Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Air Mata Roger Federer Tumpah di Laga Penutup Karier

Sabtu, 24 Sep 2022 - 14:50 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Roger Federer melambaikan tangan kepada para penggemar setelah pertandingan terakhirnya dan awal masa pensiunnya di Laver Cup di The O2 Arena pada 23 September 2022 di London, Inggris. (Foto: Gettyimages)
Roger Federer melambaikan tangan kepada para penggemar setelah pertandingan terakhirnya dan awal masa pensiunnya di Laver Cup di The O2 Arena pada 23 September 2022 di London, Inggris. (Foto: Gettyimages)

24 tahun setelah kalah pada babak pertama turnamen ATP Gstaad, Swiss, Roger Federer akhirnya menutup karier di arena tenis profesional. Laga terakhirnya sejak mengangkat raket pada usia tiga tahun ini dijalani dalam duet bersama rival yang juga sahabatnya, Rafael Nadal, dalam hari pertama Kejuaraan Piala Laver.

Federer untuk terakhir kalinya melakukan persiapan dengan memasang grip raket, mengikat tali sepatu, dan bandana untuk melawan Frances Tiafoe/Jack Sock dalam kejuaraan beregu Piala Laver di O2 Arena, London, Inggris, Jumat (23/9/2022) malam waktu setempat atau Sabtu dini hari waktu Indonesia. Sebelum menuju lapangan, dia memeluk erat Severin Luthi, pelatihnya sejak 2007.

Dia tiba di O2 Arena untuk menjalani pertandingan sesi malam bersama Nadal dalam satu mobil. Dalam perjalanan itu, Federer melakukan live Instagram, mengatakan bahwa dia akan menjalani pertandingan yang emosional.

“Kami akan menonton pertandingan Andy (Murray) dulu. Saya akan melakukan yang terbaik, tetapi tidak akan melakukan pemanasan terlalu lama, mungkin 15 menit. Biar Rafa yang mengatasinya,”candanya.

Saat tiba waktunya bermain, dalam perjalanan dari ruang ganti menuju lapangan, Federer bersalaman dengan semua anggota Tim Eropa yang bergabung bersamanya, yaitu Nadal, Novak Djokovic, Andy Murray, Stefanos Tsitsipas, Casper Ruud, Matteo Berrettini serta kapten tim dan wakilnya, Bjorn Borg dan Thomas Enqvist.

Gettyimages 1426687649 612x612 - inilah.com
Gettyimages

Federer, juga, menyalami Tim Dunia yang dijumpainya di luar ruang ganti, diantaranya Sock, Tiafoe, Diego Schwartzman, serta John dan Patrick McEnroe sebagai kapten dan wakil kapten tim. Format Piala Laver, yang digagas Federer dan tim manajemennya sejak 2017, terinspirasi dari kejuaraan golf Piala Ryder yang mempertemukan Tim Eropa dan Amerika Serikat.

Raut wajah Federer terlihat tegang saat memasuki lapangan, namun dia sangat menikmati pertandingan itu. Penampilan bersama Nadal selalu diwarnai tawa, termasuk saat melakukan unforced error. Mereka juga tertawa ketika membahas pukulan tertentu bersama anggota tim yang lain saat change over.

Baca juga
Prestasi, Jiwa Kepemimpinan, dan Takdir Anies Menjadi Pemimpin
Gettyimages 1426746970 612x612 - inilah.com
Gettyimages

Meski lebih fokus pada nomor tunggal dalam karier masing-masing, duet Federer/Nadal memperlihatkan atraksi-atraksi yang menarik. Federer lebih jeli dalam menjaga area di net, sementara Nadal solid di baseline. Namun, mereka akihirnya kalah dalam laga ketat 6-4, 6-7 (2), 9-11.

Ini menjadi duet untuk kedua kalinya Federer dan Nadal dalam Piala Laver. Momen pertama terjadi dalam penyelenggaraan pertama pada 2017 di Praha, Ceko. Sejak saat itulah muncul julukan “Fedal” dari penggemar Federer dan Nadal.

Hasil dari nomor ganda itu membuat skor Tim Eropa dan Tim AS imbang 2-2, pada hari pertama. Setiap kemenangan di hari pembuka ini menghasilkan satu poin, diikuti dua poin pada hari kedua dan tiga poin pada hari ketiga. Tim yang meraih 13 poin adalah tim pemenang.

Tim Eropa membuka persaingan dengan kemenangan petenis nomor dua dunia, Ruud, atas Sock dengan skor 6-4, 5-7, 10-7. Keunggulan Tim Eropa bertambah setelah Tsitsipas menang atas Schwartzman 6-2, 6-1.

