Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

6 Risiko Cedera Olahraga Bulu Tangkis

Selasa, 28 Jun 2022 - 14:28 WIB
Cedera Olahraga Bulu Tangkis
Dokumentasi Inilah.com/Didik Setiawan

Euforia olahraga bulu tangkis di Indonesia memang luar biasa. Banyak orang yang kemudian memilih bulu tangkis sebagai olahraga rutin setelah menyaksikan atlet-atlet Indonesia berlaga di turnamen-turnamen internasional.

Untuk itu, penting untuk diketahui bagaimana karakteristik permainan bulu tangkis ini.

Apa saja faktor risiko dan cedera tersering dalam bulu tangkis dan bagaimana mencegahnya? Simak ulasannya berikut ini.

Karakteristik olahraga bulu tangkis

Olahraga bulu tangkis termasuk kategori olahraga high impact dengan gerakan yang dinamis, yang merupakan kombinasi antara reli-reli pendek dan reli-reli panjang,.

Karenanya, pemain bulu tangkis membutuhkan kebugaran aerobik atau kebugaran kardiorespirasi untuk dapat bermain bulu tangkis dengan durasi permainan tiga set.

Tak hanya itu, pemain bulu tangkis juga memerlukan kecepatan, tenaga atau power, serta kelincahan yang cukup baik. Misalnya, pada gerakan melompat saat jumping smash, gerakan lunges saat melakukan gerakan netting, gerakan drop shot, gerakan yang cepat dan mengubah arah saat defence, serta gerakan lainnya.

6 cedera tersering dalam bulu tangkis

Menurut dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Sport Medicine, Injury, Recovery Center (SMIRC) dari RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, pemain bulu tangkis membutuhkan stamina yang kuat, kelincahan, kecepatan, ketepatan, kekuatan otot, dan koordinasi motorik sendi dan otot yang baik.

“Olahraga ini dipenuhi gerakan kompleks sesuai dengan tempo permainannya. Itulah mengapa jika tidak berhati-hati, cedera otot, sendi, ligamen, hingga tendon rentan terjadi ketika bermain bulu tangkis,” papar Antonius Andi Kurniawan, Jakarta, Selasa, (28/6/2022).

Baca juga
Keputusan Marcus di Indonesia Open 2022 Ada di Tim Dokter

Berikut ini beberapa jenis cedera yang dapat terjadi ketika bermain bulu tangkis:

1.  Cedera bahu

Penyebab: gerakan overhead atau mengayun yang cepat dan berulang. Tipe cedera bahu pada pemain bulu tangkis adalah overuse injury, disebabkan karena gerakan sendi bahu yang berulang.

“Kondisi ini akan menyebabkan otot-otot bahu kelelahan dan mengakibatkan stabilitas sendi bahu menurun. Tendonitis rotator cuff atau tendinopathy adalah kondisi cedera bahu tersering pada pemain bulu tangkis,” paparnya.

2.  Cedera ankle

Penyebab: Cedera ankle atau sering disebut ankle sprain (pergelangan kaki terkilir) sering terjadi pada pemain bulu tangkis akibat gerakan-gerakan berubah arah dalam waktu yang cepat serta gerakan melompat dan mendarat saat melakukan jumping smash.

Faktor risiko cedera pergelangan kaki bisa berasal dari internal dan eksternal.

Faktor internal misalnya: kelelahan saat bermain sehingga membuat keseimbangan menjadi terganggu dan pergelangan kaki kemudian terkilir; faktor eksternal biasanya disebabkan karena kondisi lapangan yang licin atau karena penggunaan sepatu yang tidak tepat sehingga membuat cedera pada ankle.

3. Cedera lutut

Jenis cedera lutut yang paling sering terjadi pada olahraga bulu tangkis adalah cedera jumper’s knee atau patella tendinitis yang diakibatkan gerakan melompat dan mendarat berulang dan gerakan lunges yang berulang.

Gerakan melompat dan mendarat serta gerakan lunges memberikan beban yang cukup besar pada tendon sendi lutut sehingga menyebabkan cedera lutut.

Selain cedera pada tendon lutut, cedera ligamen lutut dan bantalan lutut juga sering dilaporkan di beberapa jurnal ilmiah, yaitu cedera ACL dan meniskus. Cedera ini sering disebabkan karena gerakan berputar dari lutut saat bermain bulu tangkis.

Baca juga
Dubes RI Sambut Kedatangan Atlet Bulu Tangkis Indonesia untuk BWF World Championships 2021

4. Cedera punggung

Cedera lower back pain atau cedera punggung bawah juga sering terjadi pada pemain bulu tangkis, hal ini dapat terjadi akibat beberapa gerakan menerjang dan merunduk pada saat bermain bulu tangkis. Kelemahan otot punggung merupakan salah satu faktor risiko dari cedera lower back pain pada permainan bulu tangkis.

5. Cedera siku

Penyebab: Cedera pada siku dapat terjadi karena beban pada otot yang berlebihan dan terus-menerus selama memegang raket, sehingga menimbulkan peradangan pada otot siku.

6. Cedera kram otot

Penyebab: olahraga tanpa melakukan pemanasan dan peregangan otot. Kram otot bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, tapi kram yang paling sering biasanya muncul di kaki. Saat kram terjadi, otot akan mengalami kontraksi dan bagian tubuh yang mengalami kram akan sulit digerakkan selama beberapa detik atau bahkan beberapa menit.

Cedera ketika bermain bulu tangkis dapat dicegah dengan beberapa cara yang mudah, antara lain:

1. Melakukan pemanasan dan pendinginan yang tepat

2. Mempersiapkan tubuh berolahraga dan beradaptasi dengan intensitas permainan adalah cara terbaik untuk mencegah cedera

3. Latihan kekuatan otot dan latihan fleksibilitas

Berdasarkan karakteristik gerakan olahraga bulu tangkis yang merupakan olahraga high impact, penting sekali seorang pemain bulu tangkis mempunyai kekuatan otot dan fleksibilitas yang baik untuk mencegah terjadinya cedera.

Baca juga
Atlet Jebolan Akademi Marcus Gideon Siap Wakili Indonesia di Turkey Junior Championship 2022

Berikut adalah beberapa langkah agar mencegah terjadinya cedera.

1. Pemilihan sepatu yang tepat

Sepatu bulu tangkis secara khusus dibuat untuk meredam guncangan sehingga dapat mencegah cedera pada tempurung lutut dan tulang kering. Sepatu yang dipilih juga sebaiknya cukup ringan dengan cushion yang baik untuk dapat melindungi ankle, dan juga memiliki sol anti selip untuk mencegah jatuh karena terpeleset.

2. Pemilihan raket yang tepat

Berat raket. Sesuaikan raket dengan kemampuan dan fisik tubuh. Raket dengan berat ringan dapat mengurangi risiko cedera bahu

Ukuran grip raket. Grip yang terlalu kecil menyebabkan pemain harus menggenggam lebih keras dan meningkatkan strain pada otot sekitar pergelangan tangan. Sedangkan grip yang terlalu besar juga membuat pemain tidak leluasa menggerakkan raket.

3. Tension dari senar dan jenis senar

Intensitas permainan, sesuaikan dengan kondisi kesehatan dan usia. Melakukan rehabilitasi cedera olahraga sampai tuntas untuk meminimalisir cedera berulang adalah cara pencegahan sekunder yang sangat baik.

Tinggalkan Komentar