Selasa, 28 Juni 2022
28 Dzul Qa'dah 1443

Akibat Perang Rusia-Ukraina Harga Mie Instan di Indonesia Bakal Naik Lagi

Senin, 23 Mei 2022 - 19:40 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
Akibat Perang Rusia-Ukraina Harga Mie Instan di Indonesia Bakal Naik Lagi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Perang Rusia-Ukraina akan berdampak kepada naiknya harga mie instan. Sebab pasokan gandum ke Indonesia akan tersendat akibat konflik Rusia dan Ukraina, karena Indonesia masih mengimpor gandum yang menjadi bahan baku mie instan dari Ukraina.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, perang kedua negara tersebut berpotensi menghambat pasokan gandum. Sebab 40 persen pasokan gandum nasional masih impor dari Ukraina.

“Dampaknya akan terasa pada pasokan gandum. Kami mengimpor 40% gandum dari Ukraina,” kata Airlangga saat memberikan sambutan pada pembukaan Paviliun Indonesia dalam World Economic Forum 2022 di Davos, Swiss dalam tayangan virtual, Senin (23/5/2022).

Baca juga
Menko Airlangga Ajak Qualcomm Investasi Jaringan 5G di Indonesia

Dia mengatakan, terganggunya pasokan gandum nasional akan berdampak kepada naiknya harga mie instan. Padahal mie instan sendiri menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia.

“Ini memberikan efek ke perusahaan mie instan. Bisa saja perusahaan mie instan menaikkan harga produknya. Akan ada inflasi terjadi pada mie instan, dalam 3 tahun terakhir inflasi 0%,” ungkap Airlangga.

Meski begitu, Airlangga meminta semua pihak tidak mengkhawatirkan soal stok gandum, karena ketersediaan stok dalam negeri masih mencukupi hingga September 2022.

Airlangga mengungkapkan kondisi perekonomian global saat ini menajdi ancaman inflasi pada harga pangan. Sehingga banyak makanan yang harganya naik hampir di seluruh negara.

Baca juga
Elektabilitas Airlangga Lebih Tinggi daripada Prabowo Jelang Pilpres 2024

Keniakkan harga pangan dan makanan di Indonesia tidak terlalu besar ketimbang di beberapa negara lain. Bahkan selama tiga tahun terakhir Indonesia berhasil membentuk swasembada pada komoditas beras. Semua kebutuhan dipenuhi dari produksi lokal tanpa impor.

“Beruntungnya, dalam 3 tahun terakhir kami bisa melakukan swasembada pada beras. Semua kebutuhan dipenuhi secara lokal,” ungkap Airlangga.[inu]

Tinggalkan Komentar