Kamis, 09 Februari 2023
18 Rajab 1444

AMRO Teropong AS dan Eropa bakal Resesi pada Akhir 2023

Kamis, 06 Okt 2022 - 13:57 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
AMRO Teropong AS dan Eropa bakal Resesi pada Akhir 2023 - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Amerika Serikat (AS) dan Kawasan Eropa diproyeksikan akan mengalami resesi pada akhir tahun 2023 atau tepatnya dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Ramalan tersebut datang dari Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO).

Kemungkinan perkiraan tersebut semakin meningkat memasuki akhir tahun 2022, di mana pada awalnya di Juni 2022 kemungkinan resesi kedua wilayah tersebut belum mencapai 50 persen.

“Bahkan khusus untuk AS, risiko resesi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan meningkat hampir 80 persen, atau juga kemungkinan dengan Eropa,” ucap Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor dalam konferensi pers “Quarterly Update on ASEAN+3 Regional Economic Outlook 2022” secara daring di Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Baca juga
Gempa Maluku Hancurkan Belasan Rumah

Sejauh ini, kata dia, AS masih bertahan cukup baik meskipun baru-baru ini terdapat pelonggaran di pasar tenaga kerja.

Namun, Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed) bertekad untuk menurunkan tingkat inflasi sehingga terdapat kekhawatiran global atas kebijakan tersebut.

Krisis energi Eropa mendorong kawasan Eropa lebih dekat ke resesi, sementara pengetatan moneter agresif The Fed meningkatkan risiko hard landing atau kesulitan mengakhiri periode kelebihan permintaan dan inflasi tanpa memicu resesi.

Khor menyebutkan pasar memperkirakan suku bunga acuan Fed akan meningkat ke kisaran level 4,5 persen, dimana saat ini sudah berada dalam rentang 2,25 persen sampai 2,5 persen.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Selasa, 4 Oktober 2022

Dengan peningkatan kekhawatiran resesi di Negeri Paman Sam dan Kawasan Eropa, lanjutnya, permintaan aset aman seperti dolar AS pun meningkat. Implikasinya, mata uang regional ASEAN+3 telah melemah, dengan pasar saham jatuh dan biaya pinjaman meningkat lebih tinggi.

“Saya pikir ada aksi jual besar-besaran dalam pergerakan pasar di kawasan ASEAN+3. Ini seperti aset risiko pasar ekuitas dan tekanan pada solvabilitas di pasar negara berkembang karena terdapat arus modal keluar dan suku bunga domestik juga telah naik,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar