Kamis, 19 Mei 2022
18 Syawal 1443

3 Tren Layanan Digital yang Bakal Mendominasi di Tahun 2022

Digital - inilah.com
Istockphoto

Pandemi telah mendorong migrasi digital ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang berfokus pada digital, perusahaan di kawasan Asia Pasifik memimpin.

Berdasarkan laporan IDC menunjukkan bahwa 28 persen perusahaan di kawasan ini sudah berada dalam tahap kematangan transformasi digital paling progresif.

Lebih banyak perusahaan menjadi digital atau meningkatkan penawaran digital.

Memulai  satu dari tiga perusahaan bakal memperoleh lebih dari 30% penghasilan mereka dari produk dan layanan digital hingga tahun 2023.

“Pemanfaatan teknologi baru di beberapa negara seperti China, Singapura dan Korea juga mengalami kemajuan yang besar, menyusul kemajuan teknologi dan peningkatan investasi yang dilakukan beberapa tahun terakhir,” ujar Erwin Sukiato, Country Manager for Indonesia, Cloudera dalam keterangan persnya.

Cloudera melihat industri yang berhadapan langsung dengan pelanggan, paling memicu lahirnya beberapa tren yang siap mendominasi 2022. Sektor-sektor seperti ritel, pengemasan konsumen, rantai pasokan, telekomunikasi, perbankan, layanan keuangan dan layanan kesehatan akan menjadi yang pertama mengimplementasikan beberapa tren seperti komputasi cloud, smart edge dan keberlanjutan.

1.Enterprise-wide Cloud

Selain melihat keberlanjutan bisnis, perusahaan mengambil peluang untuk mengevaluasi kembali prioritas dan proses bisnis, serta fokus pada inovasi dengan mengakselerasi migrasi mereka ke cloud. Gerakan ini seharusnya sesuai tujuan strategis perusahaan serta mendorong target untuk mendapatkan lebih banyak insight dari data mereka. Data adalah sumber daya strategis sekaligus menjadi jaminan bagi strateginya sendiri.

Baca juga
Mesin Berpotensi Terbakar, Hyundai Recall 215 Ribu Unit Sonata

terutama strategi data enterprise yang mencakup seluruh perusahaan, terintegrasi, terkelola dan aman. Dengan mengadopsi strategi yang memenuhi kebutuhan bisnis dan IT, perusahaan bisa mengurangi biaya dan upaya tumpang tindih di berbagai lini bisnis, sekaligus menghindari data silo, untuk peningkatan efisiensi, skalabilitas dan agility.

Saat beberapa perusahaan sudah menggunakan cloud untuk mengatasi beberapa masalah khusus, kemungkinan kita akan melihat pergeseran fokus ke pendekatan serba inklusif yang terpusat pada migrasi cloud yang bersifat enterprise-wide.

Laporan penelitian global baru kami yang mengamati dampak strategi data enterprise sebuah perusahaan terhadap kinerja bisnisnya.

“Cloudera Enterprise Data Maturity Report: Identifying the Business Impact of an Enterprise Data Strategy”.

menunjukkan adanya perpindahan ke hybrid cloud dalam 18 bulan mendatang. Hampir setengah dari responden yakin bahwa 43,07 persen karyawan mereka akan terus bekerja secara remote setahun mendatang, dan mereka berinvestasi pada arsitektur yang tepat untuk mendukung peralihan ini.

Baca juga
Lockdown Besar-besaran di China Berimbas Rantai Pasokan Produk Apple

Dunia saat ini adalah dunia hybrid – ada data hybrid, infrastruktur hybrid serta sistem kerja hybrid. Laporan yang sama mendapati bahwa mayoritas perusahaan bermaksud menempatkan analisa data dan kinerja di arsitektur hybrid dan/atau arsitektur multi-cloud.

Pengadopsian hybrid cloud akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, terutama dengan penekanan yang semakin besar pada pemanfaatan data.

Dengan hybrid data cloud, perusahaan bisa mengakses dan menganalisa data dengan cepat dan mudah.

Untuk mengambil keputusan yang mendorong data secara lebih cerdas agar makin efektif dalam memenuhi permintaan iklim bisnis yang sangat kompetitif. Mengakses dan mengelola data dari beberapa sumber dan lokasi akan memberikan kendali dan fleksibilitas kepada perusahaan dalam memanfaatkan kerja hybrid sekaligus tetap menjalankan bisnis seperti biasa.

2.Komputasi Smart Edge

Menurut laporan terbaru Forrester, investasi “Smart Infrastructure” di kawasan Asia Pasifik akan meningkat 40 persen. Peluncuran 5G menyajikan konektivitas yang semakin besar.

Memungkinkan bisnis merangkul teknologi baru untuk memanfaatkan dan menganalisa sejumlah besar data di edge, yang pada akhirnya mempercepat speed-to-insight.

Kami meramalkan bisnis di kawasan ini beralih ke komputasi smart edge untuk membantu menganalisas data dengan cepat, sekaligus mengurangi latensi dan biaya.

Baca juga
Begini Cara Jualan NFT di Opensea Biar Cuan Miliaran Seperti Ghozali

Sebagai contoh, banyak industri di kawasan Asia Pasifik masih bekerja di bawah corrective maintenance process, di mana pemeliharaannya berdasarkan data yang sudah terkumpul.

Contohnya seperti waktu rata-rata kegagalan dan waktu rata-rata perbaikan. Dengan komputasi smart edge, kita akan mulai melihat peralihan menuju proses pemeliharaan yang bersifat preventif, dan akhirnya prediktif, sehingga bisnis dapat memprediksi masalah sebelum terjadinya kegagalan. Pada dasarnya ini adalah melakukan pemeliharaan preventif selangkah lebih maju untuk membuat keputusan real time.

3.Keberlanjutan, DEI (Diversity, Equity and Inclusion)

Keberlanjutan dan keberagaman karyawan akan terus menjadi fokus di dunia bisnis. Kita mungkin akan melihat lebih banyak perusahan bergantung pada data untuk memastikan keberhasilan dan efektivitas inisiatif DEI (Diversity, Equity and Inclusion/Keanekaragaman, Kesetaraan dan Inklusi).

Perusahaan bisa menggunakan data dan analisa untuk menciptakan tolok ukur yang lebih baik dan mengatur metrik serta praktik seputar obyektif bisnis seperti keberlanjutan keberagaman karyawan.

Hal ini bisa memberikan hasil bisnis yang positif dan memberikan keunggulan daya saing bagi bisnis. Dengan visibilitas lebih besar, manajemen bisa memastikan mereka mendorong pengambilan keputusan lebih baik untuk inovasi lebih besar di lingkungan kerja.

Tinggalkan Komentar