Pada sesi malam, sebelum Federer/Nadal, tampil, Tim Eropa kehilangan angka ketika petenis tuan rumah, Andy Murray, kalah dari Alex de Minaur dengan skor 7-5, 3-6, 7-10. Ini menjadi partisipasi pertama Murray dalam Piala Laver.

Laga emosional

Di luar hasil yang didapat kedua tim, ada momen yang lebih bermakna bagi semua yang hadir di O2 Arena dan komunitas tenis dunia dari hari pertama Piala Laver. Setelah bermain bersama Nadal, Federer resmi mengakhiri kariernya sebagai petenis profesional yang dimulai pada 1998. Dia memeluk Nadal, Tiafoe, dan Sock sambil mengucapkan terima kasih.

Baca juga
Bursa Saham Semringah dengan Pemangkasan Suku Bunga di Negeri Panda
Gettyimages 1426746940 612x612 - inilah.com
Gettyimages

Momen emosional yang mewarnai perpisahan, tak terelakkan terjadi. Air mata Federer tumpah  ketika memeluk anggota timnya satu per satu. Demikian pula dengan Nadal, salah satu orang yang diajak diskusi oleh Federer mengenai rencana pensiunnya. Nadal, bahkan, menangis pada sepanjang acara setelah pertandingan.

Federer juga tak dapat menahan air matanya ketika mengucapkan terima kasih pada penonton sambil berdiri di tengah lapangan. Sosok yang biasanya menjawab pertanyaan dengan cepat dan diiringi canda setiap diwawancara seusai pertandingan, kali ini, berkali-kali menghentikan pernyataannya karena menangis atau menarik nafas panjang ketika diwawancara Jim Courier.

Gettyimages 1426755528 612x612 - inilah.com
Gettyimages

Dia tersedu-sedu saat menyatakan rasa senang bisa didampingi petenis yang selama ini menjadi lawan di lapangan. Tangisnya, bahkan, menghentikan komentarnya ketika berterima kasih pada Mirka dan orang tuanya.

“Istri saya adalah orang yang luar yang selalu mendukung saya,” katanya, lalu menangis sambil membungkukkan badan.

Saya jadi merasakan momen ini sebagai perayaan. Terlalu banyak orang yang harus saya beri ucapan terima kasih.

“Saya menikmati semua yang terjadi pada hari ini karena ada teman-teman dan keluarga, sehingga tidak terlalu stres meski akan ada yang saya tinggalkan. Saya jadi merasakan momen ini sebagai perayaan. Terlalu banyak orang yang harus saya beri ucapan terima kasih,” kata Federer yang masih akan mendukung rekan-rekannya bertanding hingga 25 September.

Dia meninggalkan dunia yang dicintainya itu dengan 103 gelar juara, 20 diantaranya dari arena Grand Slam. Keistimewaannya dalam bergerak dengan efektif dan indah membuatnya bagai penari saat di lapangan. Keindahan gerakannya membuat Federer mendapat julukan “maestro” dari sekian banyak julukan yang diberikan padanya.

Baca juga
Anggota Komisi Hukum DPR Dukung Oknum Guru Perkosa Santriwati Dihukum Kebiri
Gettyimages 1426731591 612x612 - inilah.com
Gettyimages 

Sementara, pengaruh yang diberikannya di luar lapangan, terutama dalam kegiatan sosial dan bisnis olahraga, membuat Federer dikenal sebagai ikon global. Dia menjadi duta UNICEF, memiliki yayasan yang berfokus pada pendidikan anak-anak di Afrika Selatan, serta menjadi petenis paling marketable (menjual).

Meski tak bertanding sejak Wimbledon 2021, Federer menjadi petenis dengan penghasilan tertinggi pada Juni 2021-Juni 2022 versi majalah keuangan, Forbes. Total penghasilnnya dalam periode tersebut Rp 1,37 triliun dengan 99 persen diantaranya dari sponsor, iklan, dan kegiatan pemasaran.

Tak heran, di luar Djokovic, Nadal, dan Murray, petenis lain merasa gugup saat bertanding dalam momen spesial bagi Federer dengan segala reputasinya. Ruud bercerita bahwa dia selalu sungkan untuk bergabung ketika “Big Four” bercanda.

“Saya hanya mendengarkan mereka dari jauh. Namun, tentu saya senang menjadi bagian dari Piala Laver, meski saya juga gugup tampil di hadapan penonton dan teman-teman satu tim. Apalagi, dalam momen spesial seperti ini,” kata Ruud.

Tsitsipas berterima kasih pada Federer yang telah memberinya inspirasi. “Momen dalam Piala Laver ini tidak mungkin saya dapat jika Roger tak memberi kesempatan pada saya untuk bermimpi. Saya mencintaimu dengan segenap hati,” kata petenis Yunani tersebut.

Tinggalkan Komentar