Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Airlangga Tekankan Kolaborasi untuk Capai Target Sektor Migas

Jumat, 25 Nov 2022 - 00:05 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
Airlangga Tekankan Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan untuk Capai Target Migas
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto secara virtual dalam acara 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas 2022 yang diselenggarakan oleh SKK Migas, Kamis (24/11/2022) - (Foto: Dok-ekon.go.id)

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara the bright spot in the dark dalam perekonomian global.

Sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2022 mampu mencatatkan kinerja impresif sebesar 5,72 persen year on year (yoy). Selain itu tingkat inflasi Indonesia juga turun menjadi ke 5,71 persen (yoy) di bulan Oktober 2022.

“Secara spasial, pertumbuhan Indonesia juga membaik. Yang tertinggi yakni wilayah Sulawesi (8,24%), Maluku dan Papua (7,51%), kemudian diikuti oleh Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Di Sulawesi, Maluku, dan Papua, didorong oleh harga mineral yang tinggi,” kata Airlangga Hartarto secara virtual dalam acara 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas 2022 yang diselenggarakan oleh SKK Migas, Kamis (24/11/2022).

Airlangga juga mengapresiasi para pelaku usaha serta Kementerian/Lembaga terkait yang telah berpartisipasi secara aktif dalam industri hulu minyak dan gas. Sehingga pertemuan 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas 2022 diharapkan dapat meningkatkan awareness dan sinergi antar para pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan investasi dan dukungan untuk pencapaian target produksi minyak 1 juta BOPD (Barrel Oil Per Day) dan gas bumi 12 BSCFD (Billion Standard Cubic Feet Per Day).

Baca juga
Daya Beli Menguat, Ekonom Bank Mandiri Yakin Pertumbuhan Ekonomi 2022 di Atas 5 Persen

Airlangga mengatakan peningkatan produksi migas di dalam negeri merupakan cita-cita bersama sehingga SKK Migas perlu melakukan langkah- langkah tertentu. Kebutuhan terhadap insentif dan fasilitas, baik fiskal dan non fiskal juga perlu dibahas bersama antar para pemangku kepentingan, melihat beberapa proyek, termasuk Proyek Kilang Gas Alam Cair (LNG) Masela di Maluku, yang juga mengalami kelambatan.

“Target tersebut sangat berpengaruh terhadap penerimaan negara dan juga terhadap ekspor Indonesia. Sekarang ini ekspor Indonesia neracanya positif, namun neraca perdagangan migas secara bulanan negatif,” ungkap Menko Airlangga.

Dia mengatakan tantangan tersebut merupakan keniscayaan yang harus dihadapi bersama agar investasi di bidang industri hulu migas tetap berjalan secara kondusif. Kolaborasi antar pemangku kepentingan diharapkan bisa lebih baik lagi agar target-target yang telah dicanangkan dapat tercapai.

Baca juga
Kartu Prakerja Gelombang 37 Kembali Dibuka, Airlangga: Siapapun Bisa Daftar

Kemudian, Menko Airlangga juga menjelaskan terkait KTT G20 yang telah menghasilkan G20 Bali Leader’s Declaration yang merupakan kesepakatan kerja sama para Kepala Negara di berbagai bidang, salah satunya transisi energi, terutama dengan menerapkan kebijakan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Proyek kerja sama yang telah diinisiasi antara lain mencakup Carbon Capture, Utilization and Storage, serta Carbon Capture and Storage (CCUS-CCS), Capacity Building Program in Renewable Energy, Climate Finance Leadership Initiative, Green Hydrogen Initiatives, Climate Investment Fund. Selain itu, pada KTT G20 juga telah disepakati arah transisi energi.

Menko Airlangga mengatakan di tengah situasi geopolitik yang masih tidak menentu, terutama perang Rusia-Ukrania yang belum berakhir, pelaksanaan transisi energi tidaklah mudah. Hal tersebut dilihat dari fluktuasi dan tingginya harga energi, terutama gas, termasuk harga BBM di Indonesia.

Baca juga
Airlangga Serukan Seluruh Kader Golkar Pasang Baliho dan Aktif Medsos

Lebih lanjut Menko Airlangga menyampaikan bahwa berbagai hal dapat menjadi faktor pendorong terhadap percepatan pelaksanaan transisi energi seperti penetrasi energi terbarukan di dalam bauran energi, peningkatan teknologi penyimpanan energi, serta dukungan Pemerintah dalam pemberian fasilitas dan insentif terhadap berbagai upaya percepatan transisi energi.

“Pada KTT G20, telah disepakati arah transisi energi yaitu mengubah dan mendiversifikasi sistem energi dengan cepat, memajukan keamanan dan ketahanan energi serta stabilitas pasar, dan mempercepat dan memastikan transisi energi yang bersih, berkelanjutan, adil, terjangkau, dan inklusif serta aliran investasi berkelanjutan,” pungkas Menko Airlangga.

Tinggalkan Komentar