Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Aipda Sofyan, Sosok Teladan yang Gugur Imbas Bom di Polsek Astana Anyar

Rabu, 07 Des 2022 - 22:28 WIB
Penulis : Aria Triyudha
Img 20221207 172110 - inilah.com
Jenazah Aiptu Anumerta Sofyan saat hendak dimakamkan di TPU Sukahaji, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (7/12/2022). (Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi)

Anggota polisi korban tewas bom bunuh diri di Markas Polsek Astana Anyar, Aipda Sofyan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukahaji, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), Rabu sore (7/12/2022).

Pemakaman melalui sebuah upacara yang digelar oleh Polrestabes Bandung sekitar pukul 17.00 WIB

“Atas nama negara, bangsa dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, dengan ini mempersembahkan kepada persada ibu pertiwi, jasad dan raga almarhum Sofyan, Aiptu Anumerta,” kata Inspektur Upacara Pemakaman AKBP Sutorih

Kasat Binmas Polrestabes Bandung itu menjelaskan, Aipda Sofyan wafat sekitar pukul 10.00 WIB di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Almarhum mengembuskan nafas terakhir sekitar dua jam setelah peristiwa bom bunuh diri di Mapolsek Astana Anyar.

AKBP Sutorih menilai kepergian Aipda Sofyan menjadi suri teladan tersendiri. Sebab, Aipda Sofyan meninggal saat kegiatan kedinasan.

“Darma bakti menjadi suri teladan bagi kita semua dan ruhnya mendapat tempat semestinya,” katanya.

Upacara pemakaman dihadiri oleh keluarga dan istri Aipda Sofyan. Istri Sofyan, Siti Sarah tidak kuasa menahan sedih atas kepergian suaminya. Perempuan itu tampak dirangkul oleh saudara-saudaranya karena begitu emosional.

Baca juga
Kunjungi Google di Singapura, Sandiaga Berencana Lanjutkan Kolaborasi

Aipda Sofyan meninggal di usia 41 tahun. Sebagaimana informasi beredar, dia menjadi korban saat menghalau pelaku bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Rabu pagi. Ketika itu, pelaku yang bernama Agus Sujarno alias Agus Muslim berupaya masuk ke areal Polsek Astana Anyar. Aipda Sofyan lalu mengadangnya. Namun, almarhum justru mendapat todongan pisau dari pelaku. Tanpa diduga, bom yang dibawa pelaku meledak. Ledakan bom itu melukai Aipda Sofyan.

Jarang Mengeluh

Seperti dikutip Antara, Aipda Sofyan merupakan personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Ia meninggalkan seorang istrid an tiga orang anak.

Sofyan yang berdomisili di Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, merupakan polisi yang lulus dari Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri tahun 2003. Dia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Baca juga
Kontroversi Lili Pintauli, dari Berbohong hingga Nonton MotoGP

Salman (45), kakak dari Sofyan, mengatakan korban merupakan pribadi yang jarang mengeluh. Dia mengaku justru dirinya yang justru lebih banyak mengeluh kepada Sofyan.

“Jadi, Sofyan yang menjadi polisi di antara lima bersaudara di keluarga kami. Sejak kecil Sofyan sudah bercita-cita menjadi polisi,” kata Salman.

Meskipun sang adik telah menjadi korban, Salman memastikan keluarganya tidak takut dengan adanya terorisme yang mengatasnamakan agama. Karena, Sofyan adalah sosok taat beragama dan menjadi teladan di keluarganya.

Sebelumnya, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Suntana mengatakan, ada 11 orang menjadi korban aksi bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung, Jabar, Rabu pagi sekitar pukul 08.20 WIB. Dari 11 orang ini, satu anggota polisi tewas, sedangkan 10 orang lainnya mengalami luka-luka. Adapun, pelaku bom bunuh diri tewas di lokasi.

Pernah Ditangkap

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pelaku bom bunuh diri Polsek Astanaanyar, Agus Sujarno atau Agus Muslim pernah ditangkap karena terlibat peristiwa bom Cicendo tahun 2017.

Baca juga
Final Liga Champions: Gol Vinicius Junior antar Real Madrid Juara UCL Ke-14 Kalinya

“Sempat dihukum empat tahun. Bulan September atau Oktober 2021 yang bersangkutan bebas. Tentunya kegiatan yang bersangkutan kami ikuti,” kata Listyo  dalam konferensi pers di Bandung, Jawa Barat.

Agus Muslim juga teridentifikasi berafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Listyo Sigit menjelaskan, identifikasi itu diperoleh melalui pemeriksaan sidik jari dan pengenalan wajah (face recognition). Kelompok JAD yang diikuti Agus Muslim, kata Listyo menambahkan, berbasis di Bandung, Jabar.

Agus Muslim menjalani penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun, saat bebas, lanjut Listyo, Agus Muslim masih terkategori “merah”.

“Yang bersangkutan masih susah diajak berbicara, cenderung menghindar, walaupun sudah melaksanakan aktivitas,” ujar Listyo menambahkan.

Tinggalkan Komentar