Kamis, 01 Desember 2022
07 Jumadil Awwal 1444

Apem Yaa Qowiyyu Ki Ageng Gribig di Mata Airlangga Hartarto

Jumat, 16 Sep 2022 - 05:57 WIB
Penulis : inilah
Editor : Basuki Rahmat N.
Gunungan apem Yaa Qowiyyu Ki Ageng Gribig yang dibagikan kepada masyarakat dalam acara Saparan Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Kamis malam (15/9/2022). (Foto: Inilah.com/ Ridwan Anshori)
Gunungan apem Yaa Qowiyyu Ki Ageng Gribig yang dibagikan kepada masyarakat dalam acara Saparan Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Kamis malam (15/9/2022). (Foto: Inilah.com/ Ridwan Anshori)

Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto turut menghadiri acara zikir dan selawat dalam rangka Haul Ki Ageng Gribig yang digelar di Oro-oro Yaa Qowiyyu, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis malam (15/9/2022). Ketua Umum Partai Golkar ini tidak lain merupakan keturunan dari Ki Ageng Gribig, ulama besar pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593 – 1645), Raja Kesultanan Mataram.

Airlangga mengatakan, Ki Ageng Gribig dikenal masyarakat sebagai ulama besar yang memiliki strategi syiar Islam yang unik. Salah satunya dengan membagikan apem kepada kepada masyarakat sambil membacakan wirid Yaa Qowiyyu. “Tradisi itu hingga kini masih lestari, yang sampai sekarang dikenal sebagai apem Yaa Qowiyyu,” ungkapnya.

Dewan Penasihat Majelis Ahluh Hidayah ini menuturkan bahwa apa yang dilakukan Ki Ageng Gribig tersebut mengandung nilai-nilai luhur. Apa yang diajarkan Ki Ageng Gribig, termasuk tentang penganan apem ini mengandung dimensi kebudayaan dan religiusitas. “Karena menurut kami, apem punya nilai filosofi yang mendalam,” kata Airlangga.

Baca juga
Berdagang dengan Korsel, Menko Airlangga Ingin Genjot Menjadi US$20 Miliar

Airlangga menjelaskan, apem terdiri dari empat huruf yang memiliki makna mendalam. Dari huruf ‘A’ itu, yaitu Akar sejarah yang kuat, artinya punya tradisi dan budaya dalam menjaga warisan leluhur bangsa. Huruf ‘P’ berarti Persatuan dan kesatuan, yang bermakna menjaga kerukunan dan kebhinnekaan.

Kemudian huruf ‘E’ adalah Ekonomi kerakyatan, di mana pembangunan ekonomi harus ditujukan pada kemakmuran rakyat. “Acara haul ini juga menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar Jatinom dan sekitarnya,” kata Airlangga.

Huruf terakhir, yakni ‘M’ yang artinya Masyarakat maju dan berbudaya serta berakhlaqul karimah. Masyarakat yang maju, sejahtera, berbudaya serta berakhlak yang kuat merupakan sebuah cita-cita bangsa Indonesia. “Nilai-nilai filosofi Apem inilah yang menjadi garis perjuangan saya di mana saya berada, menjadi pedoman bagi saya dalam memegang teguh amanah yang diemban,” ungkap Airlangga.

Baca juga
Partai Golkar Unggul, Elektabilitas Airlangga Hartarto Terus Tinggi

Ia berharap, tradisi budaya berupa Saparan Ki Ageng Gribig ini akan terus lestari kelak di kemudian hari. Tak lupa Airlangga meminta doa dan dukungan agar keluarga besarnya tetap bisa menggelar tradisi Saparan ini seperti yang dilakukan sekarang ini.

“Alhamudlillah saya bersyukur kepada Allah SWT. Saya dan keluarga secara rutin mengadakan Haul Ki Ageng Gribig setiap di bulan Sapar. Ini adalah pesan dari orang tua, leluhur kami. Tidak ada unsur apapun kecuali hanya mengharap rida Allah SWT dan hormat terhadap leluhur kami,” tutur Airlangga.

Dalam acara zikir selawat dalam rangka memperingati Haul Ki Ageng Gribig ini dihadiri puluhan ribu orang dari Klaten dan sekitanya. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang bertindak memimpin zikir dan selawat ini. (Ridwan Anshori)

Tinggalkan Komentar