Kamis, 18 Agustus 2022
20 Muharram 1444

Analis PKR Bongkar Rumus Kemenaker yang Menyebut Upah Buruh Indonesia Mahal

Senin, 13 Des 2021 - 21:17 WIB
Demoburuhupah - inilah.com
Demo buruh tuntut kenaikan upah

Analis ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra mempertanyakan pernyataan Menteri Ketenagakerjaan Ida Faiziyah yang menyebut upah minimum buruh Indonesia ketinggian.

Dia mengkritisi indikator Kaitz Index yang digunakan Kemenaker sebagai alat untuk stigmatisasi mahalnya upah buruh Indonesia. Di mana, Kaitz Index merupakan perbandingan antara upah minimum dengan upah median, atau upah rata-rata. Kemenaker menyebut, nilai Kaitz Index upah buruh Indonesia lebih besar daripada 1.

Padahal, Kaitz Index dari upah buruh di negara-negara Eropa, berkisar 0,4 hingga 0,6. “Apakah benar Kaitz Index dari buruh Indonesia lebih besar daripada 1. Seperti didengungkan kemenaker,” ungkap Gede kepada Inilahcom, Jakarta, Senin (13/12/2021).

Merujuk laporan World Inequality Report 2022 yang diluncurkan UNDP yang membeberkan, rata-rata pendapatan orang Indonesia per bulan sebesar Rp5,7 juta. Sementara upah minimum ratarata nasional adalah Rp2,7 juta. “Jadi nilai Kaitz Index-nya, rasio dari upah minimum terhadap upah rata-rata, adalah Rp2,7 juta dibagi Rp5,7 juta. Hasilnya 0,47. Jadi kurang dari 1,” paparnya,

Artinya, kata Gede, berbasis data tersebut, nilai Kaitz Index upah buruh Indonesia sebenarnya masih sangat wajar. Angkanya bukan lebih dari 1, hanya 0,47, sama sekali tidak ketinggian. Sehingga upah minimum masih masih layak untuk naik.

Baca juga
Menaker Dukung WFH Cegah Kemacetan Arus Balik

Masih kata Gede, kebijakan upah buruh 2022 yang melahirkan penolakan dari kaum buruh, sejatinya memang merugikan. Upah buruh pada 2022 bukannya naik tetapi malah turun.

Klaim Kemenaker bahwa upah buruh Indonesia cukup tinggi, kata Gede, menjadi terbantahkan, mengacu kepada laporan UNDP itu. “Kenyataannya, berdasarkan PP 36 Tahun 2021, upah buruh hanya naik rata-rata 1,09 persen. jauh di bawah angka inflasi sebesar 1,5 persen. Artinya, era sekarang ini rezimnya upah murah,” papar Gede.

Namun, lanjutnya, ada pandangan bahwa Kaitz index dihitung dengan membandingkan upah median, bukan dengan upah rata-rata. Konsep statistik untuk rata-rata/mean dan median/nilai tengah sangat berbeda, sehingga sangat mungkin nilai median lebih tinggi dari rata-rata.

Baca juga
Upah Buruh 2022 Hanya Naik Recehan, Anak Buah Prabowo Kecam Menaker Ida

Karena BPS maupun UNDP tidak menerbitkan data upah median, kita akan gunakan data upah median Indonesia yang bersumber dari www.salaryexplorer.com, yaitu sebesar Rp11,4 juta per bulan. Jadi, nilai Kaitz Index-nya, rasio dari upah minimum terhadap upah median sama dengan Rp2,7 juta dibagi Rp11,4 juta, hasilnya 0,24. “Malah semakin rendah,” tegasnya.

Berdasarkan Laporan Ketimpangan Dunia 2022 yang diterbitkan United Nations Development Programme (UNDP) bersama Laboratorium Ketimpangan Dunia (World Inequality Lab), menyebutkan, rata-rata pendapatan dari populasi orang dewasa di Indonesia sebesar Rp69 juta per tahun, atau Rp5,7 juta per bulan.

Sedangkan 50 persen masyarakat terbawah, pendapatan reratanya lebih kecil lagi, sekitar Rp22,6 juta per tahun. Atau hanya Rp1,9 juta per bulan. Jauh di bawah masyarakat kelas atas yang jumlahnya hanya 10 persen. Penghasilan mereka Rp285 juta per tahun, atau Rp23,7 juta per bulan.

Baca juga
Seribu Buruh Bakal Geruduk Kantor Menaker Ida Hari Ini

Dia mempertanyakan PP No 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan yang menjadi landasan Menaker Ida Fauziyah menyusun upah buruh 2022. Di mana, upah buruh hanya naik rata-rata 1,09 persen. Masih di bawah angka inflasi sebesar 1,5 persen. “Jadi, sangat wajar apabila buruh menuntut kenaikan upah 2022 sebesar 10 hingga 15 persen,” pungkasnya.

 

 

 

Tinggalkan Komentar