Minggu, 03 Juli 2022
04 Dzul Hijjah 1443

Alfred Nainggolan: Kenaikan IHSG akan Jauh Lebih Besar ke Depannya

Senin, 30 Mei 2022 - 04:20 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Alfred Nainggolan: IHSG Berpeluang Naik Tajam ke Depannya - inilah.com
Foto: Inilah.com/Didik Setiawan

Setelah mengalami kenaikan tajam akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami kenaikan tajam pada perdagangan di hari-hari berikutnya. Namun, indeks harus menutup gap 7.155-7175 terlebih dahulu sebelum ke 7.200. Inilah saham-saham pilihannya.

“IHSG kemungkinan akan menutup gap di kisaran 7.155-7.175 terlebih dahulu yang menjadi target resistance. Karena Jumat lalu naik signifikan, indeks berpeluang kenaikan ke depannya akan jauh lebih besar,” kata Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Kapital kepada Inilah.com melalui sambungan telepon di Jakarta, Jumat (27/5/2022).

IHSG ditutup menguat 142,75 poin atau 2,07 persen ke posisi 7.026,26. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 22,42 poin atau 2,22 persen ke posisi 1.031,93.

Berikut ini petikan lengkap wawancaranya:

IHSG berakhir menguat signifikan. Apakah fenomena sell in May and go away sudah berakhir?

Kalau saya sih memang belum melihat confirmed adanya mitos sell in May and go away ya. Sebab, saya melihat bahwa secara historis, return IHSG di bulan Mei itu masih bergerak acak. Artinya, tidak selalu punya return yang negatif di bulan tersebut. Kecuali untuk December Effect, saya masih percaya.

Secara statistik dalam 20 tahun terakhir, hampir bisa dikatakan return IHSG di Desember itu positif. Jadi, bisa masalah sell in May and go away, saya masih melihat itu belum menjadi sebuah fenomena musiman. Artinya, indeks akan sangat tergantung pada kondisi Mei yang memengaruhi IHSG di tahun tersebut.

Lantas, faktor apa yang memengaruhi IHSG yang sempat anjlok signifikan di awal bulan Mei 2022 pasca-Lebaran?

Kita melihat, Mei 2022 memang IHSG mengalami koreksi dalam. Itu terjadi karena kenaikan suku bunga acuan The Fed di awal bulan saat pelaku pasar libur Idulfitri 2022. The Fed melakukan rapat untuk menaikkan suku bunga signifikan hingga 50 basis poin.

Dalam pernyataannya, The Fed bahkan masih memungkinkan menaikkan di bulan Juni 2022. Karena itu, kenaikannya menjadi cukup signifikan dan ini memberikan respons yang surprise di pasar. Secara teoretis kenaikan suku bunga memang menjadi sentimen negatif dan itu jadi pengoreksi turun bursa saham.

Dengan penguatan signifikan di akhir pekan lalu, apa artinya?

Kalau kita lihat hari ini (Jumat, 27/5/2022), bisa dibilang indeks cukup kuat. Ya enggak bisa kita pungkiri juga karena pasar melihat kondisi rupiah kita. Salah satu indikator yang cukup kuat untuk melihat dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap ekonomi kita adalah rupiah.

Dengan The Fed menaikkan suku bunga acuannya secara signifikan sementara Bank Indonesia masih percaya diri mempertahankan suku bunga acuannya, harusnya ini berpengaruh terhadap rupiah atau melemahkan rupiah. Akan tetapi, ternyata rupiah masih cukup kuat di 14.600-an.

Baca juga
Foto: Ketersediaan Tiket Kereta Api Mudik Lebaran 2022

Saya melihat dampak koreksinya ke rupiah tidak terlalu kuat sehingga membuat pasar mulai percaya diri. Artinya, tekanan terhadap ekonomi kita yang diukur dari rupiah masih tidak terlalu cukup signifikan. Confident kita terhadap makro ekonomi cukup kuat.

Apa yang membuat rupiah begitu kuat di tengah tren kenaikan suku bunga global?

