Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Anda Ingin Hidup Bahagia? Ini Caranya

Jumat, 26 Agu 2022 - 20:42 WIB
Roda inilah.com
Roda Kehidupan

Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tidak ingin hidupnya bahagia. Segala kebutuhan terpenuhi baik jasmani maupun rohani. Hidup dihormati, disanjung, dan sebagainya. Pokoknya yang baik-baik ia dapatkan, yang membuat hati dan pikiran bisa bahagia.

Apakah semua orang bisa selalu hidup bahagia? Bukankah setiap orang punya masalah? Karena tidak ada manusia yang tak mendapat ujian dari Allah SWT.

Walhasil tidak ada orang di dunia ini yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Pasti ada masa di mana setiap orang dirundung masalah atau duka. Seperti kata peribahasa hidup seperti roda berputar: terkadang berada di atas terkadang di bawah.

Meski begitu, Allah SWT telah menunjukkan banyak cara untuk menggapai kebahagiaan. Dan, telah terbukti kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan harta, kemewahan, dan ketenaran.

Ada hal-hal lain yang bisa menjadikan seseorang bahagia. Bagaimana caranya?

Rasulullah SAW bersabda, “…manusia paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang Muslim atau menjauhkan kesusahan darinya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR Thabrani)

Baca juga
Meluruskan Kesalahpahaman: Kasar vs Tegas

Nabi SAW mengatakan, amalan menemani seorang Muslim untuk ia tunaikan kebutuhannya adalah amalan yang besar dan agung. Mengapa demikian? Karena, menolong orang lain, menghilangkan rasa laparnya, dan mengatasi kesulitannya merupakan amalan yang dicintai Allah.

Amalan tersebut akan memberikan pula kebahagian kepada para pelakunya. Ada seorang sahabat yang menemui Nabi. Sahabat ini mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya. Ia tidak merasakan kebahagiaan.

Nabi bersabda, “Jika engkau ingin hatimu lunak, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. (HR Ahmad).

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, apa hubungannya kebahagiaan dengan memberi makan orang miskin? Apa hubungannya kebahagiaan dengan mengusap kepala anak yatim? Apa hubungan hal ini dengan kelembutan hati dan kebahagiaan?

Baca juga
UAH: Lulusan SD Akhyar Akan Jadi Hafiz 30 Juz dan Diwisuda Imam Masjidil Haram

Dalam agama Islam ada sebuah prinsip, yaitu balasan itu sesuai amalan. Jika seorang hamba berusaha menyenangkan hati orang lain, memikirkan kesulitan yang dihadapi orang lain, Allah juga akan menyenangkan hatinya.

Kita menemukan sebagian orang berletih-letih dan bersusah payah pergi ke tempat jauh untuk membantu kaum Muslimin yang lain. Mereka tidak pernah merasakan keletihan, padahal itu pekerjaan yang sangat berat.

Mungkin, mereka tidak mendapatkan balasan sepeserpun di dunia, akan tetapi mengapa mereka bisa begitu betah melakukan itu semua? Karena, ada kebahagiaan yang mereka dapatkan. Karena itu, manusia paling berbahagia di muka bumi adalah Nabi Muhammad SAW.

Kenapa? Sebab, beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Ummul mukminin, Khadijah, juga pernah memuji sifat suaminya ini ketika Rasulullah merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama.

“Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan senatiasa mendukung kebenaran.” (HR Al-Bukhari 4572 dan Muslim 231).

Baca juga
Kapan Malam Lailatul Qadar 1443 H? Inilah Waktu dan Tanda-tandanya

Dalam hadis lainnya dikisahkan, ada seorang budak wanita yang masih kecil menarik tangan Nabi untuk menunaikan suatu keperluannya. Nabi membiarkan budak tersebut membawanya ke tempat yang ia inginkan. Mengapa ini semua Nabi SAW lakukan?

Sebab, beliau sangat ingin memasukkan kebahagiaan di hati orang lain. Rasulullah menjadi orang yang paling berkeinginan membahagiakan orang lain. Perbuatan mulia itu membuat Nabi menjelma menjadi orang paling berbahagia.

Sifat dan sikap Rasulullah SAW tersebut, sejatinya menjadikan kita umatnya mengikuti keteladanan beliau dalam memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allahumma sholli ala Muhammad.

Tinggalkan Komentar