Rabu, 29 Juni 2022
29 1444

Akselerasi Penyaluran Kredit Dongkrak Jumlah Uang Beredar 13,6 Persen

Jumat, 27 Mei 2022 - 16:17 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Akselerasi Penyaluran Kredit Dongkrak Jumlah Uang Beredar 13,6 Persen - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada April 2022 tumbuh 13,6 persen. Posisi ini ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Menurut laporan Bank Indonesia (BI), hal itu terdorong oleh berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit.

“Posisi M2 pada April 2022 tercatat sebesar Rp7.911,3 triliun atau tumbuh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan pada Maret 2022 yang tercatat sebesar 13,3 persen (yoy),” ungkap Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (27/5/2022).

Erwin menjelaskan perkembangan tersebut terdorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 20,8 persen (yoy) dan surat berharga selain saham sebesar 59,3 persen (yoy).

Baca juga
Kabar Baik dari BI, Bisnis Siap Tancap Gas di Triwulan I-2022

Peningkatan pertumbuhan M2 pada April 2022 terutama terpengaruh oleh berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit, yang pada April 2022 tumbuh 8,8 persen (yoy) atau meningkat ketimbang pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen (yoy).

Akselerasi pertumbuhan kredit bersumber baik dari golongan debitur korporasi maupun perorangan.

Berdasarkan jenis penggunaan, ia menuturkan peningkatan penyaluran kredit pada April 2022 juga terjadi pada seluruh jenis penggunaan.

Sementara ituĀ ekspansi keuangan pemerintah melambat, yang tercermin dari pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 22,3 persen (yoy) atau lebih rendah ketimbang pertumbuhan pada bulan Maret 2022 sebesar 27,9 persen (yoy).

Baca juga
RI Turun Kelas Jadi Negara Menengah Bawah, Alvin Lie Heran BI Salahkan Pandemi

Kondisi tersebut disebabkan oleh perlambatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat berupa kepemilikan surat berharga negara serta naiknya kewajiban berupa simpanan pemerintah pusat pada sistem moneter.

Di sisi lain, Erwin menyebutkan aktiva luar negeri bersih terkontraksi 4,4 persen (yoy), yang merupakan kontraksi lebih dalam ketimbang bulan sebelumnya yang turun 1,5 persen (yoy).

Tinggalkan Komentar