Jika dibandingkan dengan global, Indonesia punya daya tahan yang lebih kuat ketimbang negara-negara lain. Ini juga saya melihat investor asing sudah mulai kembali berposisi net buy. Saya melihat skenarionya seperti itu.

Jadi bukan faktor anomali atau musiman sell in May and go away?

Bukan! Bukan faktor anomali atau musiman sell in may and go away. Tapi, karena faktor yang bisa dijelaskan pada saat ini mengapa di awal Mei IHSG turun signifikan dan dua hari terakhir mulai recovery kembali mencapai level psikologis 7.000.

Jadi, net buy asing dan tekanan negatif dari kenaikan suku bunga The Fed terhadap nilai tukar rupiah yang tidak terlalu besar menjadi pendorong penguatan IHSG.

Bagaimana dengan ancaman inflasi yang menjadi alasan bank-bank sentral menaikkan suku bunga acuan mereka?

Kenaikan inflasi memang menjadi pertimbangan terbesar The Fed bank sentral lainnya untuk menaikkan suku bunga acuan. Pemicunya adalah kenaikan harga-harga komoditas. Tentu komoditas ini juga akan menaikkan inflasi Indonesia.

Meski begitu, kita tetap mendapatkan sisi positifnya. Itu juga yang membuat kenapa bahwa kenaikan harga komoditas yang dari sisi negatifnya menaikkan inflasi berimbas pada kenaikan suku bunga The Fed, tapi dari sisi kita (Indonesia) mendapatkan keuntungan. Sebab, kita negara penghasil sumber daya alam. Jadi, kita diuntungkan. Ini terbukti dengan neraca perdagangan kita yang bagus.

Bukankah inflasi akan menggerus pendapatan warga negara dan pada akhirnya mengganggu pertumbuhan ekonomi?

Yang tadi, inflasi ditakutkan memang jadi ‘hantu’ untuk pertumbuhan ekonomi. Inflasi berdampak pada kenaikan suku bunga yang berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Kalau di kita (Indonesia) dilihat bahwa terbukti pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat.

Ini juga yang membuat confident bukan hanya investor domestik tapi juga asing bahwa pertumbuhan ekonomi RI masih terus recovery, growth-nya masih lebih tinggi dibandingkan 2021. Artinya memang pemulihannya terus berjalan.

Sementara di beberapa negara bahkan institusi internasional banyak melakukan pemangkasan pertumbuhan ekonomi. Itu karena adanya kenaikan suku bunga yang signifikan cepat oleh bank-bank sentral besar termasuk AS.

Jika inflasi tak menjadi concern, apalagi stagflasi?

Stagflasi adalah kondisi di mana inflasi lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi. Pendapatan naik 5% tapi ternyata harga barang yang kita beli naik 10% sehingga keniakan pendapatan menjadi tidak berarti. Itu sama dengan pertumbuhan ekonomi lebih kecil ketimbang inflasi secara global.

Baca juga
KPU Catat 21 Partai Politik Sudah Miliki Akun Sipol, Ini Rinciannya

Itu karena kenaikan harga komoditas memang berimbas negatif untuk kebanyakan negara. Dari sisi kita berbeda karena komoditas Indonesia memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Meski harga komoditas berimbas pada kenaikan inflasi, tapi ini berimbas juga pada pertumbuhan ekonomi. Inilah yang menjadi pembeda kita ketimbang negara-negara lain yang tidak memiliki basis komoditas yang kuat sebagai sumber penghasilan negaranya.

Pembeda inilah yang menjadi daya tarik yang kuat bagi invstor terutama asing. Saya optimistis ini akan terefleksi di pasar saham kita di mana net buy asing masih akan berlanjut ke depannya.

Dengan begitu, Anda optimistis dengan kinerja emiten di kuartal II 2022?

Dengan kondisi itu, investor melihat bahwa pertumbuhan emiten kita juga cukup bagus tahun ini. Beberapa emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan kuartal I-2022 cukup bagus. Ini menjadi daya tarik di tengah pertumbuhan negara lain cenderung melambat bahkan turun.

