Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Airlangga Dinilai Capres yang Tepat Sudahi Politik Identitas

Airlangga Dinilai Capres yang Tepat Sudahi Politik Identitas
Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto

Koordinator Nasional Sahabat Airlangga, Deden Nasihin, menyatakan bahwa Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto merupakan sosok tepat untuk menjadi presiden 2024. Salah satu alasannya adalah Airlangga tidak terkait dengan stigmatisasi politik yang ada saat ini seperti kadrun, kampret atau cebong.

“Sesungguhnya kita mengusung Pak Airlangga beliau merupakan sosok yang paling tepat untuk menggantikan Pak Jokowi karena beliau tidak berada dalam stigma itu semua,” kata Deden saat dihubungi, Selasa (10/5/2022).

Deden mengatakan Golkar adalah partai moderat. Oleh karena itu, mereka berdiri di atas semua suku agama dan golongan. “Kita Indonesia,” tegasnya.

Baca juga
Ketika Anies dan Ridwan Kamil Sparing di JIS, Warganet: Presiden dan Wapres 2024

Dia mengaku sebenarnya tidak menganggap adanya polarisasi kadrun melawan cebong atau kampret. Alasannya, jika suatu pihak mengusung demokrasi yang berkeadaban, tentunya politik identitas dan apapun namanya yang menyeeret kepada politik yang tidak bermartabat harus diselesaikan.

“Kita sudahi untuk menuju Indonesia yang lebih maju tentunya,” kata Deden.

Deden menambahkan sejauh ini, pihaknya fokus mensosialisasikan sosok Airlangga kepada berbagai lapisan masayarakat. Langkahnya dengan mengenalkannya dengan narasi-narasi yang jauh dari stigma-stigma tersebut sehingga harapannya terhindar dari polarisasi itu.

Sementara itu, strategi agar terlepas dari polarisasi yang ada yaitu dia menjelaskan bahwa Airlangga sosok yang akan mampu membawa kemajuan, kesejahteraan, masyarakat Indonesia.

Baca juga
Semarang PPKM Level 1, Bupati Apresiasi Keberhasilan Vaksinasi

“Masyarakat berbagai lapisan, milenial, tua muda kita ajak untuk berbuat sesuatu yang postif untuk bangsa ini barsama Pak Airlangga, dan meyakinkan bahwa harapan itu masih ada. Kita sebagai bangsa tidak boleh pesimis. Tidak boleh terjebak dari polarisasi yang saat ini sudah terbentuk (kalau memang itu faktanya ada),” tutur dia.

Tinggalkan Komentar