Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Ada Potensi Suap, KPK dan PPATK Diminta Pelototi Kinerja Timsus Polri

Senin, 15 Agu 2022 - 12:12 WIB
Kapolri Telusuri Sumber Duit Brigjen Hendra Kurniawan untuk Sewa Jet Pribadi
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kanan) didampingi Wakapolri yang juga Ketua Timsus Polri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono (kiri) berjalan sebelum memberikan keterangan pers terkait tersangka baru kasus dugaan penembakan Brigadir J di Mabes Polri, Jakarta, Foto: Antara

Pengacara keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak meminta KPK dan PPATK memelototi kinerja Timsus Polri. Keluarga khawatir Timsus Polri masuk angin dalam mengusut perkara yang turut menjerat Irjen Ferdy Sambo lantaran kuatnya potensi suap.

Kamaruddin menyebutkan, adanya pemberian amplop setebal 1 cm kepada tim asesmen LPSK ketika mendatangi kantor Divisi Propam Polri, awal kasus pembunuhan mencuat menandakan adanya potensi suap yang potensi dilakukan pihak Ferdy Sambo kepada sejumlah institusi. Dia menilai, selain KPK dan PPATK, jajaran TNI sebaiknya turut dilibatkan untuk memantau kinerja timsus.

“Karena uang itu terlalu besar dan diduga mengalir ke beberapa institusi. Jadi makanya saya bilang libatkan AD, AL, dan AU, Polri enggak bisa mengusut diri sendiri. Jangan-jangan mengalir juga (ke Polri),” kata Kamaruddin, di Jakarta, Senin (15/8/2022).

Menurutnya, pengusutan perkara pembunuhan Brigadir J masih terselubung misteri. Maka dibutuhkan komitmen dan konsistensi Timsus Polri yang dikepalai Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono.

Baca juga
25 Anggota Polri Terancam Pidana, Sembunyikan Alat Bukti Pembunuhan Brigadir J

“Libatkan PPATK dan KPK pasti cepat selesai. Ini kan penyuapan apalagi LPSK sudah mengaku, bagaimana dengan lembaga lainnya? Terima atau enggak suap, lalu dikembalikan atau diterima,” tuturnya.

LPSK diketahui memberi perlindungan darurat kepada Bharada Richard Eliezer alias Bharada E di Rutan Bareskrim Mabes Polri. LPSK bakal memproses permohonan saksi pelaku yang bekerja sama (justice collaborator) tamtama itu.

LPSK mengakui Bharada E turut berada dalam ancaman, apalagi yang bersangkutan mengakui bahwa Ferdy Sambo pelaku penembak pertama Brigadir J. Sementara Komnas HAM masih melakukan pengusutan dan belum berani menyimpulkan kasus dan rangkaian peristiwa penembakan.

Tinggalkan Komentar