Justru, kita masih menyisakan potensi untuk tumbuh lebih besar ketimbang 2021 Ini menurut saya yang menjelaskan kenaikan IHSG bisa rebound kembali di atas level psikologis 7.000.

Untuk kuartal II 2022 adalah dampak hari raya Idulfitri. Konsumsi masyarakat di hari raya ini naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ini akan memberikan sentimen positif bagi pasar. Saya optimistis angkanya akan sangat bagus untuk pertumbuhan ekonomi kita dan pertumbuhan emiten-emiten kita.

Kalau begitu, bagaimana arah level-level IHSG selanjutnya?

IHSG kemungkinan akan menutup gap di kisaran 7.155-7.175 terlebih dahulu yang menjadi target resistance. Karena Jumat lalu naik signifikan, indeks berpeluang kenaikan ke depannya akan jauh lebih besar.

Dalam 1-2 hari bisa saja ada profit taking, tapi ini lebih kepada technical correction. Ke depannya, bisa kembali ke 7.200. Sebelum ke level ini, indeks kemungkinan menutup gap tadi dulu. Di lain sisi, support IHSG berada di 6.970.

Saham-saham pilihan Anda?

Pelemahan tajam IHSG sebelumnya berdampak menyeluruh. Kenaikan harga komoditas memicu dampak negatif pada kenaikan harga bahan baku, seperti sektor konsumer yang masih banyak menggunakan bahan-bahan gandum impor dan sebagainya. Sehingga, itu memangkas margin mereka.

Kenaikan biaya engergi juga memangkas margin industri manufaktur. Ini jadi cencern untuk masalah pemilihan sektor saham. Tapi, manufaktur juga kita lihat ada yang bebasis komoditas atau sumber daya alam. Emiten-emiten yang berbasis komoditas masih cukup solid ke depannya.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Sesi Kedua Perdagangan

Begitu juga dengan sektor jasa, baik jasa keuangan maupun perbankan yang juga masih cukup bagus.

Spesifik saham-saham pilihan Anda di sektor komoditas?

Untuk saham-saham komoditas masih banyak yang murah. Untuk komoditas kita tidak hanya bicara masalah komoditas logam maupun energi, tapi juga komoditas pulp and paper yang mengalami kenaikan.

Emiten-emiten kertas performanya cukup bagus dan dari sisi harga sahamnya masih ada gap. Artinya, kenaikan harga komoditasnya belum priced in dengan harga sahamnya  yang terjadi.

Ini sudah kita lihat imbasnya di laporan keuangan mereka sudah terlihat bagus, tapi dari sisi harga sahamnya belum terlihat. Ini penyesuan yang dilihat oleh pasar terhadap emiten pulp and paper. Pilihannya ada saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang masih cukup murah.

Bagaimana dengan saham-saham di sektor keuangan dan perbankan?

Untuk jangka menengah dan panjang, saham-saham bank masih cukup oke. Karena saham-saham bank tier 1 sudah naik, tier 2 atau second liner boleh dilirik sama investor untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Pilihannya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Bagaimana strategi pada saham-saham tersebut?

Untuk short term hati-hati terhadap profit taking. Tapi, untuk jangka menengah tidak menjadi concern besar. Tinggal investor melihat mana saham-saham yang masih memiliki valuasi murah dan mana yang sudah mahal. Ini bisa menjadi pertimbangan yang cukup kuat dan bagus dengan melihat kondisi IHSG yang mulai mengalami rebound ini.

Sebab, masih banyak emiten-emiten yang valuasinya masih murah, single digit, yang price to earnings ratio (PER)-nya masih 5 kali atau 6 kali. Di bawah 10 kali pun masih cukup murah. Meski kenaikan IHSG relatif signifikan ketimbang bursa-bursa lainnya, masih banyak dijumpai emiten murah sehingga jadi pertimbagan bagi pelaku pasar saham mana yang menarik dan mana yang tidak.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Tinggalkan Komentar